Jejak Langkah June 1, 2009
Posted by tantikris in reflection.trackback
Siang hari yang terik itu dari jendela ruang kerjaku aku melihat beberapa taruna sedang berjalan berkelompok, aku tahu mereka itu sebenarnya tidak sedang latihan baris berbaris, kelihatannya sih baru selesai kuliah. Awalnya aku senyum sendiri melihat mereka, sebagai orang sipil aku heran kenapa jalan bersama saja harus berbaris seperti itu, tapi selanjutnya aku kagum melihat gaya mereka berjalan yang tegap, teratur, berirama, serentak bersama dalam barisan yang rapi.
Kata orang, sifat dan sikap seseorang kadang bisa dilihat dari caranya berjalan atau melangkah, Kalau kuamati, temanku yang gaya berjalannya pelan dan thimik-thimik (bhs Jawa = berjalan dengan langkah-langkah kecil dan pelan) dalam kehidupan sehari-harinya tampak lebih kalem, kadang cenderung agak lamban atau peragu dalam mengambil keputusan.
Sebaliknya mereka yang berjalan dengan cepat kuamati kok biasanya lebih cekatan, tangkas dan efisien, meskipun ada juga yang kesannya jadi tampak nggak sabaran atau grusa grusu dalam kehidupan sehari-harinya. Eh, tapi ini entah benar, entah tidak tidak lho ya, belum terbukti korelasinya. Tapi satu hal yang pasti, derap langkah dan jejak yang ditinggalkan, apapun itu cara dan bentuknya adalah sesuatu yang sangat punya arti dalam kehidupan ini.
Di Jawa ada ritual yang disebut upacara “tedhak siten” (tedhak = idak = injak, siten = siti = tanah)
Upacara ini diselenggarakan untuk seorang anak saat mencapai usia 7 bulan (bulan dalam hitungan Jawa, selapan = 35 hari) saat seorang anak mulai bisa berjalan. Sudah jarang sekali kulihat orang melakukan ritual ini dimasa sekarang ini, mungkin hanya keluarga tertentu saja yang masih memegang keyakinan atau melestarikan adat menyelenggarakannya.
Meskipun lahir dan besar di Jogjakarta, dulu orang tuaku tidak melaksanakan upacara itu untukku, dan dimasa kinipun aku tidak berpikir melakukannya untuk anakku. Bukan berarti tidak menghargai adat tetapi aku merasa cukup menangkap esensinya saja, hal baik yang bisa diterapkan dengan cara lain.
Kehidupan manusia yang dinamis sering digambarkan dengan langkah-langkahnya dalam kehidupan. Saat seorang anak mulai bisa menjejakkan kakinya di tanah dan belajar berjalan, mulailah dia memasuki kehidupan yang sebenarnya, mulailah dia menghadapi dunianya.
Langkah-langkah yang ditempuh seseorang akan meninggalkan jejak yang bisa dilihat oleh orang lain. Secara harfiah, jejak kaki bisa dipakai untuk mengidentifikasi siapa yang sudah melangkah dan meninggalkannya itu. Bahkan jejak-jejak kaki bisa jadi petunjuk tentang suatu tempat arah tujuan langkah si empunya kaki.
Jejak langkah akan tampak berdasarkan cara melangkah, darinya mungkin terlihat arah dan tujuan langkahnya. Manusia hidup tidak sendiri, sekelompok orang mungkin melangkah seperti para taruna yang berbaris rapi tadi, tegap, mantap berjalan sama ke satu tujuan. Sebagian lain mungkin tidak jelas kemana arah langkahnya, jejak yang ditinggalkannya saling bertumpukan tidak jelas, bahkan mungkin jadi tak tampak. Sebagian lagi mungkin meninggalkan jejak istimewa yang jadi inspirasi atau teladan bagi sesamanya.
Berbicara mengenai langkah dan jejak kaki, aku jadi teringat akan puisi indah yang ditulis oleh Mary Stevenson (1936) yang sangat terkenal itu. Puisi indah berjudul “Footprints in the Sand” ini akan kuterjemahkan secara bebas untuk jadi penutup posting ini.

Suatu malam aku bermimpi sedang berjalan di pantai bersama Tuhan. Berbagai adegan kisah-kisah hidupku tampak berkelebatan di langit. Pada masing-masing kilasan kisah itu kulihat ada jejak-jejak kaki di pasir, kadang ada dua pasang jejak kaki, kadang hanya satu pasang.
Hatiku jadi risau saat kuperhatikan bahwa disaat aku berada dalam kesedihan, penderitaan dan kegagalan, saat itu ternyata hanya kulihat satu pasang jejak kaki saja.
Lalu aku bertanya pada Tuhan
“Tuhan, Kau berjanji bahwa jika aku mengikutiMu Kau akan selalu berjalan bersamaku. Tetapi ternyata pada saat aku berada dalam masa-masa yang berat kulihat hanya ada sepasang jejak kaki disana. Mengapa disaat aku sangat memerlukanMu, Kau tak ada disana bersamaku?”
Tuhan menjawab
“Disaat kau hanya melihat sepasang jejak kaki di pasir, itu adalah saat dimana Aku sedang menggendongmu”
* gambar diambil dari sini
wah aku mungkin termasuk yang grasa grusu itu tuh…
Ya aku selalu baca Footprints itu jika merasa sepi dan bertanya di manakah Engkau Tuhan… Indah ya.
EM
Wah kalau menurutku Imelda itu termasuk yang cekatan dan efisien, all round deh
Puisi ini memang indah, Tuhan tak pernah jauh dari kita tapi kita sering tak menyadarinya..
Wow… Puisi lama yg dulu kerap dibawakan dalam retret membuatku ingat lagi, Mbak Tanti
Aku mungkin termasuk yg grusa grusu itu hehehehe
Senang bisa membagikan sesuatu yang membawa memori
Grusa grusu? eh.. belum pernah ketemu sih, tapi aku yakin pasti DV bukan termasuk yang klemak-klemek dan kalo jalan thimik-thimik..hehehe
Tiba-tiba, sumpah.
Aku tiba-tiba merinding membaca baris terakhir itu. Jawaban dari Tuhan.
Bukan karena takut kan Muzda?
Itu jawaban yang indah..
Saya termasuk yang jalan cepat, tapi tetap aja kalah dengan orang-orang yang terbiasa naik gunung, atau orang bule.
Pernah ikut seminar, di email dikatakan kalau hotelnya dekat…only ten minutes walks to the venue….
Ternyata saya berjalan cepat, pakai mengeh-menggeh (musim dingin soalnya), dan 30 menit….hahaha…lha kaki dia melangkah satu langkah, saya tiga langkah.
Kalau saya lagi kalem hari itu, bos tanya…”Kamu sakit?”, dengan nada prihatin…huahuahua….makanya saya tak cocok tinggal di Yogya Tanti, jadi setelah setahun dipindah ke Jakarta….
Hehe.. iya ya Bu, meskipun jalan cepat tapi langkahnya pendek2, abis udah dari sononya sih.. persis kaya’ saya tuh..hihihi.. Wah, jangan2 dulu sebenarnya saya udah pernah ketemu Bu Enny di kantor ibu saya ya? mungkin lho Bu… *mencoba mengingat-ingat*
tulisan ini juga mengingatkan saya akan lukisan yang sama persis tergantung di rumah kakak saya, juga merupakan suatu peringatan bagi kita untuk tetap setia dalam menjalani liku kehidupan dan berserah pada Nya mengingat kelemahan-kelemahan yang kita punya.Namun kelemahan itulah yang menjadi kekuatan nyata untuk tetap berharap.
Hm.. aku sering di-complaint jika jalan sama orang suka lupa dan ninggalin karena ritme jalanku yang terbiasa cepat (+ dengan langkah kakiku yang panjang2)…
Suatu habit kali yah..? Saat berjalan (tentu dari suatu titik menuju titik lain), aku cenderung jalan secepat mungkin. Kalo emang capek atau tujuannya mau leyeh2, yaa berhenti, duduk, atau tidur2an sekalian, menikmatinya masa leyeh2 itu…
Nah, kalo aku tuh orang yang suka mengkomplain itu mas, soalnya sering juga ditinggalin kaya’ gitu… hihi… Padahal jalanku cepat lho, tapi apa daya tetap tak imbang, abis langkahku pendek-pendek sesuai kakiku… Ini sisi repotnya jadi orang pendek…
Kala sayaa kebiasaan kali ya…
kalau jalan begitu menikmati, hingga terkadang sering dikomplen temen karena sering ngilang enggak jelas…
Itu kaya’nya bukan menikmati jalannya tapi menikmati ‘pemandangan’ disekitarnya deh, soalnya….. Lho?… Abiiii… diajak ngomong kok diem aja..wah,.. mana dia? udah ngilang lagi.. huuuh…
makasi atas puisinya… salam kenal aja
Terima kasih kembali dan salam kenal…
mbak tanti,
‘puisi’ itu udah sering banget kudengar…tapi tetep aja blakangannya mesti bikin mrinding…fiuuuh
love this poem soo much ….