jump to navigation

Paman Gober dan Gudang Uang August 24, 2008

Posted by tantikris in story.
trackback

“Dikelilingi recehan uang logam dimana-mana!”.. itulah yang kualami beberapa hari terakhir ini. Entah kenapa dalam dua minggu terakhir ini aku mendapatkan banyak sekali uang logam. Heran deh, kok kebetulan nominal yang kubelanjakan selalu menyisakan uang kembalian yang berupa koin, masih lumayan kalau itu koin limaratusan, nah ini berupa koin seratus dan dua ratus rupiah. Kantong kecil di dompetku, tempat biasanya aku menyimpan uang kecil penuh sesak hingga sulit kukancingkan, sebagian sudah kupindah ke tempat menyimpan koin di mobil (biasanya untuk membayar ‘polisi cepek’ di jalan) tapi hari-hari berikutnya tetap saja masih terisi kembali.

 

Aku jadi ingat Paman Gober! Tahu siapa dia kan? Itu, pamannya Donal Bebek yang kaya raya tapi pelit minta ampun. Hal yang paling disukainya adalah berada dalam gudang uangnya dimana tersimpan berkarung-karung dan bertumpukan menjulang uang-uang logam.

Aku bukan Paman Gober karena aku tidak suka dikelilingi uang-uang logam itu, bahkan merasa repot dan terganggu menyimpannya dalam jumlah banyak. Aku merasa tidak leluasa membelanjakannya karena saat ini tidak banyak yang dapat dibeli dengan koin-koin seratus atau dua ratus rupiah yang sering disebut sebagai uang kecil itu.

 

Uang kecil? Dulu, waktu aku masih SD, koin-koin ini bukan uang kecil buatku, wah ini uang sakuku. Dengan uang itu ada banyak pilihan jajanan yang dapat kubeli saat itu, bisa kupakai untuk menyewa komik dan buku cerita kesukaanku. Sekarang? Di kota besar, mana mungkin memberikan uang saku seratus-dua ratus rupiah untuk seorang anak SD, apa yang bisa didapatnya dengan uang itu?

 

Sebenarnya sampai sekitar lima belas tahun yang lalu, meskipun nilainya sudah semakin turun, uang koin inipun masih terasa sangat berguna untukku yaitu untuk menelepon dari telepon umum. Belakangan, setelah semua orang punya handphone, koin-koin itu jadi tidak terasa lagi gunanya. Saat ini, memberikan uang kecil pada pengamen atau ‘polisi cepek’ di jalan (meski kadang terpaksa), tidak mungkin pula kalau hanya memberikan satu keping uang ratusan, tidak tega rasanya, apa sih yang bisa dibeli dengan uang seratus rupiah? Sebegitu turunnyakah nilai mata uang rupiah dimasa sekarang ini?

 

Aku masih saja bingung membelanjakan uang kecilku yang banyak itu. Kucoba membelanjakannya pada tukang sayur dan tukang roti langgananku tiap pagi, tapi karena nominalnya kurang pas aku hanya bisa membelanjakan sebagian kecil saja, itupun sudah membuat mereka agak mengernyitkan dahi sewaktu menerima dan menghitungnya. Sebenarnya kasir di supermarket pasti akan menerimanya dengan senang hati, tapi saat sedang berada dalam antrian panjang aku merasa tidak enak juga bila harus berlama-lama menghitung uang pembayaranku, belum lagi kalau jumlah pembeliannya tidak pas, eh malah dapatnya kembalian koin lagi.

 

Upaya lain adalah memberikan kepingan yang lebih banyak dari biasanya pada polisi cepek dijalan dan beberapa pengamen yang tadinya hanya kubalas dengan gelengan dan lambaian tangan, itu rupanya yang paling mudah dan mereka yang benar-benar menerimanya dengan senyum. Aih, aku jadi dermawan… tapi bukankah ini dalam rangka membagi atau tepatnya menghabiskan koinku yang berlimpah ini?

 

Aku memang bukan Paman Gober, tentu saja karena aku tidak kaya raya dan (merasa) tidak pelit. Pelit kata lainnya adalah kikir, tidak suka memberi atau membagi sesuatu yang dimilikinya dengan orang lain. Adalah baik kalau kita suka berbagi sesuatu dengan sesama apalagi membagikan sesuatu pada orang yang membutuhkannya. Kapan saat kita memberi dan berbagi? Aku –dan mungkin sebagian orang- kerap  memberi dan berbagi disaat merasa punya sesuatu yang lebih atau saat berkelimpahan. Tapi kapan saatnya merasa punya sesuatu yang lebih? apalagi kalau itu menyangkut uang dan materi bukankah rasanya masih kurang saja. Paman Gober punya uang banyak tapi dia tidak mau memberikan uangnya pada orang lain karena dia merasa hartanya masih belum cukup banyak.

 

Sedikit-banyak, kurang-cukup-berlebih, itu nilai yang relatif untuk masing-masing orang. Nah, kalau tidak punya motivasi dan pemahaman yang benar jangan-jangan jadi tidak akan pernah memberi dan berbagi karena merasa belum punya sesuatu yang lebih? Jadi, rasanya tidak perlu menunggu untuk berkelebihan untuk bisa memberi dan membagikan sesuatu pada sesama. Sesuatu yang dapat kita beri dan bagikan tidak selalu berupa materi, sesuatu yang tampaknya kecil tapi bila sampai pada orang yang membutuhkannya akan sangat besar maknanya, masalahnya apakah kita peka akan kebutuhan orang lain dan punya motivasi untuk memberi dan berbagi?

 

Paman Gober tidak mau memberi dan berbagi apa yang dimilikinya dengan orang lain, dalam hal ini aku mungkin sedikit lebih baik darinya, tapi apa aku sudah punya motivasi dan pemahaman yang benar tentang hal ini? Hmm..rasanya aku masih harus banyak belajar. Tapi paling tidak aku  berbeda dengan Paman Gober. Dia sibuk menyimpan koin-koinnya dalam gudang, sedang aku sibuk mencari cara untuk membelanjakannya karena tidak mau menyimpannya. Ah, jangan-jangan ini karena yang kupunya adalah uang seratusan, entah apa yang akan kulakukan kalau ini adalah uang seratus ribuan?

 

Aku jadi malu sendiri  dengan caraku menghargai uang kecil. Uang kecil yang tampak tak berarti ini kan uang juga, bagian dari rejeki yang Tuhan berikan buatku yang patut disyukuri. Jadi aku putuskan untuk menyimpan dan menggunakannya sesuai keperluan. Oh ya, aku menyimpannya dalam dompet kecil baru, tidak menyimpannya di gudang, karena… sekali lagi, aku kan bukan Paman Gober !

 

Comments»

1. sawali tuhusetya - August 25, 2008

wah, selamat, semoga mengalir terus rezekinya. bukankah uang besar terkumpul dari recehan dulu, hehehehe …. yang pasti, konon ada sebagian rezeki yang kita dapat utk anak yatim, anak telantar, dan fakir miskin. wah, bener, nggak yah?

2. Yoga - August 25, 2008

Nggak perlu malu mbak, yang penting at the end mbak menyadari sesuatu yang jarang disadari oleh orang banyak. Oh ya dulu saya suka mengumpulkan keping 1,000 rupiah alasannya hanya karena senang saja. :)

3. tantikris - August 25, 2008

@ pak Sawali :
Amin. Ya, mungkin benar Pak. Prinsipnya sih berbagi berkat Tuhan untuk sesama yang memerlukannya akan membuat hidup kita berarti dan berkenan kepadaNya.

@ Yoga :
Aku memang pemalu kok… eh, bukan… tepatnya malu-maluin…hihihi..

4. nita - August 25, 2008

yang kecil2 memang kerap kita sepelekan…seperti juga uang kecil itu. pdhal kalo dikumpul bisa numpuk juga mencapai nominal yg lumayan. btw bisa gak recehan gitu dituker ke bank dg uang ratusan/ribuan

5. erna - August 25, 2008

Vira si kecil…paling seneng uang krincingan (begitu dia sebut) buat dimasukkan ke celengannya dia atau buat beli es krim.. wah sejak dia punya celengan malah aku yang gak pernah punya duit koin.. tasku slalu dibuka dan bila dia nemu langsung deh diminta…

6. DM - August 26, 2008

Sini-sini, buat kau aja kalo bingung. Kalo memang banyak, bisa kubikin candi. Cuma nanti namanya candi apa ya…

7. prameswari - August 26, 2008

Secara nominal, uang receh itu berharga sedikit. Tapi coba kalo kita telaah, uang receh itu besar filosofinya lo…..terutama dalam adat Jawa. Dalam beberapa upacara, uang receh tuh digunakan sebagai simbol. Pada upacara pernikahan Jawa, pada acara temu manten, simbol bahwa suami akan bertanggung jawab menghidupi keluarga adalah memindahkan sekarung kecil uang receh pada tempat yang dibawa sang istri…. Selain itu uang receh tampak pada upacara selamatan, upacara siraman, dan lainnya
Uang receh….gak kecil tuh artinya……….

8. Qizink - August 26, 2008

menghargai uang kecil untuk mendapatkan uang lebih besar! hehehe

9. tantikris - August 26, 2008

@ Erna :
mau kubagi punyaku?

@ DM :
gimana kalau “Candi Mahendra” ?

@ Prameswari :
sesuatu yang kecil bukan berarti tak bermakna ya…

@ Qizink :
Hehehe… bener juga !

10. Donny Verdian - August 26, 2008

Wah duitnya buanyak ik, sangar!!!
Jangan remehkan uang kecil, tanpa seratus perak saja nggak akan ada semilyar..:)

Padahal kalau nggak ada semilyar, susah buat nyuap anggota parle.. upssss..:)

11. tantikris - August 27, 2008

@ Nita :
* maaf, terlewat *
Iya, bisa ditukar ke bank sebenernya, tapi nggak deh.. mau aku kumpulkan saja, ntar mau dibikin candi sama DM kok.. hihi…

@ Donny :
heii.. gimana kalau menyuap anggota parle… uppsss tadi pake uang kecil tapi jumlahnya semilyar ya?…waah…musti ngangkut pake truk kontainer… :)

12. latree - August 28, 2008

sumbangkan di kotak masjid.

13. jeunglala - August 28, 2008

Uang kecil?
Wah… buat saya, nilainya sama aja. Memang, kadang sebel juga karena berat. Tapi, saya malah suka kumpulin terus beli dompet khusus buat nampung duit receh itu.
Oh ya
Sama cemplungin ke celengan.
Sampai jumlahnya banyak… setor ke Finance kantor…. jadi duit lembaran deh…
hehehehehe….

oh ya, komentar yang ke-12…. SETUJU! Sumbangkan di kotak masjid! InsyaAllah, biar kecil, barokahnya tetap sama! :)

14. tantikris - August 28, 2008

@ latree :
boleh juga…. dan untuk hal itu kalau bisa memberikan uang yang besar ngapain yang kecil yah?

@ lala :
good idea… eh, kapan2 aku mampir ke kantormu ya La, boleh numpang tukar koin di celengan? … hehe ;)

15. therunk - October 28, 2008

wek.. receh? saya malah mencari tuh mbak…
buat kembalian sih :) biasannya 1 minggu ada 100 rebu uang gopekan / 500 an! itu ludes.. kalo mbak punya banyak boleh kok di lempar ke saya :) )

Whaaa….udah nggak ada sekarang, nah tumpukan koinnya udah dibikin candi itu… Candi Mahendra… :)