Empat Mata August 30, 2008
Posted by tantikris in story.trackback
Awal tahun ini aku dapat kalender meja 2008 dari sebuah toko kacamata terkenal, desainnya simpel, bentuknya kecil memanjang warna hitam dengan cover berupa tulisan “What are you without your glasses?”. Sangat menarik, ini tentang kisah orang-orang yang ‘empat mata’ alias orang-orang yang berkacamata. Didalam kalender itu ada 12 statement – cerita singkat pengalaman beberapa orang tentang hal itu di tiap lembar tiap bulannya, contohnya yang di bulan Juni : “Just look at me, I look smart and chic. My secret? Glasses”, yang di bulan Desember : “Without my glasses, I’m just a man who can not see the beautiful world”
Yah, orang memang punya berbagai macam alasan untuk pakai kacamata. Sebagian besar karena perlu alat bantu untuk penglihatannya, tapi bisa juga untuk fashion aja, atau gabungan keduanya dan rasanya aku adalah termasuk salah satu dari golongan terakhir ini. Sebenarnya aku tidak suka pakai kacamata, tapi aku memerlukannya karena mataku miopia, kiri kanan minus 1 dan 0,75. Karena minusnya relatif ringan, biasanya sih aku hanya pakai kacamata kalau kerja atau aktivitas yang memerlukan alat bantu untuk melihat jelas dari jarak jauh, selain itu agak malas memakainya, masih kelihatan soalnya. Tapi biar begitu aku punya beberapa model kacamata lho, soalnya..ehm..buat fashion juga sih.
Gara-gara tidak kontinyu dalam pemakaian kacamata aku jadi punya masalah. Sabtu lalu, saat mengikuti suatu workshop, waktu acara mulai barulah aku sadar kalau nggak bawa kacamata, waduh repot, apalagi saat aku harus presentasi. Memang masih kelihatan sih, tapi sepanjang acara aku jadi merasa tidak nyaman karena tidak bisa melihat tulisan di layar dan wajah para peserta dengan jelas. Baru sadar deh betapa bergunanya si kacamata itu untuk membantu penglihatanku.
Biasanya orang tidak pernah menyadari punya sesuatu yang berharga dan istimewa sampai dia kehilangan atau mendapatkan gangguan akan sesuatu itu. Tiba-tiba aku jadi menyadari betapa berharganya penglihatan yang aku miliki, betapa kompleksnya proses visual yang berlangsung dalam mataku. Sebenarnya sih tahu tentang teorinya, tapi selama ini rasanya proses melihat itu kan sesuatu yang otomatis dan terjadi begitu saja, saat aku membuka mata akan terlihatlah obyek yang ada didepanku.
Padahal prosesnya cukup rumit lho, begini nih kira-kira : kornea yang merupakan bagian terluar dari bola mata akan menerima cahaya dari sumber cahaya lalu diteruskan ke pupil. Pupil akan melebar dan menyempit sesuai kuantitas cahaya yang masuk dengan dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya yang berfungsi sebagai diafragma. Lalu ada lensa mata dibelakangnya yang mengatur fokus cahaya dan meneruskannya pada retina lalu ke saraf optik dan masing-masing mata akan mengirimkan data itu ke otak untuk diproses barulah muncul gambaran visual…tuh rumit kan.
Aku jadi bertanya-tanya dalam hati kenapa ya Tuhan ‘mendesain’ manusia dengan dua buah mata? Coba tutup mata yang kanan, yang kiri masih bisa melihat, sebaliknya kalau ditutup mata kiri yang kananpun bisa melihat dengan kemampuan yang sama, tapi pandangan akan terasa lebih nyaman bila dua mata terbuka, karena mereka akan saling bersinergi. Memang akan sempurna bila dua bersinergi menjadi satu, saling mendukung, saling menjaga agar tetap balance, tapi didunia ini kadang bila sesuatu tidak berjalan sesuai yang direncanakan hanya dengan satu-pun mestinya bisa tetap survive, mungkin begitu ya filosofinya?
Bersyukurlah kita yang punya dua mata yang utuh, masih bisa melihat cahaya, melihat segala pemandangan, melihat wajah orang-orang disekitar. Ada banyak orang yang tidak bisa melihat dunia dengan matanya. Ada beberapa orang yang tadinya bisa melihat tiba-tiba karena suatu penyakit kehilangan indra penglihatannya.
Aku ingat tayangan Oprah tentang seorang pemuda yang terpaksa kehilangan kedua matanya karena kanker sejak berusia 3 tahun. Beberapa tahun dia hidup dalam kegelapan setelah kehilangan penglihatannya, sampai suatu saat dia menemukan kemampuan untuk “melihat” dengan cara berdecak seperti suara cecak. Dengan berdecak dia bisa mendengar pantulan gema suara dari obyek disekitarnya sehingga dia bisa mengetahui apa yang ada disekelilingnya, bisa memperkirakan jarak, bisa menyesuaikan.
Unbelievable! di tayangan itu terlihat dia berjalan dan bersikap seperti orang normal yang bisa melihat, dia bisa naik turun tangga dengan lancar, berjalan di lorong supermarket dengan santai bahkan main skateboard! Tuhan mengambil penglihatannya tapi menggantikannya dengan pendengaran yang sangat peka, DIA memperlengkapi suatu kekurangan dengan kelebihan yang lain.
Mata melihat obyek, sebagian orang mungkin tidak bisa melihat secara visual tapi semua orang punya mata hati yang akan melihat dan menentukan bagaimana jalan hidupnya. Orang boleh buta mata tapi tidak boleh buta hati. Mata hati adalah pelita tubuh, melaluinyalah terang masuk dalam kehidupan, bila mata itu gelap, gelaplah seluruh hidupnya.
Eh, bicara tentang mata, aku kok jadi kritis bertanya-tanya! Selain pertanyaan tentang kenapa manusia punya dua mata tadi, aku juga bertanya-tanya kenapa ya acaranya Tukul Arwana dikasih judul “Empat mata”? Padahal Tukul tidak berkacamata. Empat mata kan juga berarti berbincang berdua dari hati ke hati, eh padahal dia juga tidak berbincang berdua saja dengan bintang tamunya karena Pepy, Vega dan yang lainnya suka ikut nimbrung, sudah begitu bintang tamunya tambah lama tambah banyak, padahal pula yang menonton mungkin jutaan pasang mata? Jadi apa alasannya yah? Ah, pengin tahu aja..!!!
pake kacamata terasa berat dan bikin mata cepet lelah. tapi tanpa kacamata suka berimajinasi ngawur dengan yang ada di depan mata hehehe
nah udah susah begitu ada juga lho yang pengin pake kacamata
Aku suka nggak habis pikir: kenapa mata mesti ditutup-tutupi dengan kaca segala. Kan repot! (hehehe, komen becanda!)
Tapi, setiap ada kesempatan periksa mata (pasti gratis! Dasar!), selalu saja mataku dinilai normal. Periksa lagi, masih saja normal. Ada kesempatan periksa lagi, tetep saja normal. Heran! Minus kek. Plus kek. Silindris kek. Hehehe. Rupanya mataku itu memang nggak ada masalah. Tapi kalo liat yang cantik-cantik suka jadi gimana gitu (Hayah!!! Penyakit itu mah!). Hihihi.
BTW, kenapa tidak dipasang foto kemeja putih berkacamata itu? Uhuy! Atau foto baru: “Hai Dora…!!” (Huaaaaaaaa……… :p )
Dora perasaan nggak pake kacamata deh !!
kadang gak sadar juga ngejaga mata. suka baca sambil tiduran, berjam2 di depan laptop sampe mata berair. thanks udah mengingatkan. sepertinya kini saat yg tepat untuk mengistirahatkan mata dan mematikan laptop:)
jadi, bukannya “kembali ke laptop” yah?
Padahal bayangan yang jatuh di retina itu terbalik, terus bagaimana bisa otak kita membaliknya lagi jadi saya gak perlu lihat orang di depan saya kakinya di atas, kepalanya di bawah.. Sungguh luar biasa Yang Menciptakan kerumitan itu.
Eh… komentar ini terlalu serius ya mbak?
ouw.. tidak ada yang tidak serius kalau itu mengenai kekaguman akan kebesaranNya, benar kan ?
@ DM
Hei, Mas! Aku sama kayak kamu! Dari dulu normal mulu.. padahal aku punya keinginan aneh yaitu PENGEN PAKE KACAMATA! Hah. Kemakan fashion kali ya…
Tapi setahun belakangan ini… aku akhirnya periksa lagi dan dapet jatah minus seperempat… dan tau ga? koleksi kacamataku langsung banyak!!! Hahaha…
Mbak Tanti…
Bener banget tuh, we don’t know what we’ve got till it’s gone.
Sederhana dan berulang-ulang didengar bahkan diucapkan, tapi masih bikin salah dengan beberapa kali lupa bersyukur… aduh!
yup Lala, it is !!
artikelnya menarik.
apalagi mengenai anak yang berdecak untuk bisa melihat itu.
memang apa pun yang kita miliki harus disyuluri.
dengan bersyulur, rejeki akan senantiasa bertambah.
tapi gak mau ah kalau dikasih tambahan dua mata lagi, dua telinga lagi, dan dua lobang hidung lagi.
hiiii… ntar lagunya kan berubah jadi ..”empat mata saya, hidung saya dua..”.. serem ya…
Aku pake kacamata sejak SD kelas V
Tukul mbikin acara dan diberi nama Empat Mata mungkin karena waktu itu bintang tamunya baru satu sehingga bener-bener di-empatmata-in ama si Arwana van Semarang itu.
Lha njuk nek ganti nama acara nanti jadi nggak ngetop hahaha.
kalo bintang tamu yang pertama waktu itu Donny Verdian, mungkin nama acaranya jadi “Enam Mata” ya? hehehe… (psst.. dulu yang mangsuk tipi itu bukan di acaranya Tukul kan?)
Jadi inget bapak Tan.. Hiks..hiks..
Memang endoftalmitis prognosisnya buruk meski dengan pengobatan optimal.Sampai sekarang masih gak bisa melihat, matanya masih aja ditutup karena masih sakit.dokternya apa gak merasa bersalah ya? Gara2 operasi katarak yang tipis saja sekarang Bapak kehilangan penglihatannya.
Aku dan keluarga hanya bisa ikhlas menerima semua ini, seperti juga menerima kejadian yang menimpa adikku dulu dan juga aku..
Memang perlindungan hukum di Indonesia pada pasien seperti ini..
Eh beberapa hari lalu aku baca spanduk ada operasi katarak gratis..
Ehm.. langsung deh bulu kudukku berdiri. Bapak yang operasi oleh dokter beken aja, di rumah sakit besar aja, bisa terjadi seperti itu.
Sorry Tan numpang curhat.. barangkali ada comment dari teman2 yang lain..
Penglihatan boleh hilang, asal mata hati tidak buta. Turut prihatin tentang Bapak Na. Kasus malpraktik masih banyak terjadi, tantangan buat dunia medis kita, mustinya harus dibenahi sejak masa pendidikan supaya menghasilkan tenaga medis yang kompeten dalam bidangnya.
iya harusnya nama acaranya di ganti jadi banyak mata
meskipun banyak mata tapi kalau diganti jadi “Mata Mata” nggak cocok juga yah..
suamiku pakai kaca mata karna retinanya robek ; setaon rutin 2x cek ke dokter.. tiap kali cek up komen dokter “kondisinya bagus kok, cuma jangan melirik tiba2″. … secara becanda aku bilang …”kamu dikasi mata sehat suka jelalatan sih, udah gak sempurna aja masih tetep dapat warning jangan melirik dadakan”… heheheh
hehehe… dikit-dikit gak papa kan Linda? melihat pemandangan indah kan gak ada salahnya.. hihihi…
waduh mas..
paling takut nek make kacamata..
padahal skarang lagi sregep2nyah blogging..
takut jadi minus..
lho kalo pake kacamata tuh tambah ganteng lho Wildan, kecuali kacamata kuda sih..
Bersyukulah ia yang memiliki mata sejernih air di pegunungan. Ia dapat menembus batin setiap hati manusia.
Juga berbahagialah yang berkacamata. Karena ia akan menjadi awas karenanya.
ya…berbahagialah !!
* dan berbahagialah yang bisa melihat dengan jelas gambar avatar ini, rasanya saya harus memeriksakan mata saya, mungkin minusnya nambah *
Setiap melihat atau membaca hal hal seperti ini selalu mengingatkan betapa besar Rahmat yang sudah saya terima, dan terimakasih lagi nich selalu diingatkan untuk besyukur. Suamiku juga harus berkacamata tapi dia tidak suka jadi dia punya banyak: 1 di meja kantor, 1 ditas kerja, 1 dikantong celana, 1 dimobil dan satu di coffee table rumah. Dan kebetulan waktu aku baca certa ini dia lagi di Albany, NY ada meeting trus tlp aku karena lagi kekamar hotel ambil kaca mata…
thanks
Bersyukur dan bersyukur akan membuat hidup terasa damai…
Eh, saya juga punya beberapa kacamata, tapi suka kecentilan deh.. soalnya musti me-match-kan dengan baju saya.. jadi, repot sendiri deh… kadang jadinya malah nggak kebawa…hihihi…