Lost in Your Eyes November 23, 2009
Posted by tantikris in poem.3 comments
After so many years, still I can see so much love shining in your eyes,
sparkling when you look at me even just a glance.
How grateful we have each other, wish it never be apart,
let this feeling stay forever ‘till death do us part.
* The candid pictures were taken at Temple of Heaven, Beijing, October 23, 2009
Lost in Classification November 9, 2009
Posted by tantikris in story.6 comments
Manusia sering membuat berbagai klasifikasi atau pengelompokan untuk beberapa hal dengan berbagai tujuan. Biasanya sih sesuatu dikelompokkan berdasarkan beberapa karakteristik utama yang menjadi ciri khasnya. Dalam perkembangannya kadang ada beberapa hal yang tidak terakomodasi dalam kriteria suatu klasifikasi jadi ditambahkan adanya beberapa kelompok baru untuk klasifikasi tersebut. Ada beberapa kelompok yang tampak menonjol dan mendapat perhatian, ada beberapa kelompok yang malah luput dari perhatian.
Di Bangkok aku menemukan sesuatu yang berkaitan dengan klasifikasi gender. Kalau selama ini secara universal dikenal pembagian gender adalah laki-laki dan perempuan, tapi disini aku menemukan sosok yang mestinya masuk kelompok gender laki-laki tetapi berpenampilan dan perilaku seperti perempuan. Apalah itu sebutannya, waria, banci, bences, bencong, transgender, transeksual, mereka kulihat tampak cantik dan gemulai, kadang bahkan lebih cantik dari perempuan asli.
Beberapa tahun lalu, aku sempat berfoto bersama salah seorang dari mereka setelah nonton cabaret show di Bangkok. Wah, aku kalah cantik, banget !!..hihihi… kalau nggak lihat jakun yang ada di lehernya, siapa mengira dia bukan perempuan tulen? Orang bilang Bangkok memang ‘surga’nya kaum transeksual untuk operasi atau mempercantik penampilannya. Kalau dulu mereka hanya kujumpai di tempat show kabaret, entah kenapa pada kunjungan kali ini rasanya makin banyak kujumpai mereka diberbagai tempat dan berbagai profesi, memunculkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa kusimpan dalam hati.
Pertanyaanku bermula dari apa status mereka yang tertulis di kartu identitasnya ya? Male? Female? Atau ada klasifikasi baru : shemale? Apakah mereka menderita dalam keadaannya yang tidak sesuai kodrat? Apakah mereka lebih berbahagia dengan operasi transeksual dan penampilan barunya, apa tidak ada masalah baru yang timbul karenanya baik fisik maupun psikis? Berapa banyak sih sebenarnya mereka itu, apakah benar jumlahnya bertambah banyak dari waktu ke waktu atau sebenarnya tetap saja tetapi mereka mulai eksis dalam berbagai sisi kehidupan? Seberapa jauh masyarakat sekitar menerima keberadaan mereka?
Lost in Translation November 3, 2009
Posted by tantikris in story.6 comments
Berbicara dan berkomunikasi dalam bahasa asing yang bukan bahasa ibu bukanlah hal yang mudah untuk sebagian besar orang. Salah menterjemahkan, bisa salah artinya, yang kadang-kadang bisa berakibat fatal. Tidak jarang pula, ada kata-kata yang sama tapi ternyata artinya bisa berbeda jauh.
Urusan dengan bahasa ini kualami dalam perjalanan kami ke Bangkok dan Beijing beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, dua negara tadi punya alfabet khusus dalam bahasa tulisnya, yang dua-duanya tidak kupahami. Belum lagi bahasa verbalnya yang buatku tidak saja asing dalam kata-katanya tapi juga nada pengucapannya (tentunya begitu pulalah mereka memandang kami bila sedang bicara bahasa Indonesia atau bahasa Jawa). Nah, tentu saja yang diandalkan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Saat berada di Bangkok, tidak terlalu masalah karena di sektor publik, relatif banyak orang yang menguasai bahasa Inggris, meskipun dengan aksen Thai yang kental, tidak heran karena kota ini adalah salah satu kota wisata dan bisnis yang terkenal di kawasan Asia. Tapi kami mengalami masalah waktu berada di Beijing yang dimulai sejak kedatangan pada waktu cek in di hotel.
Tidak ada masalah pada waktu kami menyodorkan print out reservasi via internet, paspor dan lain-lain, sang resepsionis hanya sedikit berkata-kata dan memeriksa reservasi kami di komputer. Masalah tiba waktu dia dengan terbata-bata berbicara -dalam bahasa Inggris beraksen Cina yang susah dipahami- bahwa kamar yang kami pesan tidak tersedia malam itu, baru bisa besok malam. Lho kok?
When Was The Last Time You…..? September 29, 2009
Posted by tantikris in poem.3 comments
Who help you grew up to be as you are today?
Who love you for no granted never ending day by day?
At the time you were exist their life turned into shift.
At the time you were born you were their precious gift.
By them you were delivered into this world.
They keep you protected from any harm in this hard world.
By them you were raised with all efforts without any groan.
They keep you directed so that you could stand by your own.
When you grew up they don’t sing you lullaby anymore,
but their pray for you keep continue more and more.
Wishing you all best thing for your goodness,
watching you succeed is their pride and happiness
They deserve to have respect and honor,
as a respond of what they have been doing.
Even they don’t expect it as an exchange,
how can you express your grateful love and caring?
There are many ways to show your love and attention.
Honor your parents could be done in several definitions.
Some people said it’s not the quantity you should mention
But it’s the quality you should pay attention
I will see it from one simple thing, which makes me ask and wondering :
When was the last time you spent your time with your mother?
When was the last time you spent your time with your father?
I mean really spent not just being together?
And how long does it takes do your time you spent together?
When was the last time I spent my time with my mother?
Just recently, the full seven days on my holiday
I look after her in her sickness condition all day.
A little bit ashame that actually it wasn’t something I intended to do
but regarding to some circumstances so no choice I have to do.
I look at it as a blessing in disguise so that we could spent our time together,
I’m grateful I have a chance to have a moment of being together
When was the last time I spent my time with my father?
Almost a year ago, for a week vacation when I come home to our hometown.
There was a time I remember when just the two of us went out to downtown.
We were so excited having our father-daughter moment,
so then I was thinking and planning to do it more often.
But unfortunately, my wish could not be achieved,
because at the end of the month he passed away and left me in grieve.
Our father-daughter moment that afternoon was our last precious time I will always remember,
it became a sweet memory that will last forever.
When was the last time you spent your time with your mother?
When was the last time you spent your time with your father?
It’s just a simple thing to show your honor.
Be grateful when you still have the time to do it.
Be joyful and be blessed when you have the chance to do it.
Honor you father and your mother, so that you may live long
in the land the LORD your God is giving you.
(The Fifth Commandments)
Kisah Si Monyet Kecil September 14, 2009
Posted by tantikris in story.3 comments
![Dora-boots-monkey[1] Dora-boots-monkey[1]](http://tantikris.files.wordpress.com/2009/09/dora-boots-monkey11.jpg?w=130&h=159)
Ini adalah gambar Boots, seekor monyet kecil berwarna biru sahabat Dora The Explorer. Monyet adalah primata yang memang akrab dengan manusia, mungkin karena kata Darwin punya garis kekerabatan?
Cerita yang akan kutulis ini sebenarnya sudah lama terjadi, lebih setahun yang lalu, bukan tentang Boots, ini tentang seekor monyet kecil disuatu tempat.
Tempat itu adalah salah satu tempat cuci mobil, lokasinya open air ditepi jalan, di ujung sebuah belokan. Tempatnya lumayan bersih, sumber airnya berupa beberapa kran air yang berjejer dan sebuah bak panjang, airnya terlihat jernih, mengalir deras dan lancar. Entah siapa yang mengelola tempat ini, meskipun usaha sederhana kelihatannya cukup dikelola dengan baik, mendayagunakan penduduk sekitar sebagai pekerjanya, boleh juga, daripada mereka nongkrong di terminal yang ada disekitar daerah itu.
Tempat ini menyatu dengan sebuah taman kota yang meskipun kecil tapi cukup rimbun, disitu ada bangku tempat duduk bersantai, yang sekaligus juga dimanfaatkan sebagai tempat tunggu oleh orang yang sedang mencucikan mobilnya. Diseberang jalan ada deretan warung, boleh juga kalau mau menunggu disitu sambil minum atau makan. Tempat ini buka sampai larut malam, tak heran kalau cukup banyak yang jadi langganannya.
Sesekali suamiku mencucikan mobil kami ditempat ini, seperti sore itu sepulang kerja, saat kebetulan kami berdua pulang bersama. Enak juga duduk di taman sore-sore, menikmati semilir angin dibawah rindangnya pohon, menyaksikan matahari senja saat beranjak ke peraduannya. Ditengah taman, dibelakang tempat kami duduk tampak sekelompok anak-anak bermain dengan riangnya. Aku membalikkan badan memperhatikan kelompok anak-anak tadi. Oh, ternyata mereka sedang bermain dengan seekor monyet. (more…)
Kapan Lagi Bilang I Love You September 8, 2009
Posted by tantikris in music.7 comments
Dalam perjalanan di siang yang terik tadi aku mendengarkan radio yang memutar sebuah lagu berirama slow, lumayan bikin adem suasana. Lagunya Dewi Sandra, terdengar mellow, padahal biasanya dia kan suka membawakan lagu dengan irama yang rancak, menari dengan lincah bersama para penari latarnya, tapi kali ini dia menyanyi lagu yang berirama slow, hmmm…ternyata boleh juga.
Lagunya sih tidak terlalu istimewa, tapi sejak awal perhatianku sudah tercuri oleh petikan gitar akustik yang manis, lantunan vokal yang terdengar membawakan lagu ini dengan sepenuh hati, mencurahkan apa yang ada dihatinya. Tatanan musik akustik minimalis mendukung kesan sepi dan sendu. Aku jadi tersentuh saat memperhatikan syairnya, ada rasa iba dan simpati seolah bisa merasakan kegundahannya. Uh, sad song, Coba dengarkan :
Pencuri !!! August 25, 2009
Posted by tantikris in reflection.10 comments
Berawal dari membaca status seorang teman di FB beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa Malaysia telah menodai bulan puasa dengan mengklaim tari pendet dari Bali sebagai budaya miliknya, diakhiri dengan ajakan ‘ganyang Malaysia’ reaksi spontanku adalah membelalakkan mata dan segera menulis komen yang merupakan komen pertama : “Hah? Tari Bali? Plissss deeh !!!’ .
Betapa tidak geram, ini bukan untuk kali pertama mereka mengklaim sesuatu dari budaya Indonesia sebagai budaya mereka. Baik, memang kita ini sesama rumpun Melayu, beberapa budaya dari Sumatra dan semenanjung Melayu mungkin ada beberapa kemiripannya, tapi ini tari Bali lho !! Dari segi geografis saja letaknya tidak dekat, dan semua orang tahu budaya Bali punya karakteristik khusus yang menjadi ciri khasnya dan itu sama sekali bukan budaya Melayu.
Beberapa hari kemudian mulailah ramai pemberitaan tentang hal itu. Setelah melihat iklannya di Discovery Channel dan selintas beberapa bahasan di berita televisi, aku mulai paham darimana polemik ini berasal. Masih sebel sih, apalagi saat mendengar pernyataan dari pihak mereka yang menyatakan bawa itu bukan pernyataan resmi pemerintahnya, bahwa iklan itu dibuat oleh pihak swasta. Udah gitu doang? So what?
Saat Lemah Tak Berdaya July 15, 2009
Posted by tantikris in poem.13 comments
Setelah senantiasa aktif dengan segala karya
adakalanya kau sadari tiba-tiba tubuhmu lemah tak berdaya
Jangankan bekerja, untuk berpikir saja kepala terasa berat
inginnya berkarya tapi tubuh terasa penat
Olala.. kenapa dengan diriku?
Aku tak berdaya padahal banyak tugas yang menantiku
Ada banyak hal yang harus kukerjakan
Ada banyak hal yang harus kupertanggungjawabkan
Betapa anehnya terbaring lemah pada jam kerja
saat dimana mestinya kau sibuk bekerja
Betapa sebalnya tidak bisa melakukan apa-apa
selain hanya diam tak mampu berbuat apa-apa

More Than Words June 25, 2009
Posted by tantikris in reflection.11 comments
Pernah ngitung nggak berapa jumlah kata yang kau ucapkan setiap harinya? Lima ribu? Seratus ribu? atau lebih? (..ah, siapa juga yang mau ngitung, kok keisengan amat…) Tiap kata yang kita ucapkan punya arti, kata-kata tersusun membentuk kalimat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Bayi mengucapkan kata-kata yang tanpa makna..eh, mungkin itu bukan kata-kata, cuma suara-suara aja sih ya, semakin dewasa semakin bertambah pulalah perbendaharaan kata-kata kita.
Meskipun perbendaharaan kata-kata sudah berambah banyak, tapi kadang apa yang ada dipikiran nggak mudah diungkapkan dalam kata-kata yang tepat. Maksudnya begini, eh orang lain menangkapnya begitu, maunya ngomong begini, eh karena salah milih kata jadinya artinya lain.
Beberapa waktu terakhir ini aku harus mengikuti beberapa rapat (aduh, berasa kaya’ anggota DPR aja deh). Tahu kan apa yang orang lakukan dalam suatu rapat? Membahas suatu permasalahan, menyampaikan laporan, memberikan masukan, mencari rumusan, adu argumentasi, mencari kata sepakat, pokoknya ngomong, ngomong dan ngomooong…
Dari Mata Turun ke Perut June 15, 2009
Posted by tantikris in lens story.15 comments
Selama kurang lebih 8 tahun terakhir ini, setiap perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah, aku selalu melihat bapak ini menunggui dagangannya. Seolah sudah punya kapling disitu, rasanya tidak ada yang berubah pada penampilannya sejak awal aku melihatnya. Tempatnya berjualan sama selalu disekitar daerah itu, juga sepeda dan muatannya, hanya bedanya pada awal-awal dulu tertulis “Sate Kul 100”, sekarang “Sate Kul 500”. Angka itu menunjukkan harga sate per tusuknya.

Sate Kul? apa sih itu? Pastinya kul yang dimaksud disini bukan kol atau kubis, masa’ bisa dibikin sate? Setelah bertahun-tahun hanya memandang dan bertanya dalam hati saja, akhirnya sore tadi aku memenuhi rasa penasaranku dengan berhenti dan melihatnya secara langsung. Ooh.. jadi ini to yg namanya sate kul?