More Than Words June 25, 2009
Posted by tantikris in reflection.trackback
Pernah ngitung nggak berapa jumlah kata yang kau ucapkan setiap harinya? Lima ribu? Seratus ribu? atau lebih? (..ah, siapa juga yang mau ngitung, kok keisengan amat…) Tiap kata yang kita ucapkan punya arti, kata-kata tersusun membentuk kalimat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Bayi mengucapkan kata-kata yang tanpa makna..eh, mungkin itu bukan kata-kata, cuma suara-suara aja sih ya, semakin dewasa semakin bertambah pulalah perbendaharaan kata-kata kita.
Meskipun perbendaharaan kata-kata sudah berambah banyak, tapi kadang apa yang ada dipikiran nggak mudah diungkapkan dalam kata-kata yang tepat. Maksudnya begini, eh orang lain menangkapnya begitu, maunya ngomong begini, eh karena salah milih kata jadinya artinya lain.
Beberapa waktu terakhir ini aku harus mengikuti beberapa rapat (aduh, berasa kaya’ anggota DPR aja deh). Tahu kan apa yang orang lakukan dalam suatu rapat? Membahas suatu permasalahan, menyampaikan laporan, memberikan masukan, mencari rumusan, adu argumentasi, mencari kata sepakat, pokoknya ngomong, ngomong dan ngomooong…
Ada peserta rapat yang mengemukakan pendapatnya dengan berapi-api, ngomong panjang lebar berputar-putar tapi nggak jelas apa maksud dan tujuannya, nggak menjawab permasalahan yang dibahasnya. Ada juga yang bicaranya cukup singkat tapi kata-kata yang dipilihnya sangat tepat mewakili ide pemikiran yang diungkapkan, bahkan inspiratif dan membuat suasana menjadi lebih kondusif.
Ada pimpinan sidang yang kesulitan menuangkan resume dari hasil bahasan dalam suatu kalimat dan akhirnya bilang.. “..udah deh..pokoknya maksudnya seperti ini, kalimatnya terserah”.. lah sekretarisnya juga nggak tahu mau nulis gimana, dia juga sama bingungnya. Belum lagi waktu presentasi hasil bahasan, beberapa kali terjadi butuh waktu yang cukup panjang hanya untuk berdebat mencari padanan kata yang tepat untuk suatu istilah yang bisa mewakili suatu ide pikiran yang ingin dituangkan.
Lagi, kadang peserta sibuk mengomentari bukan substansi materi tapi istilah yang dipakai… “jangan pakai kata itu, artinya jadi lain…”, yang lain menyanggah, “bukan begitu maksudnya, ini adalah..bla..bla..bla” dan seterusnya dan seterusnya. Padahal peserta rapat adalah orang-orang dewasa yang pastinya perbendaharaan katanya cukup banyak. Mereka juga cukup well educated, malahan rata-rata memahami lebih dari satu bahasa, tapi ternyata kok susah juga.
Ternyata meskipun tersedia berbagai pilihan kata, menuangkan isi pikiran dalam kata-kata itu tidak selalu mudah. Ada orang tertentu yang punya kemampuan baik dalam berkata-kata, tapi ada orang yang sulit untuk berkata-kata. Tapi kalau dipikir-pikir, asalkan orang itu dikaruniai kemampuan untuk bicara, ketrampilan untuk berkata-kata itu sebenarnya adalah sesuatu yang dapat dilatih.
Pepatah mengatakan, ala bisa karena biasa, practice make perfect. Hanya, kadang orang cenderung tidak memperhatikan apa yang mereka katakan, kadang tidak sadar kalau orang bisa berpretensi lain terhadap apa yang dikemukakan, kadang tidak sadar kalau apa yang diucapkan bisa menyakitkan hati orang lain.
Kata-kata yang diucapkan adalah ungkapan perasaan dan pemikiran yang menunjukkan pribadi seseorang. Kata-kata yang diucapkan oleh orang yang punya sikap berpikir positif akan menolong orang lain, mungkin menyejukkan hati, sesuatu yang bersifat membangun. Orang yang bijaksana mampu memilih kata-kata mana yang harus diucapkan dan yang tidak perlu disampaikan.
Eh, tapi apa semua yang ada dalam pikiran dapat diungkapkan dalam kata-kata? Ternyata ada juga lho hal-hal yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata tapi bisa dimengerti, tidak diucapkan tapi bisa dirasakan.
CINTA misalnya. Kadang kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkannya, kadang bahkan tidak perlu terucap kata-kata, tapi terasa dalam hati dan itu sudah sangat berarti. Just feel it, it’s more than words !!
Saying I LOVE YOU
is not the words I want to hear from you
Its not that I want you
not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
then you wouldnt have to say that you love me
cos I’d already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
that your love for me is real
What would you say if I took those words away
then you couldnt make things new
just by saying I LOVE YOU
Now I’ve tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
and just reach out your hands and touch me
hold me close don’t ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
then you wouldnt have to say that you love me
cos I’d already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
that your love for me is real
What would you say if I took those words away
then you couldnt make things new
just by saying I LOVE YOU
(“More than words” – Extreme)
Lagu iki mesti lagu sing ngetop jaman kowe isih band-band-an mbiyen yo Mbak
Ho oh pho ra? Hayo ngakuuuu!!!
Btw, menarik juga nek kita mbikin alat wordcounter yang menghitung berapa kata terucap dari cangkem kita… cuman aku mikir bakalan susah melogikakan berapa jumlah kata untuk penggalan semacam “di mana” atau “ahhhhh” atau “croottt” hahaha..
Guyon lho… have a nice day!
Lah… jadi ketahuan seberapa tuanya akyu yo? hihihi… Eh, tentang word counter, aku juga kepikiran ide itu… tapi nggak penting kaya’nya ya… buat apa gitu loh…
Tanti… banyak yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.
Yang pasti banyak kata bahasa Jepang yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi satu kata yang tepat. Dan kebanyakan adalah kata-kata yang merujuk ke perasaan, tingkah, pemikiran. Karena itu jika teman bicaraku bisa bahasa Jepang lebih senang mengungkapkannya dalam bahasa Jepang.
Mungkin kita perlu tanya si Penganyam kata pemecahannya (dan dia bilang, anyam saja menjadi…. kelambu hahaha)
EM
Aku sudah lama pengin belajar bahasa Jepang belum kesampean.. hiks..
)
Pemecahan masalah menyatakan sesuatu dalam kata-kata mungkin kurang tepat ditanyakan pada si Penganyam Kata, wong dia kerjanya menganyam, bukan memecah.. hihihi… eniwei, dia lagi sibuk tuh…
Walah, ponakanku yang masih belajar pacaran malah bingung kok pacarnya gak banyak ngomong sayang-sayang, Mbak ..
Rupanya menurut dia, tindakan aja gak cukup, heheee
*bukan generasi Extreme sih*
Ponakan Muzda baru belajar pacaran, lha kalo tantenya gimana? *wink*
Words ?
Hhhhmmm … ada banyak hal yang bisa dikatakan …
Tetapi banyak hal pula yang tidak bisa dikatakan …
hanya bisa di rasakan …
dan kalau sudah begitu … aku ingat …
“If a picture paints a thousand words …”
“….. then why can’t I paint you? The words will never show te you I’ve come to know…”
*jadi ikut bersenandung*
Saya, meskipun sudah cukup sering menulis (halah!) masih sering juga kesulitan menemukan suatu kata yang benar-benar bisa mewakili perasaan dan pikiran saya, atau kesan yang saya tangkap dari sesuatu. Sebenarnya, siapa sih yang memiliki ‘hak’ untuk menciptakan kata? Bukankah kata-kata yang sekarang kita pakai dalam berbagai bahasa ini, awalnya diciptakan oleh manusia juga? Boleh nggak sih kita menciptakan kata-kata kita sendiri?
Boleh kali’ ya mbak?… Eh, saya malah mikir gimana kalo kata kerjanya satu aja.. seperti Smurf itu.. Kalo mau smurf tinggal smurf smurf aja… kan gampang tuh ngomongnya, tapi paham nggak ya?… hihihi…
*
*ups, mbak Tuti baca komik Smurf nggak?
Membaca komentar kamu tentang Smurf Tan…
Di sini juga ada Pikachu, dari Poketo Monster (Pokemon). Nah dia kan juga cuma bilang…. “Pika…” untuk segala hal…. tapi yang dilihat adalah ekspresinya. Masalahnya kalau orang tidak bisa membaca ekspresi orang lain,…. atau jarak jauh misalnya, runyam deh.
Tapi bener deh, kalau kamu bisa bahasa Jepang, banyak sekali yang bisa diungkapkan dengan kata… Aku bener-bener ingin menerjemahkan kata-kata itu atau seperti mbak Tuti bilang, ingin “menciptakan” kata-kata baru. Atau jadikan saja kata Jepang itu sbg kata bhs Indonesia. Wong mau ngomong sakit gigi yang bagaimana aja ada tuh… bukan hanya ngilu atau sakit/nyeri. (Saya yakin dalam bahasa jawa juga ada meskipun jumlahnya mungkin lebih sedikit dari bahasa Jepang.
Hayuk belajar bahasa Jepang online
hihihi. Aku udah ada sertifikat guru kok (masalahnya bukan itu sih ya… waktu waktu waktu… \:d/)
EM
Jadi tidak sekedar “more than words” tapi juga “need more words” kelihatannya ya.. hmm..hmm…
Belajar bahasa Jepang online?.. wow menarik juga… tapi bisa disiplin gak ya.. ol aja kadang iya kadang nggak..
*masih pengin*
Apalah artinya kata-kata bagi yang memahami tatapan.
apalah arti tatapan kalo cuma mau ngutang doang…..
Hihihi… jadi kebayang… tatapan mau ngutang tuh kaya’ apa ya… memelas kali’…
Pernah dapat curlong temen yang bilang dia gak merasa cukup untuk menerima cinta hanya dengan implisit, tanpa pernah dinyatakan dengan tegas dan diwujudkan dengan tindakan real sehari-hari. Keduanya harus bisa tertangkap dengan jelas..
Hm..
Sebenarnya keduanya saling terkait ya. Kata2 atau tindakan yang keluar tanpa ketulusan, juga akan terasa hambar.. Sama2 tersenyum bisa diartikan sebagai sebuah salam persahabatan atau keramahan yang hangat, bisa dirasakan menggetarkan saat dialiri dengan frekwensi cinta, bisa dinilai sebagai sindiran sinis dan tajam, semua sangat tergantung gimana seyum itu diekspresikan.
So, kesimpulannya.. mbuh akh.. mumet aku liat si A senyum2 melulu dari tadi…!! Jiakakakak..
Walah… kenapa dengan senyum si A mas? said something more than words to you? hayooo…. hihihi
Loh memang mesti berkata-kata ya…
Nah kalau kebanyakan kata juga terkadang bikin mumet…
Mumet juga dengerin orang ceriwis ya… hihihi… ceriwis .. yo wiss…
Sebenarnya kata dan tindakan selayaknya sepadan…ada yang tak bisa diungkapkan namun bisa terlihat dari tindakan nyata
Yup… mestinya begitu
more than words nya extreme emang kueren abist…. forever ever after….:D