Nyepi, Hening. March 26, 2009
Posted by tantikris in story.trackback
Pagi ini aku terbangun begitu saja,
bukan karena suara alarm jam di meja,
bukan karena suara berisik
bukan pula karena musik.
Pagi ini aku bangun tidak sepagi biasanya, sengaja, kan ini hari libur. Belum beranjak dari tempat tidur aku memicingkan mata melihat jam berapa ini,jam enam pagi lewat sedikit, sinar matahari mulai mengintip dibalik tirai jendela tapi kok, jam segini suasananya sepi. Sambil menyingkapkan selimut dan bangun aku menajamkan pendengaranku, sunyi, yang terdengar hanya detak jam di kamar dan dengung halus pendingin ruangan, tidak terdengar suara-suara di luar. Doa pagiku berlangsung dalam suasana hening dan teduh, benar-benar dalam arti yang sesungguhnya.
Pagi ini kok agak lain ya apa yang membuatnya berbeda?Setelah berpikir sejenak baru aku tersadar, biasanya jam segini sudah terdengar lalu lalang sepeda motor tukang sayur, tukang bubur ayam, tukang roti, penjual koran, lengkap dengan suara-suaranya dalam menjajakan dagangannya, belum suara mobil antar jemput sekolah anak-anak tetangga, bergantian berhenti didepan rumah dengan derum dieselnya yang berisik ditingkahi suara celoteh riang anak-anak, pintu mobil yang ditutup keras.. brak…lalu menderum lagi meninggalkan daerah ini. Hei, kemana suara-suara itu?
Pagi yang sepi di Hari Raya Nyepi.
Oh, jangan salah, aku tidak sedang berada di Bali, mungkin kebetulan saja hari ini tidak terlalu ramai disini, tapi aku jadi kebayang betapa sepinya suasana di Bali sana saat ini, disaat umat Hindu sedang khusuk melaksanakan ibadahnya. Suasana yang sepi jadi memberiku inspirasi.
Begitu terbiasanya kita dengan irama kehidupan yang seringnya berlangsung dalam beat yang cepat dalam berbagai keadaan sehingga hiruk pikuk di sekitar kita terdengar sebagai hal yang biasa dan lewat begitu saja. Seperti aku di pagi hari, baru kusadar ada banyak suara yang biasanya kudengar.
Pernah nggak anda perhatikan suara-suara apa saja yang terdengar masuk ke telinga?
Suara bising kendaraan dijalan raya, suara mesin di tempat kerja, dering telepon, suara televisi yang menayangkan berita, talkshow, gosip-gosip infotaintment? Suara suara orang-orang disekitar sapaan tetangga, obrolan teman, perintah boss, omelan sahabat, rengekan anak-anak, nasehat orang tua, keluhan klien, bisikan mesra kekasih? Suara yang menakutkan seperti petir yang menggelegar bersahutan, suara gemuruh hujan deras? Suara yang memenangkan seperti suara musik yang mengalun lembut, gemercik air, kicauan burung di pagi hari?
Bersyukurlah kita yang tak hidup dalam sunyi, dikaruniai indera pendengaran sempurna. Begitu banyaknya jenis suara yang masuk dalam indera dengar kita. Sebagian besar lewat begitu saja, tidak pernah diperhatikan dengan seksama, baru terasa berarti saat dia tak ada. Sebagian lagi adalah suara-suara yang tidak menyenangkan untuk didengar sehingga ingin rasanya menutup telinga rapat-rapat agar tidak mendengarnya. Sebaliknya, ada suara-suara yang menentramkan hati yang selalu terngiang bahkan setelah usai terdengar di telinga.
Ada suara-suara yang memang harus didengar dan diperhatikan karena itu akan menambah nilai kehidupan tapi ada juga suara yang tidak perlu didengar atau kalaupun terdengar tidak perlu dimasukkan hati karena hanya akan memenuhi memori.
Awalnya, pagi ini sepi dan hening, tapi aku kan tidak sedang berada di Bali hari ini, sesaat kemudian pagi hening itu pecah oleh dering telepon dari seorang sahabat, dan kemudian hiruk pikuk suara-suara di pagi hari pun mulai bermunculan : ringtone lagu Sari Roti, teriakan tukang sayur, bel sepeda motor penjual bubur ayam… hehehe..aku jadi menikmati suara-suara itu. Aku jadi tersenyum sekaligus terharu biru mengingat hening sesaat di pagi ini, ada rasa tentram tapi juga jadi mengingatkanku akan sebuah suara yang sangat kurindukan beberapa saat terakhir ini.
Nah, bagaimana dengan anda?
suara-suara apa saja yang telah anda dengarkan hari ini?
Suara apa yang menyenangkan? Suara apa yang tidak disukai?
Mau berbagi? Aku akan dengarkan…
Pernah nggak Anda perhatikan suara-suara apa saja yang terdengar masuk ke telinga?
Selalu!
Seringkali aku tiba-tiba terdiam dan menyerap semua suara yang ada dan masuk ke telinga. Dari semua suara itu, aku ambil satu yang paling menarik perhatian. Yang satu itu tiba-tiba menjadi sontak dominan ketimbang yang lain. Meski yang satu itu bisa saja sesuatu yang remeh sama sekali.
Suara air di gorong-gorong di antara ribuan suara yang ada, misalnya (Aha! Pernahkah terpikir mendengarkan suara air di gorong-gorong? Itu sesuatu yang remeh bukan?). Atau suara kesiur angin yang kadang luput dari perhatian.
Maka sesuatu yang tak terpikirkan seperti itu tiba-tiba bisa menjadi begitu istimewa hanya karena ia berbeda dengan yang lainnya. Karena yang lainnya begitu mudah dan kentara untuk didengar.
Aliran irama air atau kesiur angin seperti itu bagaikan harmoni sebuah musik yang mengalun lembut, tenang, bijak, serta bersahaja. Seolah ia mengirim sekabar kerinduan yang tiba-tiba menyembul dari alam bawah sadar.
Suara itu bisa begitu terasa dan berarti, melebihi suara yang dengan mudah didengar sekalipun.
Karena kita hidup di bawah langit yang sama!
Suara lirihpun bisa terdengar kalau peka terhadapnya,
suara yang lirih terdengarpun bisa jadi berarti,
hhmm… istimewa sekali
Sepanjang hari ini, daku di rumah saja mbak. Dengerin musik, suara pekik riang Flo, tangisan manjanya Flo, dan bunyi TV beserta suara2 orang ngobrol karena adik2ku pada ngumpul dirumah.
Aku nikmatin kok.. wong jarang2 ada dirumah dan ngumpul seperti ini.
Doa pagi?.. saat teduh yang satu itu selalu terlewatkan
Wah… suara Flo dan orang-orang tersayang pasti selalu terdengar menyenangkan ya?
Sepagi ini, suara yang paling menjengkelkan adalah alarm weker, tentu saja:)
Sesudahnya suara istri yang menyegarkan:)
Suara air mandi yang menyejukkan, salakan anjing kesayanganku yang menyenangkan…
Suara supir bis dalam bahasa inggris yang dikulum tak terdengar jelas olehku…
Dan suara Bono bernyanyi di iPod milikku.
Selamat pagi!
Selamat Pagi !
Suara yang terakhir itu… suara Bono… I bet it’s the pleasant voice that made you cheer…
Bunyi … indra pendengaran … aku kurang begitu sensitif
Mata … pandangan … ini mungkin sedikit sensitif …
Bunyi yang harmonis … ini juga “ngeclick”
Hmmm ini menarik …
sekali-sekali saya harus mengasah indra pendengaran saya juga …
menangkap bunyi-bunyian … (baik itu harmonis atau tidak …)
Salam saya
Benar, mengasah indra pendengaran tidak harus selalu dengan bunyi-bunyian yang harmonis saja… coba deh, nanti akan menemukan berbagai hal menarik
Salam saya
Bukan komentar melankolis dan mungkin OOT nih, Mbakyu-ku, tapi kemarin itu… sepanjang perjalanan ke TP aku mikir-mikir, “Kok Surabaya jadi ikutan Nyepi gini, sih?”
Pertanyaan itu terus menerus bermain di dalam isi kepalaku sampai akhirnya aku menemukan jawabannya, persis lima belas menit berikutnya.
Tau apa jawabannya?
Jalanan sepi karena semua pada ngumpul di TP!
Gila! Rame benerrrrrrrr….
*I’ve told you, ini adalah komentar yang OOT.. hehehehehe*
Halah… La…..
lagi-lagi kita sama…
aku juga mikir gitu dalam perjalananku ke TP malam itu,
dan aku juga lalu ada disana ditengah keramaian itu… hehe.. kok kita nggak ketemu ya?
Kalau pengin konsentrasi, setiap malam saya nyetel radio yang menemaniku sepanjang malam sampai pagi. Pernah tertidur tanpa radio bunyi, wahh begitu terbagun ditengah malam jadi sulit tidur…ada suara tikus mencicit, suara burung (entah burung apa kok malam-malam, mungkinkah burung kedasih?)…suara air mengalir dsb nya. Tapi jika pengin merenung, bersembahyang maka di saat sepi lah kita bisa dengan tenang berdoa…
Temanku (orang Hindu Bali) yang lagi nyepi malah bales sms, padahal saat itu lagi di Bali, dan begitu aku protes, katanya kalau sms boleh….hehehe
Tanggal 26 Maret 09, karena libur ditengah hari Minggu, cewek berlima malah bersenang-senang mengunjungi Salihara…dan senang ketemu pak Hanafi (yang melukis “Ruang dan Bayang”)…
Jadi Ibu dan teman-teman merayakan Nyepi di Salihara? .. wah.. seru pastinya…
haha kalo dirumah saya yang gunung cenderung sepi dan nyeyat
jadi hari kebanyakan selalu sepi
saya selalu telat komentar di tempat mbak tanti
Etawa-nya nggak ada bunyinya Mas? hehehe…
Eh, lebih baik telat daripada nggak sama sekali lho, terima kasih…
Saya malah lebih telat lagi kalo komen ditempat mas Totok udah antrian nomor puluhan..
Saya sesekali perlu juga menyepi untuk introspeksi dan refleksi… agar jalan saya yang mungkin melenceng menjadi lurus kembali…kali ya…
Btw, Hari Raya Nyepi memang sepi mbak. Kalo Hari Raya Ngrame, baru rame…hehehe…
Hari Raya Ngrame? jadi wajib rame-rame gitu?..hahaha…
*nyari-nyari di kalender, yang mana tanggal merah libur Hari Raya Ngrame?*
setiap pagi telinga saya diisi oleh keributan kecil jelang anak2 berangkat sekolah; yg kehilangan pensil-lah, yg nyari kaos kaki-lah… pokoknya menegangkan sekaligus menyenangkan… bila saya jauh dari mereka, saya selalu merindukan suara2 itu…
Ah iya Uda,..kalo suara-suara yang itu, meskipun tidak merdu, tanpa nada yang harmonis, tapi selalu terdengar indah ditelinga… suara-suara ribut yang ‘ngangeni’… hehehe
Ketidak beruntungan diibaratkan oleh orang bijak di kampung kami dengan istilah: Kesunyian ditengah Keramaian
Meskipun ramai disekitarnya tapi di hati terasa sunyi begitu ya?
*manggut-manggut*
suara yang paling sulit di dengar,
karena kita cenderung melawannya
adalah suara hati….
telingaku termasuk sensitif, termasuk pada suara yang “aneh-aneh” hehehe. Dan berkat bakat itu, aku bisa mengulang lagu tanpa bisa membaca not.
Suara hati memang tidak bisa didengar dari telinga karena datangnya dari nurani dan akal budi
Biasanya telingaku juga cukup sensitif tapi entah kenapa sering ada gangguan pendengaran yang tiba-tiba saat Listening pada Tes TOEFL… hihihi
*alasan, nggak bisa mah ya nggak bisa ajah*
Waktu nyepi aku ikutan masuk Goa mbak
bukan ngerayain Nyepi tapi lagi pengenmenghindar dari hiruk pikuk aja…sekedar menyemangati diri dan intropeksi.
kadang sepi bisa ngembaliin moodku yang ilang…
semoga suara2 yg akan tertangkap di telingan yang menyenangkan.
Hening tanpa suara bisa jadi recharge yah? boleh juga…
Pa kabar mbak?
Lama nih enggak nongol kemana aja ? walah salah ya…..
oh ternyata lagi nyepi toh ya wes aku pulang dulu ya… udah malem nih.. ngantuk huaaah…
Kabar baik…
) Lah… baru sebentar main kesini kok buru-buru pulang sih… Yo wis, kalo ngantuk deh, besok2 main lagi yah…
Eh, bukannya Abi yang nggak nongol-nongol? KArena lagi nyepi di Palembang (nyepi apa kesepian ya?