jump to navigation

Hukum Probabilitas August 18, 2008

Posted by tantikris in story.
trackback

Aku bukan orang yang pintar matematika karena tidak begitu pandai berhitung dengan angka-angka, kalaupun waktu sekolah dulu aku bisa, kemampuanku sih standar saja. Tapi kali ini aku jadi ingat tentang sesuatu yang berkaitan dengan hukum probabilitas. Probabilitas adalah peluang suatu kejadian. Kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi di masa mendatang dapat dihitung dalam suatu ukuran yang berupa angka peluang, seingatku rumusnya, begini nih :

Probabilitas suatu peristiwa =  jumlah kemungkinan hasil / jumlah total kemungkinan hasil. 

 

Aku ingat contohnya, kalau mata uang logam seratus rupiah dilemparkan ke udara, pada saat ditangkap dengan telapak tangan waktu jatuh nanti, berapa besar angka peluangnya untuk muncul sisi yang bergambar burung garuda? Nah, kalau ini mudah saja menghitungnya, karena ada dua sisi yaitu sisi yang bertuliskan angka 100 dan sisi yang bergambar burung garuda maka peluangnya adalah ½. Semakin besar jumlah total kemungkinan hasil, semakin kecillah angka peluangnya.

 

Banyak hal yang bisa dilihat dari penerapan hukum probabilitas ini dalam kehidupan sehari-hari, dan ada beberapa kejadian yang kulihat dan kualami beberapa waktu terakhir ini. Diawali dengan adanya undian mobil mewah dari salah satu Bank dimana aku adalah salah satu nasabahnya. Hadiah ini memang sangat menggiurkan, membuat orang tertarik untuk menjadi nasabahnya, atau yang sudah jadi nasabahnya berlomba-lomba untuk menaikkan saldo tabungannya dengan harapan mendapatkan hadiah utama. Selama ini aku belum pernah menang, tidak juga pada undian periode kemarin itu.  Kecewa? Ah, nggak juga, karena aku sudah bisa memperkirakan kalau peluangnya memang sangat kecil jadi yah, berharap secara realistis gitu deh.

 

Tapi dalam hidup ini memang banyak hal yang dapat menjadikan kita takjub kalau ternyata pada suatu angka peluang yang kecil ternyata kita telah menemukannya atau bahkan kitalah yang ada didalamnya. Entah itu yang disebut faktor keberuntungan atau ketidakberuntungan, faktanya adalah ternyata kita berada didalam angka yang kecil itu.

 

Minggu lalu. teman kerjaku yang sedang bertugas ke Jogjakarta menelponku hanya untuk memberitahukan kalau dia sedang menginap di Hotel Melia Purosani dan tanpa reservasi atau permintaan khusus ternyata dia menempati kamar yang sama yang beberapa bulan yang lalu pernah kami tempati pada suatu acara konferensi. Kok bisa ya, padahal ada puluhan kamar disitu, kok dapatnya yang ini… nah, pada angka peluang yang kecil itulah dia berada.

 

Lain lagi kejadian dua minggu sebelumnya, kali ini ceritanya tentang weton. Sebagai orang Jawa yang tidak pernah memperhatikan weton atau hari lahir, aku sempat takjub waktu bertemu dengan teman baru yang secara tidak sengaja kuketahui ternyata punya weton sama denganku yaitu Jumat Pahing dan kebetulan dalam beberapa hal pula punya beberapa kesamaan dalam minat dan pemikiran… hahaha…kami sama-sama tertawa menyadarinya…ada juga ternyata orang yang wetonnya Jumat Pahing, dia orang pertama yang kutemui punya weton yang sama denganku. Dalam peluang yang kecil aku ternyata menemukannya.

 

Tapi yang paling lucu adalah kisah temanku Aprilia. Sebagai dokter gigi yang sibuk dan ibu muda dari dua jagoan cilik balita dia sangat memerlukan bantuan pembantu rumah tangga dalam aktivitasnya sehari-hari. Tahu sendiri deh, sekarang ini susah mencari pembantu rumah tangga yang cocok, sebentar ganti, keluar masuk, gitu deh. Suatu ketika setelah beberapa saat mencari dia mendapat kandidat yang sesuai dan mulailah dia meng-interview seperti layaknya seleksi masuk calon pegawai. Diawali dengan pertanyaan namamu siapa? Dan dia menjawab : “Aprilia”.  Hah? Glodak…Aprilia-temanku terkaget-kaget dengan suksesnya… Berapa banyak sih orang  yang namanya Aprilia? kok ya ini pas ketemu nama yang sama.

 

OK deh, namanya sama Aprilia, lalu panggilannya siapa? “Lia” jawabnya lagi. Hah? Glodak yang kedua.. lha kok sama lagi… Nama lengkapmu siapa “Aprilia Fitri”, ya udah kalau begitu nanti dipanggil Fitri aja… dan akhirnya karena dia memenuhi syarat jadilah dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumahnya. Tapi apa yang terjadi? Dipanggil Fitri berkali-kalipun dia tidak menyahut atau datang… yah, bagaimana lagi, Aprilia-yang PRT ini orang yang lugu yang merasa kalau panggilannya adalah Lia jadi dia sekalipun dia tidak akan menoleh kalau dipanggil dengan nama Fitri… Terpaksa deh, ada dua Lia dirumah itu.

 

Sekarang kami teman-temannya dikantor suka menggodanya.. “Mbak Lia, udah cuci piring belum?” atau Mbak Lia, lantainya udah disapu belum?” dan Lia- temanku cuma bisa nyengir aja..…hahaha… Berapa besar sih angka peluang pembantu dan majikan yang bernama sama? Pastinya kecil angkanya, tapi disinilah duo-Aprilia ini berada… Kalau Shakespeare bilang “What is in a name”, wah buat Aprilia itu pasti sangat berarti…hehehe….

Comments»

1. Daniel Mahendra - August 19, 2008

Hihihi… tulisan ini selalu bikin aku ngakak!

2. japspress - December 20, 2008

Aku mau nambahin cerita nih, Mba Tanti, aku pernah kos di daerah Cikutra, sebelum ngontrak sama temen2 di daerah Cisitu. Sebulan yang lalu kontrakan habis, dan kami berpencar. Saya pindah ke satu kosan yang jaraknya ndak jauh dari kontrakan.

Dan ketika ngobrol sama temen kos baru, yang kamarnya di sebelahku. Kami ngakak ketika tahu dia pernah juga ngekos di kosan lama ku di Cikutra, Dan tahu tidak mba? Dia menempati bekas kamarku begitu aku pindah ke kontrakan di Cisitu. Huahaha…. Dan sekarang kami malah tinggal bersebelahan…

salam -japs-

Haih… kok bisa ya? hehehe….

3. tutinonka - December 20, 2008

Saya punya teman sepasang suami isteri, kebetulan nama isterinya adalah Tutik (pakai k … ). Suatu ketika, saya menelepon teman ini (si suami yang adalah rekan kerja). Begitu telepon di seberang diangkat, terdengar suara rekan ini “Hallo …”. Saya menjawab. “Hallo, Tuti Pak …” maksud saya, menyebutkan identitas diri (kan begitu etikanya orang menelepon?). Eh, rekan ini langsung memanggil isterinya, “Ma!!! Ada telepon nih!!” dan langsung meninggalkan telepon. Lho…. piye to iki???

Lain kali, saya telepon sang isteri. Yang mengangkat telepon adalah ayahnya (yang sudah sepuh). Beliau tanya, “Mau bicara dengan siapa?” . Saya jawab, “Tutik”. Terus beliau tanya lagi, “Ini dari siapa?”. Saya jawab lagi “Tuti”. Beliau bingung, “Iya, mau bicara dengan Tutik kan? Tapi ini dari siapa?”. Saya coba menjelaskan, “Nama saya juga Tuti, Pak.” Barulah sang ayah ‘ngeh’ hehehe ….

Hahaha… kebayang deh betapa ‘dodol’nya percakapan telepon itu…
Angka probabilitas untuk nama Tuti di Indonesia memang tinggi ya Mbak, jadi… maklum aja deh bisa terjadi kejadian2 lucu tadi..hihihi…

Duluuuu…pertama baca nama Nonka dibelakang nama Mbak saya udah senyum dan berpikir, ah Mbak ini smart sekali memberi nama pembeda yang manis dibelakang nama yang ‘pasaran’ ini… jadinya kan Tuti bukan Tuti(k) kan… hehe…