jump to navigation

Muatan Beban April 27, 2009

Posted by tantikris in lens story.
trackback

Hidup bagai melaju  berkendara diatas roda, berjalan menyusuri waktu. Kadang ngebut, kadang melambat, sesekali berhenti, beristirahat untuk kemudian kembali berjalan lagi, sampai nanti di tujuan akhir perhentian.

11

Perjalanan tak selalu ringan, ada beban yang harus dibawa sebagai muatan. Kadang beban itu begitu berat, tapi bisa dikemas dengan ringkas, mudah dibawa, meskipun berat tapi tak begitu membebani.

21

Kadang muatan itu tampak begitu besar, padahal sesungguhnya bila ditimbang tak seberapa  berat bebannya. Beban itu terlihat seolah-olah begitu besarnya, menyesakkan menyita segala kekuatan, apa semua itu bukan karena tak pandai mengemasnya dan membuatnya jadi sesuatu yang padat? Beban itu sebenarnya tidak seberat kelihatannya kok.

31

Kadang beban itu memang tak bisa ditanggung sendiri. Perlu orang lain menolong, perlu seseorang untuk berbagi. Berdua lebih baik daripada sendiri, saling bertolongan menanggung beban akan membuatnya jadi lebih ringan.

42

Tapi bila beban itu memang besar dan berat, mengapa harus dipaksakan untuk dibawa sekali muat? Meskipun sudah ada orang yang diajak berbagi, bukankah kadang itu diluar batas kemampuan? Memaksakan diri akan membuat semua lelah, bahkan membahayakan orang yang menolong dan diri sendiri. Kenapa tidak dibawa sedikit sedikit sebatas kemampuan, supaya aman bagi semua?

5

Muatan beban akan selalu ada dalam perjalanan, bijaksana membawanya akan membuat nyaman dan aman. Sesekali turunkan muatan, naikkan lagi, berat dan ringan terus berganti sesuai kemampuan, jalani dengan damai sampai saatnya nanti tiba di akhir perhentian.

Comments»

1. Muzda - April 28, 2009

Ingin semua diselesaikan dengan instan, ingin cepat sampai tujuan sekali jalan …
Mungkin itu alasannya Mb’ …?
Ingin semua berjalan sesuai keinginannya … walaupun itu berarti mengorbankan kenyamanan, orang yang dicintai, dan mempersingkat hidup ..

Mungkin juga ya?.. setiap orang punya pertimbangan masing-masing…

2. Nug - April 28, 2009

Hm.. bacanya bentar yaa.. aku lagi nikmati foto2nya. Boleh aku copy untuk memberi contoh saat memberi materi Safey Riding ? Seru2 nih.. :)

*nunggu dibaca tulisannya*
Silahkan kalo mau di copy, ini kan contoh-contoh ‘unsafety riding’ yah?…

3. edratna - April 28, 2009

Mungkin kalau mereka bolak-balik ongkos bensinnya mahal…..juga jarak tempuhnya lumayan jauh.
Tapi di satu sisi, membahayakan diri sendiri dan orang lain

Untuk memutuskan suatu tindakan yang tepat memang harus mempertimbangkan berbagai sisi dengan cermat, begitu ya Bu? :)

4. p u a k - April 28, 2009

Aku nangkep point dalam tulisan ini.
Setiap orang punya salib yang harus dipikul dalam hidupnya.
Bagaimana caranya supaya salib itu bisa sampai ketempat tujuan akhir dengan nyaman, tergantung kita yang memikulnya.

Bisa ditangkap begitu Puak, you got the point … ini tentang gambar yang bisa bercerita banyak ;)

5. DV - April 29, 2009

Setuju dengan Puak, ada point yang “arif” dalam tulisan ini.
Rasanya beban kehidupan itu tak kan terlihat terlalu berat kalau kita berpikir dan mempersiapkan jalan keluar secara terperinci dan tetap dengan kelegaan hati, serta sebaliknya, akan tampak terlalu ringan kalau kita “nggampangke” :)

Salut untuk foto, tulisan dan maknanya :)

Thanks Don, senang kalo bisa ditangkap maknanya :)

6. prameswari - April 29, 2009

Mbak……kamu moto sambil berenti nyetir kah?
atau sambil nyetir? hihihi
kalo sambil nyetir, betapa aku melewatkan progress mu mbak.
hehehe

Hehe… aku dah hampir jadi fotografer (amatir) beneran nih..
*smug*
Motret sambil nyetir? haih.. itu kan menyalahi safety riding.. hihihi..

7. abindut - April 30, 2009

Beban itu sebenarnya tidak seberat kelihatannya kok.
He…he…he.. udah ganti profesi ya mbak.. Ups :D
*serius nih*
Kali ini tulisannya ringan dan maknanya dalam, udah dapet nih maknanya.. (manggut-manggut sok ngerti)
Berarti kalau jualan somay dengan motor kira-kira benbannya dimana ya ?
Enggak nyambung.com

Ganti profesi? nggak kok Bi… janji mbak gak bakalan ikutan jualan somay, apalagi pake motor gitu… Nggak tega jadi kompetitornya Abi.. hehehe

8. Nug - April 30, 2009

Akh.. suatu analogi kehidupan yang bagus sekali..

Hidup bagai roda..
Dimulai dari berhenti, melaju (kadang kencang kadang pelan) dan suatu titik akan berhenti lagi.

Membawa muatan juga harus bijaksana..
Barang kali selain berkaitan dengan berat dan ringan serta jumlah bebannya.. kita mungkin juga harus mulai memikirkan “isi” muatan itu yaa.. agar bisa memberi sebesar-besar manfaat bagi kita (dan mungkin orang lain) dalam keterbatasan kita sbg manusia biasa ini.. :)

Isi muatannya.. ah ya, benar… Thanks sudah menambah muatan makna dalam tulisan ini :)

9. abindut - April 30, 2009

eh mbak…
liat foto yang bawah keren juga ya..
Bisa tolong tanya sama abang motornya, belajarnya dimana bisa seperti itu :D
BTW ini pas lagi dimana ngambil fotonya.. ?

Kaya’nya si abang motor itu mantan pemain sirkus deh Bi,.. ntar kalo ketemu lagi mbak tanyain deh.. hihihi. Ini ngambil fotonya dari dalam mobil, pada sore hari, dalam perjalanan pulang dari pusat kota menuju rumah di pinggir kota

10. tutinonka - May 1, 2009

Wah …. bawa beban kayak gitu nggak ditilang polisi ya? Itu kan bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga membahayakan orang lain (bayangkan kalau buntelan-buntelan itu jatuh padahal motor sedang melaju kencang!). Mosok sepeda motor buat ngangkut bawaan yang harusnya masuk satu bak mobil pick-up …
Eh, pada foto yang kedua, buntelannya pakai helm juga ya … hihihi …

Itulah mbak, saya juga heran kok. Saya juga jadi mikir dan prihatin, tuntutan ekonomi membuat orang berjuang begitu rupa untuk bisa bertahan, yang disisi lain itu membuatnya ambil jalan pintas yang tidak mengutamakan keselamatan baik diri sendiri dan orang lain pengguna jalan lainnya.

He eh… buntelan yang kedua pake helm biar aman mungkin… makanya nggak disemprit pak polisi… hihihi…

11. annosmile - May 1, 2009

wah..walaupun gag berat tetep berbahaya tuh

Saya yakin, pasti team touring nggak akan melakukan yang seperti itu kan?
safety riding, right? ;)

12. Daniel Mahendra - May 1, 2009

Ada orang yang untuk mendapatkan beberapa rupiah, mesti berpeluh setengah mati, mengambil resiko besar, dan rela melakukan itu sepanjang ia bisa.

Mereka bukan bermaksud mengambil jalan pintas dan praktis. Kalau bisa lebih save, tentu mereka akan pilih yang lebih save. Tapi kita cenderung memandang itu semua dari kacamata kita.

Bagaimana kiranya jika kita berada di posisinya? Bisa menyewa mobil angkut? Setara dengan biaya yang dikeluarkan? Kita akan terbata-bata menjawabnya.

Dan foto human interest di atas sudah membicarakan itu semua. Aku suka foto-foto yang bisa berbicara seperti itu. Ia hidup dan mengisahkan cerita tentang manusia.

Tapi lebih suka lagi pada manusia yang jeli menangkap serta mengabarkan pada sesama manusia, bahwa hidup seperti itu: ada!

Melihat kehidupan orang lain, mencoba memandang dari sudut pandang orang lain, peka terhadap kehidupan disekitar kita akan membuat kita lebih menghargai hidup itu sendiri.. :)

13. goenoeng - May 6, 2009

saya yakin, setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengukur beban dan bagaimana cara membawanya. saya juga yakin, bila ada cara yang lebih ‘menyenangkan’ untuk membawa beban itu, pasti itulah yang akan diambil.
melihat dari sudut pandang orang lain, berarti juga harus masuk kesetiap porinya, tak bisa hanya kasat mata, atau hanya berandai2 saja. itu yang saya tahu.

sehat mbak Tanti ? :)

Betul, setuju
*manggut-manggut*

Kabar disini baik dan sehat, nah mas Goenoeng apa kabar? semoga sehat2 juga :)

14. guskar - May 8, 2009

gambar2 motor yg kelebihan muatan seperti di atas, mengingatkan saya ketika menghadiri peresmian pabrik sepeda motor India. Mereka menayangkan sebuah slide, yg isinya perilaku masyarakat Indonesia dlm berkendara motor dan ternyata itu menjadi latar belakang mereka membuat pabrik motor di Indonesia, dan di akhir tayangan muncul tulisan : Anda Inspirasinya.
Saya dan para hadirin, tersenyum kecut.

haih?… inspirasi?
*ikutan tersenyum kecut*

15. Daniel Mahendra - May 10, 2009

Mbak, makasih atas postingan ini…
Mbak, mata batinmu…
Makasih.

My pleasure, Dan :)

16. ernalilis - May 25, 2009

Tan, berat-ringan beban sebenarnya tergantung juga pada siapa yang mambawanya kan? Mirip dengan kata bijak berikut :
Jika kita punya hati seluas samudra maka masalah sebesar apapun yang mengeruhkannya.
Dan Tuhan Maha Bijaksana, DIA tidak aka memberi beban melebihi kekuatan umatNYA.

Benar sekali :)

17. genthokelir - May 27, 2009

walah kalo itu yang terlihat seperti itupula yang kadang aku rasakan
seperti itu juga yang kadang di alami
terima kasih untuk nasihat yang tersisip

Terima kasi kembali :)