jump to navigation

Lost in Translation November 3, 2009

Posted by tantikris in story.
trackback

Berbicara dan berkomunikasi  dalam bahasa asing yang bukan bahasa ibu bukanlah hal yang mudah untuk sebagian besar orang. Salah menterjemahkan, bisa salah artinya, yang kadang-kadang bisa berakibat fatal. Tidak jarang pula, ada kata-kata yang sama tapi ternyata artinya bisa berbeda jauh.

Urusan dengan bahasa ini kualami dalam perjalanan kami ke Bangkok dan Beijing beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, dua negara tadi punya alfabet khusus dalam bahasa tulisnya, yang dua-duanya tidak kupahami. Belum lagi bahasa verbalnya yang buatku tidak saja asing dalam kata-katanya tapi juga nada pengucapannya (tentunya begitu pulalah mereka memandang kami bila sedang bicara bahasa Indonesia atau bahasa Jawa). Nah, tentu saja yang diandalkan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Saat berada di Bangkok, tidak terlalu masalah karena di sektor publik, relatif banyak orang yang menguasai bahasa Inggris, meskipun dengan aksen Thai yang kental, tidak heran karena kota ini adalah salah satu kota wisata dan bisnis yang terkenal di kawasan Asia. Tapi kami mengalami masalah waktu berada di Beijing yang dimulai sejak kedatangan pada waktu cek in di hotel.  

Tidak ada masalah pada waktu kami menyodorkan print out reservasi via internet, paspor dan lain-lain, sang resepsionis hanya sedikit berkata-kata dan memeriksa reservasi kami di komputer. Masalah tiba waktu dia dengan terbata-bata berbicara -dalam bahasa Inggris beraksen Cina yang susah dipahami- bahwa kamar yang kami pesan tidak tersedia malam itu, baru bisa besok malam. Lho kok?

Dengan wajah serius dan tanpa senyum sama sekali dia lalu mengambil brosur dan menunjukkan pada kami bawa kamar yang tersedia untuk malam ini adalah kamar suite.  Kamar ini lebih besar  dan tidak kami perlukan karena hanya berdua, selain itu tentu saja harganya jauh lebih mahal dari yang kami bayarkan. Kami bertanya kenapa bisa begitu karena pada reservasi sudah tertera confirm dan semuanya sudah dibayarkan melalui kartu kredit. Dia tampak bingung lalu memanggil temannya dan bercakap-cakap dalam bahasa Cina yang tak kupahami. Temannya lalu mengambil alih dan mencoba menjelaskan, tapi rupanya bahasa Inggrisnya tak lebih baik dari temannya tadi.

Akhirnya setelah susah payah saling menjelaskan barulah kami paham kalau kamar kami di upgrade ke suite room untuk malam itu dan malam berikutnya baru ke kamar pesanan kami. Oalah.. kalau begitu sih tidak masalah malah kebetulan..hehe.. kalau saja dia tadi menggunakan satu kata ‘upgrade’, mungkin kehebohan ini tidak terjadi.

Heran deh, resepsionis hotel kok nggak menguasai bahasa Inggris sih? Meskipun ‘cuma’ bintang 3 tapi hotel ini ada di kawasan strategis Wanfujing Street, yang merupakan area wisata dan belanja, tamu yang datangpun dari berbagai negara. Aku jadi bisa memperkirakan, kalau resepsionis hotel saja penguasaan bahasa Inggrisnya seperti itu pasti tidak bisa mengharapkan banyak pada orang-orang biasa diluar sana. Dan itu memang benar terbukti, baik supir taxi, penjual makanan, pramuniaga di toko-toko semua hanya bicara bahasa mereka, jarang sekali yang bisa bahasa Inggris

Kalau untuk komunikasi ringan sih, suamiku bisa sedikit –sedikit bicara dalam bahasa mereka, tapi bila akan pergi ke suatu tempat selain menyiapkan peta harus membawa kertas yang berisi nama tempat itu dalam tulisan Cina, jadi kalau nanya tinggal tunjuk dan orang yang ditanya akan paham, baru aman deh.

 Agak ironis waktu di sebuah toko buku besar di Beijing aku ingin mencari buku dari seorang pengarang, sementara tidak kulihat ada komputer katalog terpaksa aku harus bertanya pada petugas yang rupanya dari sekian banyak orang itu cuma satu orang yang bisa berbahasa Inggris. Meskipun sudah kutulis nama pengarang itu diatas kertas rupanya dia tidak tahu dan minta nama judul bukunya. Daripada repot bahasa tarzan aku minta untuk bisa mengetik dan mencari sendiri di komputer dan dia memberikan komputernya padaku. Dengan pedenya aku menghadapi layar monitor tapi kemudian jadi terbengong-bengong sendiri, gimana nggak bingung coba, aku nggak tahu dikolom mana harus mengisikan nama pengarang ini, lha wong semuanya dalam tulisan Cina… dasar dodol.. terpaksa deh nanya lagi dimana kolom untuk author… hehe..

Serasa jadi alien deh, berada diantara orang-orang –bahkan siaran televisi- yang berbicara dengan bahasa yang tidak kupahami. Susah amat sih berkomunikasi disini, aku masih bisa maklum kalau itu orang biasa yang ada diluar sana, tapi untuk orang yang bekerja di sektor pariwisata, di toko buku apa nggak seharusnya paham bahasa standar internasional ya, suka tidak suka, bahasa Inggris itulah. Tapi aku juga jadi berpikir, kondisi yang ada di negara kitapun mungkin tidak terlalu jauh berbeda, mungkin seperti ini juga yang dirasakan para turis kalau pergi ke tempat wisata di Indonesia. Selain di Bali, tidak banyak penduduk lokal yang mampu berbahasa Inggris, yang mudah ditanya atau diajak berkomunikasi.

Pada hari kedua di Beijing kami memutuskan untuk ikut paket tur sehari dari hotel, dan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 13 orang dari berbagai bangsa (bule semua, kecuali aku dan suami serta seorang warganegara India) barulah aku merasa senang bisa mendengar bahasa yang kupahami digunakan untuk komunikasi meskipun itu bahasa Inggris.

Buatku bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, tapi mau tidak mau harus bisa dikuasai dan dipahami kalau ingin eksis baik dalam tugas dan hal-hal lainnya, termasuk komunikasi ini. Meskipun tidak expert dalam hal ini, aku sempat tersenyum setelah mengernyitkan dahi membaca kalimat ini. Lihat deh susunan kalimat yang ada diatas kloset dalam toilet hotel di Beijing ini, bukannya pemilihan kata dan susunan kalimatnya aneh?

Gb1

Bandingkan dengan tulisan yang sama di sebuah hotel di Bangkok, nah yang ini lebih pas kan?

Gb 2

 

 

 

 

 

 

 

 

Tapi yang di Bangkok ini membuat aku jadi senyum-senyum sendiri waktu membaca kalimat yang ada di bungkus shower cap-nya, coba lihat.

Gb 3

I can take to the skies I can soar like a bird. With his heart full of song. Won’t you color my eyes. I’ve been waiting so long.

Kalimatnya kok kurang pas, juga nggak nyambung deh rasanya. Atau itu cuplikan syair atau apa ya? Kalau iya, tapi kok aneh rasanya ada disitu… apa hubungannya sama shower cap gitu lho? Hehe…

 

Bahasa memang sarana untuk berkomunikasi. Cara berbicara seseorang, tutur kata dan pemilihan kata-katanya mencerminkan pribadinya. Kemampuan berbicara dan penguasaan bahasa kadang jadi faktor yang berperan penting dalam berbagai hal. Tapi sebenarnya orang yang berkomunikasi dalam satu bahasa saja kadang masih bisa salah dalam menyatakan maksud hati, apalagi menterjemahkan dalam bahasa lain. Kadang memang tidak mudah mengungkapkan sesuatu dalam kata-kata, kadang bila diterjemahkan bisa bergeser maknanya karena tidak ada padanan katanya.

Tapi da beberapa hal yang tidak bisa atau tidak perlu diterjemahkan yang kutemui pada perjalanan kami kali ini. Seperti rangkaian bunga melati khas Thailand ini.

Gb 4

 

Begitu masuk ke taxi yang membawa kami dari bandara Svarnabhumi, melihat indahnya rangkaian ini tergantung pada spion diatas dashboard mobil, mencium harumnya yang merebak didalam mobil, tanpa bisa dan perlu diterjemahkan selalu mengingatkanku akan Bangkok pada setiap kunjunganku ke kota ini.

 

 

Atau pemandangan dibawah ini, melihat daun-daun yang berubah warnanya menjelang musim gugur sepanjang Badaling highway, kabut tipis yang menyelimuti salah satu sudut Forbidden City, tidak perlu banyak kata yang diucapkan, tidak perlu terjemahan apapun, sudah terwakili dengan kerjapan mata, helaan nafas dan mungkin satu kata saja, “indah”….

 Gb 5

Gb 6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu kata yang sama mungkin punya arti lain dalam bahasa yang lain pula. Aku tersenyum waktu membaca nama toko ini. Jangan salah, ini bukan toko sepatu, apalagi jualan semir, ini sebuah took di Wanjufing Street yag menjual pakaian pria.

 Gb 7

 

 

 

 

 

 

 

Apa arti kata ‘kapok’ dalam bahasa Cina ya? Yang jelas pasti pemilik hotel ini tidak ingin tamu-tamunya kapok datang ke hotelnya… hehehe. Dan meskipun aku merasa jadi alien saat berada disini karena sulit berkomunikasi dan tidak paham bahasanya, benar-benar aku tidak kapok datang ke Beijing. Suatu saat ingin kembali lagi berkunjung kesini, mungkin belajar dulu sedikit bahasa setempat akan sangat membantu.. pokoknya nggak kapok deh, bener lho  !!!

Gb 8

Comments»

1. DM - November 3, 2009

Sama halnya dengan di Jogja, sebagai kota wisata, ada saja kok yang pintar berbahasa Inggris dengan logat Jawa yang mendhok. Contohnya ya seperti yang punya blog ini… :D

Yang menggelikan tentu saja orang Jogja (yang berbahasa Inggris medhok itu) dengan pedenya mengambil alih komputer di sebuh toko buku, dan, olala… Siapa nyana: bertambah bengonglah ia… :) )

Rasanya seru juga kalau tulisan-tulisan sejenis di toilet seperti itu difoto dan dikoleksi dari berbagai bahasa. Pasti lucu-lucu… :)

So, perjalanan berikutnya mesti ke kota Paris. Di mana orang-orangnya paling malas berbahasa Inggris… ;)

Trus judulnya adalah “Parisihni in Paris”?… hmm.. keren juga ya..
*membayangkan*
*make a wish*
:D

2. DV - November 3, 2009

Wehh.. udah lama buanget nggak posting tho, Mbakyu… Kemana sajaaaaa

Kemana aja? cuma muter-muter disini-sini aja sih sebenernya..
hehe.. iya, baru nyadar udah lama banget nggak nulis… :D

3. Triunt - November 3, 2009

Thailand, hurufnya kayak huruf jawa ya..

salam kenal :)

He eh.. kaya’ ha na ca ra ka…
Salam kenal juga :)

4. kajo - November 3, 2009

Oleh-oleh yang mantab :) .
Tq dah nulis dalam bahasa dan huruf yang aku pahami :)
Tanti mang jagonya :)

Kalo nulisnya pake bahasa Cina lha kan aku nggak bisa… :D
Btw, masih ada lagi lho oleh-olehnya… tunggu di posting-posting berikutnya ya…

5. edratna - November 8, 2009

Udah lama nggak nengok kesini…baru tugas dan jalan2 ya?
Hmm memang repot juga ya, untuk beberapa negara memang tak semua bisa berbahasa Inggris, lebih sulit lagi jika punya huruf sendiri, seperti Jepang, China dsb nya.

Btw, baca tulisanmu jadi senyum2 sendiri, lha wong ke negara yang berbahasa Inggris aja kadang masih sulit karena “Slang” nya berbeda-beda….

Rupanya kita sama2 sibuk jalan kesana-kemari nih, jadi jarang saling berkunjung.. hehe. Iya Bu, jangankan ke luar negeri, pergi ke daerah lain di dalam negeri saja kita bisa kagok kalau nggak tahu bahasa dan kebiasaan setempat.. hehe.. disitu serunya ya… :D

6. nh18 - November 11, 2009

Hhhhmmmm … Ada Tiga Hal …
#1. Saya tertarik untuk mencari sebab … kenapa kata-kata itu ada di Shower cap … apa hubungannya … ini bukan plastik bekas pembungkus buku kan ?

#2. mengenai kesulitan bicara ? aaahhh been there as well …
ada yang lancar bahasa inggrisnya … namun aksennya ajaib … aaarrrgghh sama aja aku ndak ngerti … terpaksa pake bahasa Campur sari … (bukan campur sari lagi deng … tapi juga campur tarzan)
His name is also effort … (a.k.a namanya juga usaha …)

#3. Toko Semir ? Hotel Kapok ? … hah saya ketawa lagi …

Salam saya Mbak #

His name is also effort? huahahaha… saya ketawa juga..
Salam saya Oom Trainer :)