A Fish Called Wanda August 18, 2008
Posted by tantikris in story.trackback
“A fish called Wanda” itu judul film komedi (tahun 80-an akhir or awal 90-an, agak lupa2 ingat deh..udah lama)
bintangnya Jamie Lee Curtis & Kevin Kline, ceritanya sih bukan tentang ikan,tapi kalau ceritaku kali ini adalah tentang ikan beneran..
Di halaman depan rumah kami punya kolam kecil dari satu tempayan tanah liat, diisi dengan teratai kecil cantik warna kuning dan ungu, dihuni beberapa ikan koki yang perutnya gendut dan ekornya berjuntai. Kok ikan koki? Ikan koki bukannya musti dipelihara di akuarium?
Nah, itu dia… sebenarnya kami ini sama sekali nggak tahu tentang memelihara ikan. Berawal dari iseng tujuh tahun lalu, kami ingin mempercantik kolam teratai itu dengan ikan, so kami beli di tukang ikan hias pinggir jalan, Rp. 5000,- dapet ikan kecil-kecil satu plastik …lalu byur… masukin aja mereka dalam kolam dan kasih makan tiap pagi…Tidak terlalu berharap, syukur-syukur mereka bisa hidup, kalau nggak ya sudah. Eh, amazing, mereka survive !!
Dari ikan kecil2 tumbuhlah mereka jadi ikan2 yang gendut dan cantik, ada yang berwarna oranye dan ada juga yang belang2 plus hitam & putih. Senang rasanya melihat mereka tiap pagi dan sore, sepertinya mereka juga hepi-hepi aja tinggal di kolam teratai. Selama lima tahun-an hiduplah mereka dengan aman dan tenteram.
Lima tahun?
Iya, nggak nyangka lho bisa selama itu. Nggak tahu berapa sih sebenarnya life span ikan koki, tapi yang jelas setelah lima tahun mulailah mereka mati satu-persatu. Yah.. sedih deh, tapi ya begitulah hukum alam, semua pasti mati kan…(kecuali ada ikan Highlander yang immortal..hehe..) Waktu mereka mulai habis dan tinggal dua ekor yang paling gendut yang bernama Iko dan Oki, mulailah kami masukkan rombongan ikan generasi kedua (tapi kali ini karena udah tambah banyak dan udah “jadi biasa” mereka nggak lagi dikasih nama ..he..he… kacian). Sampai tahun ini, karena umurnya sudah 2 tahun lebih mereka tumbuh jadi ikan yang gendut dan sama seperti sebelumnya, hiduplah mereka dengan aman tenteram dan sejahtera.
Sampai terjadilah suatu peristiwa bulan lalu…
Pulang dari liburan 5 hari diluar kota ternyata ikan yang tadinya 5 ekor tinggal 2 ekor…!! Kemana yang 3 lainnya? Kalau mati pasti terapung atau ada didasar kolam, tapi ini tidak ada jejaknya ? huu..huu.. sedih deh. Kami berpikir keras, masa’ dicuri orang sih? Siapa juga yang mau mencuri ikan murah begitu? Atau dimakan kucing? Memang sih selama ini ada hewan2 lain yang suka berkunjung ke kolam teratai yaitu kodok dan kucing-kucing tak berpemilik yang terkadang lewat dan numpang minum, tapi selama ini, sudah bertahun-tahun, kucing-kucing itu cuma numpang minum doang, belum pernah ada ikan yang dilukai atau dimakannya. Apa mungkin sekarang ada yang jahat? Atau mungkin mereka dulu sudah berusaha memangsa tapi ikan-ikan yang dulu punya daya survival yang tinggi sedang yang sekarang tidak? Ah, sebenarnya saya juga suka kucing.. (dulu waktu kecil piara 3 ekor dirumah, sekarang nggak lagi karena berbagai alasan) …masa’ sih kucing-kucing itu yang memakannya?
Misteri hilangnya 3 ikan itu tak terpecahkan,
Sampai 2 hari kemudian, pagi hari waktu kasih makan, ternyata ikannya tinggal 1, yang satunya hilang lagi tanpa jejak !!… Hah?….
Pasti itu ulah si kucing, tapi apa buktinya? Mulailah kami parno terhadap kucing yang ketahuan lewat didepan rumah, dengan semangat kami menghalau mereka…hush..hush…go away !!!….
Sebulan tlah berlalu…
Si ikan (yang tak bernama itu) tetap survive, kasihan dia sendirian. So, Sabtu pagi libur wiken kemaren kami berikan dia teman, lima ekor ikan koki kecil ! Seharian mereka berenang gembira, nggak ada yang berantem, si ikan yang lama jadi kelihatan besaaar dan genduut sekali dibandingkan teman-teman kecilnya yang baru, aha..nanti mereka juga akan sebesar dia.
Sabtu malam, kami pulang dari jalan-jalan terlihat ada seekor kucing belang putih-hitam ditepi tempayan kolam, dia meloncat berlari keluar waktu mendengar suara mobil kami masuk halaman rumah. Sempat curiga, ngapain aja si kucing ditepi kolam…” Jangan-jangan….” ah tapi biar deh kan dia sudah lari dan lagi sudah larut malam, gelap, besok pagi aja diperiksa. Minggu pagi kami segera inspeksi ke kolam…dan ternyata….. benarlah itu terjadi lagi !Hiikkss…. huu..huuu…. Kali ini 5 ekor ikan hilang tak berbekas…termasuk si ikan lama yang paling besar !! Jadi kucing belang itukah pelakunya?…Kini tinggallah 1 ekor ikan kecil yang baru tiba kemarin… pasti dia bingung. Oh kasihan, I’m so sorry , we could not provide a safe environment for you little fish.
Ini membuatku merenung,
Pernah nggak terpikir, rasanya kita sudah terbiasa berada dalam suatu keadaan yang steady and safe, selama beberapa waktu tertentu kita merasa yah memang harusnya beginilah keadaannya…
terpikirkah bahwa mungkin saja akan ada perubahan? Apa kita siap untuk menghadapi sebuah perubahan? Bagaimana kita mengantisipasi atau menyikapi sebuah perubahan? (eh, jadi ingat buku “Who moved my cheese?”)
Pernah nggak terpikir,
sudahkah kita menyediakan lingkungan yang memadai, yang aman untuk anak-anak atau generasi yang akan datang untuk tumbuh dan berkembang? Hutan kita sekarang sudah banyak yang rusak yang berakibat pada beberapa fenomena alam, lingkungan macam apa yang kita sediakan untuk anak-anak kita, apa yang kita wariskan untuk generasi yang akan datang? Lihat juga sikap hidup, budaya, dan perilaku pemimpin dan tokoh bangsa kita banyak yang tidak dapat dijadikan teladan? Apa jadinya perilaku generasi yang akan datang kalau lingkungan yang kita berikan untuk mereka hadapi seperti ini, apa yang akan diteladani?
Eh, tapi mungkin saya yang terlalu berpikir negatif,
Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, untuk generasi berikutnya, apapun pasti akan diusahakan untuk memberikan lingkungan yang memadai untuk hidup anak-anaknya
Tapi pernah nggak terpikir? Mungkin selama ini kita merasa sudah memberikan lingkungan yang memadai, yang aman untuk anak-anak atau orang-orang yang kita kasihi atau generasi yang akan datang…tapi “perubahan-perubahan” bisa saja terjadi pada pada lingkungan itu yang membuat perlindungan itu tidak memadai lagi. Seberapa awas kita pada adanya “perubahan”? Sekali lagi, bagaimana kita mengantisipasi dan menyikapinya?
Saya jadi mikir lebih dalam lagi, seperti apa bentuk ‘perlindungan’ yang harus kita berikan? Seperti induk ayam yang melindungi anaknya dalam sayapnya? Apa kita mampu terus melindungi mereka? Apa seterusnya mereka akan bergantung pada kita? Bukankah seperti makhluk hidup lainnya dia harus punya daya survival untuk bisa hidup?
Jadi, mungkin yang harus kita berikan bukan ‘perlindungan” dalam artian mem-protect, tetapi memampukan mereka untuk survive menghadapi berbagai “perubahan” dan “kesulitan” hidup, memberi mereka bekal kesiapan untuk menghadapi-nya. Tidak sekedar memberikan mereka berbagai ilmu tapi mengajar mereka “learning how to learn” sehingga mereka terbiasa untuk belajar dalam berbagai aspek sepanjang hidupnya…. Tidak sekedar berdoa “Tuhan jauhkanlah anak-anakku dari pencobaan” tetapi “Tuhan kiranya berikan kekuatan, kemampuan dan hikmat bagi anak-anakku untuk menghadapi pencobaan, sehingga mereka menang bersama Engkau”
Nah, kembali pada ikanku yang tinggal satu.
Tahu nggak kenapa judul story ini “ A Fish Called Wanda” ?
Karena akhirnya kami beri nama ikan yang tinggal satu itu..”Wanda”. Pagi ini saya taruh batu didasar kolam, saya bilang pada Wanda…”Ntar kalo si kucing datang lagi, kamu sembunyi disini yah” mudah2an dia ngerti maksud saya (coba ada Dr. Doolittle)
Kasihan Wanda sendirian, sudahkah kami memberikan lingkungan yang memadai buat dia?
Apa perlu kami berikan dia teman baru lagi?
Ada saran?………………
Comments»
No comments yet — be the first.