jump to navigation

Tawa Setelah Duka November 17, 2008

Posted by tantikris in story.
trackback

Saat kedukaan datang rasanya dunia tak berwarna, semua terlihat kelabu seperti mendung yang gelap. Tapi bukankah tak selamanya mendung itu kelabu? Kehidupan akan tetap berjalan, perlahan-lahan mendungpun akan hilang setelah hujan turun, langit akan kembali cerah bahkan mungkin akan tampak pelangi yang berwarna-warni.

 

Dalam “Sex and the City – the Movie”, hidup Carrie Bradshaw terasa hancur berkeping-keping saat Mr. Big meninggalkannya di altar hanya sesaat sebelum upacara pernikahan mereka. Pernikahan impian yang selama ini diidamkannya -yang sudah tepat ada didepan mata- tiba-tiba musnah dalam sekejap mata. Hidupnya segera berubah menjadi gelap kelabu hanya dalam beberapa saat.! Ketiga sahabatnya bertekad untuk menghiburnya, mereka sepakat menyertainya dalam liburan ke Mexico yang seharusnya jadi liburan bulan madunya, tapi apapun upaya mereka, seindah apapun tempat yang mereka kunjungi, tidak ada lagi Carrie yang ceria, yang ada hanya si cantik yang murung dan berduka.

Setelah beberapa hari mengurung diri mulailah Carrie mau bergabung bersama mereka  meskipun dengan setengah hati dan tanpa wajah senyum. Dalam satu percakapan dia sempat bertanya apakah dia bisa tertawa lagi setelah semua yang terjadi ini? Sahabatnya bilang (Miranda kalau tidak salah) tentu bisa. “Kapan ?” tanya Carrie, “Nanti kalau ada kejadian yang sangat-sangat lucu” demikian kata sahabatnya… huh, setelah apa yang dia alami, bahkan aku yang menontonpun tidak bisa membayangkan apa hal yang sangat lucu yang bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa.

 

Tapi memang, tak selamanya mendung itu kelabu. Sesuatu yang membuat Carrie tertawa itu akhirnya terjadi. Saat itu Carrie, Samantha dan Miranda sedang makan pagi di beranda tiba-tiba dari arah taman terlihatlah Charlotte berlari terbirit-birit menuju ke kamar mereka, dia habis berenang di pantai. Waktu mereka bertanya “Ada apa?” dan Charlotte tidak menjawab hanya memperlihatkan  ekspresi wajah yang tegang mengernyit menahan sesuatu,  kedua kakinya dirapatkan sambil berlari kecil tahulah mereka kalau dia sedang… kebelet pipis yang amat sangat ! Mereka semua tersenyum menahan tawa saat memberi tahu bahwa dia tidak bisa masuk karena kamar sedang dibersihkan oleh petugas cleaning service, yang tampak dari pintu kaca.

 

Senyum mereka meledak menjadi tawa tergelak-gelak karena akhirnya Charlotte tidak bisa lagi menahan pipisnya selagi masih berdiri didepan pintu. Ekspresinya bertambah lucu karena terlihat geram dan ‘mengancam’ teman-temannya untuk tidak berkata apa-apa lagi, sambil menghentak-hentakkan kakinya… huahaha… bertambahlah derai tawa teman-temannya, termasuk Carrie !! Ini tawa pertamanya, kejadian lucu itu ternyata bukanlah sesuatu yang istimewa.

 

Dua minggu yang lalu hidupku menjadi kelabu saat aku berada dalam kedukaan. Aku tak mampu tersenyum meski aku tahu hidupku harus tetap berjalan. Kalaupun aku bisa tersenyum itu adalah saat aku mengingat bahwa ayahku saat ini ada ditempat yang indah bersama Tuhan, tapi selebihnya sesekali airmataku akan turun tak bisa kutahan karena merasa kehilangannya. Aku bersyukur masa kelabuku tidak berlangsung terlalu lama, setidaknya aku sudah bisa tertawa pada hari kedua setelah kepergian ayah. Seperti Carrie, kejadiannya bukan sesuatu yang istimewa, dan itu dari orang terdekatku.

 

Saat itu sore hari, aku masih mengurung diri dikamar berdua bersama ibu, membantu segala keperluannya, waktu itu keluarga besar masih berkumpul di rumah. Kyla, malaikat kecilku, gadis kecil yang berumur 7 tahun itu sedang mandi sore. Dia sudah pandai mandi sendiri, tapi dasar anak-anak, mainannya berserakan di kursi dan lantai tidak dibereskan sebelumnya. Papanya mengomel panjang pendek apalagi melihat handphone dan gamewatch-nya yang tergeletak sembarangan. “Kyla, mana stylus-nya” tanyanya begitu si anak siap-siap keluar dari kamar mandi. Kyla yang masih sibuk dengan handuknya tidak terlalu memperhatikan dan menjawab tanpa melihat “Ada tuh di green bag “ katanya.

 

Aku agak heran mendengarnya, kok stylus ditaruh di tas hijaunya yang besar itu? Disebelah mana? Benar, sebentar kemudian papanya bertanya lagi “Dimana?” Lalu terdengar sahutan Kyla yang gemas “Di green bag papaaa…, masa’ nggak kelihatan sih?” Curiga karena tas itu hanya berisi berbagai kemasan makanan ringan kesukaan anaknya papanya  bertanya lagi… “Eh, emang papa nanya apa sih Ky?” Tedengar jawabannya yang polos “Pilus kan?”…. Huahahaa…. tak dapat aku menahan tawaku, dan kami semua tertawa terbahak-bahak….  Sejak kapan papa suka makan pilus?… “Oh… stylus to?” katanya polos setelah menyadari kesalahannya… Huahahaaaa…. “stylus” dan “pilus”… mirip sih. Wah, ini tawa lepasku yang pertama !

 

Hari-hari setelah itu aku sudah bisa lebih realistis, emosiku masih naik dan turun tapi aku sudah bisa beraktivitas dengan normal kembali. Kemarin malam, hari Minggu pertama aku berada di rumah kembali  setelah kepergian ayah, tiba-tiba hatiku terharu biru. Hari Minggu malam, saat setelah makan malam biasanya aku akan menelpon ayah di Jogja dan saling  bercerita panjang lebar. Kemarin malam, hatiku tiba-tiba terasa pilu saat merasa bahwa saat-saat menyenangkan itu tidak ada lagi, tak akan lagi kudengar suara ayah, tiba-tiba aku sangat rindu padanya, air mataku jatuh tak bisa tertahankan saat memandang pesawat telepon.

 

Aku tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan, hatiku  pilu dan dadaku terasa sesak. Aku tahu ayah pasti tidak menginginkan aku bersedih seperti ini, maka segera  kualihkan perhatianku dengan menyibukkan diri di depan komputer, mengerjakan tugasku. Sambil menunggu download jurnal ilmiah yang kuperlukan, aku blogwalking ke blog Sang Penganyam Kata, dan kutemui ada posting terbarunya, renungan tentang apa yang akan terjadi dengan 50 tahun yang akan datang. Ini sih tulisan serius, tapi saat akan menuliskan komentar, aku tersenyum kecil waktu membaca komen dari pak Sawali  yang menyatakan DM sebagai seorang ahli terawang.. hehe..

 

Senyumku bertambah lebar setelah membaca komen berikutnya dari seseorang yang mengaku bernama.. mamah loren, hehe bu dokter ada-ada saja idenya.  Saat dia menyebut DM sebagai  teman cenayangnya yang dipanggil …papah loren, senyumku berubah jadi tawa kecil. Tawaku bertambah lebar  saat membaca komen OOT berikutnya dari Suhadinet yang menanyakan kapan Mamah Loren dan Papah Loren kawinan? Dan jadi terbahak-bahak waktu membaca komen balasan dari Mamah Loren yang jadi sibuk, yang minta komennya dihapus, yang bermaksud  mengklarifikasi.. huahahaa…. aku kok jadi ketawa terbahak-bahak… Aku membayangkan Mamah dan Papah Loren bukannya menghadapi layar komputer masing-masing tapi sedang meramal dan menghadapi  bola kristal !!

 

Hahaha… tidak tahan terus tertawa sendiri, aku segera online di YM dan memanggil DM dengan…. Papah Loren !!! Kami tertawa karena panggilan itu, DM heran karena aku berkali-kali terus memasang emoticon tertawa berguling-guling… “Kok segitunya sih Mbak? tanyanya… Entah ya, memang mungkin ini bukan hal yang istimewa tapi buatku saat itu lucu sekali, ah.. aku jadi bisa tertawa dan menghapus airmataku barusan.

 

Begitulah kehidupan,

Tak selamanya mendung itu kelabu, tak selamanya duka dan tangis mengganggu.

Ada tawa ada tangis, ada suka ada duka, semuanya silih berganti.

Tak akan pernah dibiarkanNya kita berduka berkepanjangan, ada saatnya untuk bangkit, karena hidup ini terlalu berharga untuk dilewati  tanpa sukacita dan rasa syukur.

 

Comments»

1. Daniel Mahendra - November 17, 2008

Hehehe. Si Mbak ini. Pake disinggung-singgung segala.
Tapi, dari keseluruhan cerita ini, aku senang, Mbak Tanti sudah bisa tersenyum bahkan tertawa-tawa lagi.

Ya, sesuatu yang berlebihan selamanya tak pernah pada tempatnya. Kesedihan yang berlebihan, juga kesenangan yang berlebihan. Semua memang ada takarannya.

Kita boleh saja sedih, tapi tidak berlama-lama. Sama halnya kita boleh saja bersenang-senang, pun tidak berlebih-lebihan. Agar kita tahu, di saat sedih, betapa kita merenungi arti kebahagiaan itu sendiri. Juga di saat bahagia, kita memaknai arti dari kesedihan.

Ah, Mbak lebih tahu itu.

Nah, tersenyumlah Mbak Tanti.
Senang bisa membuatmu bahagia… 🙂

Thanks Bro !

2. marshmallow - November 18, 2008

senang rasanya mbak tanti bisa tersenyum lagi.
kehilangan memang pahit, dan saat menjalaninya seluruh kebahagiaan seolah-olah ikut tercerabut bersama orang yang pergi. kenyataannya, life goes on.

yah, mamah loren itu memang ngaco, mbak tanti. untung kita gak ada yang kenal dia. saya pasti malu kalau musti berteman dengannya.

tapi sengaco-ngaconya si mamah, lebih ngaco lagi sekutunya, si papah loren. kabarnya dia menerawang gak pakai bola kristal, tapi bola bekel, itu pun gratisan. makanya hasil penerawangannya ngaco semua.

Wah, aku pengen loh ketemu sama mamah dan papah loren itu, berkat mereka aku bisa ngakak..wakakakaakk…
Eh, btw beneran itu bola bekel?..hmm… bisa jadi bener itu, nggak mungkin pake bola sepak sih, soalnya denger2..si papah loren itu nggak begitu demen sepak bola 😉

3. suhadinet - November 18, 2008

Kesedihan bukanlah sebuah bentuk emosi yang harus dipertahankan berlama-lama. Boleh sesekali bersedih, misal karena kehilangan orang-orang yang sangat berarti di sekitar kita. Meresapi makna kehilangan.Tapi tidak harus berlebihan.

Seperti yang marshmallow katakan, hidup itu berjalan terus. Kita curahkan perhatian pada tantangan di depan. Mari tersenyum 🙂

Ini sekarang saya tersenyum 🙂
Terima kasih ya Pak (atau boleh saya panggil Suhu?) sudah membuat senyum saya berubah jadi tawa gara-gara kawinan mamah dan papah loren… hehehe…

4. agoyyoga - November 18, 2008

I just want to give you a big SMILE! 😀 🙂

Big smile accepted !!! Thank youuuuu….. 🙂 🙂

5. Donny Verdian - November 18, 2008

Tersenyumlah dan tatap dunia dengan seluruh suka cita yang diberikanNya kepada kita…

Kamu pasti bisa… bukan karena saya ahli terawang seperti DM tapi karena saya melihat kamu memang sudah bisa 🙂

I am smiling, thank you !!
Eh, yang ahli terawang itu bukan DM tapi papah loren…hihihi….

6. edratna - November 18, 2008

Tanti, hidup memang terus berjalan, dan pasti papamu ingin Tanti tegar menghadapi ini. Bukankah masih ada Kyla, yang memerlukan perhatianmu.

Syukurlah Tanti bisa ketawa setelah membaca komentarnya cenayang kita, mamah dan papah Loren.

Iya Bu, terima kasih.
Nah, makanya saya jadi pengin ketemu si mamah dan papah itu Bu… mungkin mereka memang sudah menerawang saya agar bisa segera tersenyum dan tertawa… hehehe…

7. diah - November 18, 2008

Tanti, aku ikut bahagia ..kamu bisa tertawa lagi……..kapan ketemu aku lagi..kita share & cerita yang lucu-lucu lagi..?

Iya Diah, terima kasih.
Segera yah kita ketemu lagi (lha abis sama-sama sibuknya kita ini),
aku tunggu ! 🙂

8. jeunglala - November 18, 2008

Still remember every scene of my favorite movie… 🙂

Mbak Tanti,
Saya tahu Mbak Tanti-pun sudah tahu persis bahwa episod kebahagiaan itu bisa berakhir, demikian pula episod kesedihan. Jadi tenang saja…

Pas saya kehilangan Mami, butuh waktu sangat lama untuk menghilangkan rasa kangen…
Setiap kangen, saya nangis…
Setiap kangen, saya pingin sekali ketemu Mami..
Mencoba untuk membunuh rasa itu, tapi ternyata percuma. Jadi akhirnya… saya nikmati saja kerinduan itu. Karena di hati saya, Mami tidak akan tergantikan… Dia adalah my little shiny white star… Selamanya…

So, Mbak Tanti..
Sekarang udah ketawa kan…
Seneng deh.. 🙂

Thanks 4 sharing ya La….
Eh, aku juga share scene-nya Carrie (tiap liat dia jadi ingat Lala deh sekarang..;) )
🙂

9. Sawali Tuhusetya - November 18, 2008

terpanggil untuk datang setelah mendapat trackback dari mbak tanti, hehehe … wah, syukurlah, mbak tanti. memang bener banget kok, suka dan dinamika, konon sih, menjadi bagian dari dinamika hidup manusia ibata dua sisi dalam sebiah keping uang. keduanya perlu hadir untuk saling melengkapi agar kita tak terjebak ke dalam kesenangan atau kesedihan berlebihan. *walah kok jadi sok tahu saya*

Ah, saya yakin pak Sawali memang tahu benar kok 🙂
Terima kasih telah membuat saya tersenyum.

10. mascayo - November 19, 2008

saya juga udah lama pengen beli hape yang ada pilusnya hehehe ..
asyik deh, berarti bisa baca-baca infonya lagi nih
sehat dan sukses selalu yaa ..

Kabari saya kalau sudah beli hape pilusnya yah.. dan jaga jangan boleh dipake mainan sembarangan sama Zia.. hehe..
Terima kasih, sukses juga buat Mascayo 🙂

11. dyahsuminar - November 20, 2008

Ibu membayangkan…tawa pertama mbak Tanti karena keluguan malaikat kecil Ky, sangat indah, Tuhan mengatur semuanya.
28 tahun ibu hidup berkeluarga….duka,,,gembira silih berganti…Saat Ibu baca tulisan mbak Tanti…Ibu jadi ingat anak anak…yang saat ini sudah jauuuuh…

Nah, ibu juga jadi mengingatkan saya akan lagu ini..
“Kasih ibu (ayah juga tentunya yah) kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia”

cinta kasih antara orang tua dan anak tak akan terputus meski tak berada dekat,
meski jauh dimata,
tapi tetap ada di hati… 🙂

12. yulism - November 25, 2008

Maaf mbak Tanti tulisan tentang cerita “Sex and the City” movie nya saya lewati karena sudah dalam daftar Netflix saya dan setelah DVD Wall E aku bisa melihatnya… 🙂 jadi saya lewati untuk cerita itu.

Ditinggalkan orang terkasih memang tidak mudah, sedewasa apapun usia kita tidak akan pernah siap. Saya juga ikut tersenyum ketika mbak Tanti sudah tersenyum dan bisa tertawa.

Berarti sama dengan saya mbak, waktu baca komentar di postingan mas DM juga bikin saya terbahak-bahak.. 🙂 thanks

Uups.. sorry about “Sex & the City”nya…hihihi… ternyata belum semua orang nonton ya, menyebalkan emang klo belum2 udah dapet bocorannya… it’s OK, skip it anyway 😉

Hahaha.. mungkin bukan cuma kita berdua yang terbahak-bahak di blog DM,.. hayo.. siapa lagi bergabung… 🙂

13. Ikkyu_san - November 26, 2008

Mbak…
saya hari ini juga nyanyi lagu Chrisye terus nih
“Tak selamanya mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini
Kudapat bernyanyi kepadanya.”

so, kapan ya kita bisa menyanyi bersama?
Mbak Tanti sopran, aku alto… hehehe
(ikutan kopdar blogger (family gathering) 2009 akhir februari yuuuk… daftarnya ke saya atau Lala)
EM

Apa Tokyo sedang mendung juga? tapi tak selamanya mendung itu kelabu ya Imel..
Kopdar? wah… mau..mau… aku daftar…
(Eh, sebentar.. kopdar-nya dimana? bukan di Tokyo kan? hihihi… antusias banget soalnya)

14. tutinonka - November 27, 2008

Mbak Tanti, tangis dan tawa ibarat dua sisi mata uang yang saling berlekatan. Suatu saat kita mendapatkan sisi tawa, saat lain kebagian sisi tangis. Jadi, kalau lagi ketawa jangan lupa diri, dan kalau lagi nangis jangan harakiri (eh, nggak lah ya … )

Menit pertama menyadari ibu telah tiada (di depan mata saya) saya menangis tersedu-sedu. Tapi beberapa saat kemudian, hati saya sudah tenang dan ikhlas. Yah, karena ibu memang sudah sangat sepuh, 92 tahun, dan kelihatannya memang sudah ingin menghadapNya. Jadi anak-anak menghantar beliau dengan ikhlas.

Tentang kopdar, beneran nih, Mbak Imelda? Saya ndaptar dong!

Saya nggak harakiri tapi harakanan kok mbak…hehe..
Wah iya..kopdarnya mudah2an jadi..yuuk kita dateng rame-rame..pasti seru tuh…
Mbak Imel… ini lho ada yang daftar lagiii….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: