jump to navigation

How Do You Judge a Book? March 10, 2009

Posted by tantikris in story.
trackback

Don’t judge a book by its cover, begitu kata pepatah.

Sampul buku tidak selalu menggambarkan isi didalamnya. Padahal belum tentu begitu lho, kadang kita bisa tertipu dengan kesan pertama dari penampilan luar. Tampak indah diluar ternyata setelah melihat lebih jauh itu tidak sesuai dengan isinya, sebaliknya dari penampilan yang biasa-biasa saja bahkan tampak  tidak meyakinkan bisa jadi kita jadi terkaget-kaget karena isinya begitu mengagumkan.

 

Jadi, baca dulu isi tulisannya baru berikan penilaian atasnya. Ada buku yang begitu memberikan kesan hingga sejak awal membuka halaman pertamanya kita langsung terkesima dan tak ingin berhenti membaca sampai halaman terakhir. Ada pula buku yang awalnya biasa saja tapi baru menarik setelah kita membaca lembar-lembar berikutnya, sebaliknya ada buku yang menarik pada awalnya tapi kemudian terasa membosankan. Tapi ada pula buku yang biasa-biasa saja tapi isinya memberi kita berbagai pelajaran yang bisa menambah wawasan.

 

Sama dengan menilai seseorang, penampilan fisik belum tentu menggambarkan dirinya yang sebenarnya.

Aku ingat ada satu hal yang membuatku belajar untuk tidak buru-buru memberikan penilaian tentang sesuatu atau seseorang dari kesan pertama akan penampilannya, saat itu aku baru saja masuk SMA, tepatnya pada masa orientasi siswa baru.

 

Sebagai anak baru yang masih sangat culun aku kagum pada seseorang kakak senior yang sangat cantik. Penampilannya mirip gadis sampul majalah remaja, cantik, modis, pembawaaannya kalem, suaranya lembut, selalu tersenyum, tidak jutek seperti kakak panitia yang lain, nggak heran dia termasuk siswi populer di sekolah kami, apalagi kemudian aku tahu kalau ternyata dia adalah putri seorang tokoh terhormat di kota kami. Setelah beberapa hari pelaksanaan masa orientasi, tanpa ragu aku memilihnya sebagai kakak panitia favorit pada acara puncak malam penutupan.

 

Selesai acara penutupan itu, saat menunggu jemputan di area parkir sekolah aku melihatnya bersama kakak-kakak panitia yang lain sama-sama akan pulang seusai acara. Aku jadi kaget ketika tiba-tiba mendengarnya berbicara dengan suara yang sangat keras, tak kusangka dia bisa berteriak seperti itu.Rupanya dia sedang kesal dengan temannya karena lalu kudengar dia  memaki-maki dengan kata-kata kasar yang tak akan pernah kuucapkan dan tak kusangka akan bisa terucap dari seorang gadis baik-baik.

 

Masih belum pulih kagetku kulihat dia lalu masuk ke mobilnya sambil membanting pintu keras-keras lalu tancap gas meninggalkan tempat parkir sekolah. Hah? Runtuh sudah kekagumanku padanya, apa gunanya wajah cantik, kedudukan terhormat, kalau ternyata perangainya seperti itu? Aku salah menilainya dari penampilannya saja, itu kuingat betul dan kupelajari lebih lanjut pada masa-masa berikutnya.

 

Menilai sesuatu atau seseorang dari kesan pertama, apakah itu berupa tampak luar penampilannya atau kesan umum sepintas lalu  adalah hal umum yang paling mudah dilakukan, sering kesan pertama itu akhirnya dipercaya sebagai judgement atasnya. Berdasarkan pengalaman aku jadi berpikir untuk  lebih hati-hati untuk tidak buru-buru memberikan penilaian kalau hanya berdasarkan kesan sepintas lalu saja, belum tentu aku benar-benar mengenalnya. Mengenal dalam hal ini adalah mengetahui pemikiran dan pemahamannya akan berbagai hal yang biasanya kudapatkan dari bercakap-cakap, bertukar pikiran dan melalui berbagai aktivitas sehari-hari.

 

Selama ini hal-hal itulah yang kuyakini tentang bagaimana aku bisa mengenal orang lain. Aku bisa mengenal seseorang yang kutemui secara fisik di dunia nyata sehari-hari. Sejak pertengahan tahun lalu sesuatu membuatku mengubah pemikiranku, yaitu sejak aku berkelana di dunia maya dan mengunjungi berbagai blog. Beberapa blog yang kukunjungi memberiku berbagai inspirasi karena isi tulisannya yang bermanfaat dan menambah wawasan, itu membuatku kembali berkunjung lagi pada waktu-waktu berikutnya.

 

Berawal dari silent reader kemudian aktif memberikan komen membuatku berinteraksi dengan penulisnya, serasa mengenalnya. Ah, rasanya seperti membaca sebuah buku tapi bisa berinteraksi dengan penulisnya.  Aku juga merasa surprised bagaimana orang juga berkunjung ke blog ku yang sangat sederhana ini. Jadilah kami berinteraksi dan aku senang karena mendapat beberapa teman baru yang bisa kukenal dari tulisan yang merupakan buah pemikirannya, bukankah ini yang lebih kuutamakan daripada ‘sekedar’ penampilan fisik?

 

Bisa mengenal seseorang tanpa ‘mempedulikan’ siapa dia, bagaimana penampilannya, apa profesinya, apa kedudukan atau jabatannya, tanpa pretensi, lebih ke arah bagaimana pemikirannya. Bisa mengenal seseorang bahkan tanpa bertemu secara fisik sebelumnya, ini hal baru yang kudapatkan.

 

Kalau kemudian akhirnya perkenalan itu berkembang menjadi pertemanan, itu hal yang kusyukuri. Sesuatu yang berawal dari dunia maya kemudian diwujudkan dalam pertemuan di dunia nyata, wah ini sesuatu yang menarik. Dan jadilah, Sabtu, 7 Maret 2009 lalu, di Jogjakarta, aku bertemu dengan teman-teman yang selama ini sudah ‘kukenal’ tapi sebagian besar belum pernah bertemu muka.

Nah lihat para wanita ini, ternyata aslinya mereka cantik-cantik, secantik tulisan-tulisannya.

 

 

 

 

dari kiri ke kanan, duduk : Lala, mbak Tuti Nonka, Bunda Dyah, Noengki. Berdiri : Tanti, Imelda

dari kiri ke kanan, duduk : Lala, Mbak Tuti Nonka, Bunda Dyah, Noengki. Berdiri : Tanti, Imelda

Dan lihatlah para pria ini, ternyata mereka tidak hanya bisa serius dalam menulis tapi  juga ‘ngocol abis’..hehehe…

dari kiri ke kanan : DM, Totok Genthokelir, Arif, Goenoeng, Uda Vizon

dari kiri ke kanan : Daniel Mahendra, Totok 'Genthokelir', Arif, Goenoeng, Uda Vizon

Kalau bukan karena nge-blog siapa sangka aku bisa bertandang ke rumah ibu Dyah Suminar yang merupakan istri dari walikota Jogjakarta? Kalau bukan karena nge-blog siapa sangka aku bisa bertemu dengan mbak Tuti Nonka penulis yang dulu  kukagumi?

unforgettable moment

d' bloggers bersama Pak Walikota Jogjakarta

Kalau bukan karena nge-blog siapa sangka aku bisa bertemu teman-teman baru yang menyenangkan ini sekaligus  berbagi inspirasi dan tambahan pengetahuan? Suasana malam itu menyenangkan dan akrab seolah kami ini teman lama saja,  dalam kadar tertentu rupanya interaksi di blog ini sudah merupakan pengenalan tersendiri bagi kami masing-masing.

 

Nah,

kalau padaku ditanyakan kalimat yang jadi judul diatas “how do you judge a book”? dalam hal ini bagaimana aku mengenal dan menilai teman-teman baruku ini, aku akan menjawab : I don’t judge a book by its cover”. Malah mungkin kebalik yah, aku baca dulu isi buku itu, baru aku lihat sampulnya.. hehehe….

 

And, how about you?

How do you judge a book?

How do you judge a blog?

How do you judge someone?

 

 

 

Comments»

1. Ikkyu_san - March 10, 2009

Betul sekali Tanti, kita harus baca dulu isinya baru kita bisa tahu apa inti tulisannya. Seperti postingan ini, siapa yang sangka dari judulnya bahwa postingan ini adalah laporan kopdar di Yogya waktu itu?

Bahkan kadang kita tidak bisa hanya membaca sambil lalu saja isinya, karena kadang perlu waktu juga untuk memahami esensi sebuah tulisan, dan biasanya itu juga merupakan cerminan kepribadian si penulis juga.

Sayang sekali kita tidak bisa banyak berbicara malam itu ya Tanti, karena aku harus meladeni Riku yang agak rewel karena kepanasan.
Tapi aku enjoy permainan organnya. Lain kali kita harus bertemu lebih lama lagi ya.

Kalau tentang pertanyaan how do you judge someone…itu kadang kala butuh waktu yang lama, tapi bisa juga waktu yang sedikit asal berkwalitas.Kalau aku sih jarang mau menyimpulkan seseorang sebagai “begini” atau “begitu” karena setiap orang adalah pribadi yang unik.

EM

Setiap orang adalah pribadi yang unik, setuju !!
Ya, mudah2an lain waktu kita ketemu lagi lebih lama ya, mungkin gantian aku yang ke Tokyo.. hihihi… siapa tahu ya? 🙂

2. tutinonka - March 10, 2009

Saya percaya, meskipun kita ‘hanya’ mengenal seseorang melalui dunia maya, tetapi jika di dunia maya tersebut kita tampil jujur, tulus, dan apa adanya, maka keakraban yang terjalin akan sama ‘sejati’nya dengan mengenal seseorang secara langsung. Sebagaimana yang ditulis Mbak Tanti, di blog kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita, dan bukankah pikiran serta perasaan itu adalah sosok kita yang sesungguhnya?

Saya surprised menemukan banyaknya kesamaan antara saya dan Mbak Tanti. Yang nggak sama mungkin cuma : Mbak Tanti cantik dan mungil, saya nggak. Mbak Tanti piawai main musik, saya nggak. Mbak Tanti suka membongkar gigi orang, saya …. nggak. Hehehe … 😀

Mbak Tuti bisa aja deh… yang jelas bedanya tuh mbak Tuti penulis terkenal dan saya ini pengagumnya.. hihihi..
Saya juga surprised kok kita banyak samanya, nice to meet you mbak.. 🙂

3. sony - March 10, 2009

Ketika aku membaca postingan ini,
Aku merasa terbawa dalam suasana yang riang, cerah ceria dan terang benderang.
Dan……………….
Tatkala aku tersenyum,
Kusadari bahwa aku berdiri diseberang kisi-kisi pada sebuah jendela. (Windows Millenium).
Kalian adalah tokoh-tokoh dalam lakonnya,
Dan aku adalah penonton yang sangat setia.

Salam dariku
Untuk Tanti dan seluruh sahabat maya,
Yang telah berjumpa dialam nyata
di Yogyakarta
Kota sejuta kisah dan cerita

Bang Sony juga bagian dari para sahabat maya tadi kan? suatu hari mungkin juga akan bergabung dengan kami berjumpa di dunia nyata ya, siapa tahu kita rame2 bikin kopdaran di Medan? hehe…. 🙂

4. agoyyoga - March 10, 2009

*hug mbak Tanti*

🙂

Berpeluuukaaann….
*teletubbies mode on*

5. prameswari - March 11, 2009

Hihihi….itu yang kita biasa lakukan dalam membaca pikiran orang di blog sebelum kita benar-benar mengenal orangnya….
Lucu juga inspirasinya….

Iya, maksudnya sudah merasa MENGENAL sebelum benar-benar MELIHAT orangnya 😉

6. mascayo - March 11, 2009

but please, don’t judge me by the blog. 🙂
Masih banyak hal yang saya sembunyikan hehehe.
tapi betul juga yaa, dari ngeblog kita bisa kenal banyak orang dengan berbagai latar belakang

Hehehe… tenang aja Mascayo…. rahasianya aman kok… 😉

7. DV - March 11, 2009

Wah, wah, wah.. ketemu Pak Walikota segala..
Haibat tenan 🙂

He eh… pancen heibat kok 😉
Sayang ya Donny udah nggak di Jogja lagi, kalo masih ada disini pasti lebih seru deh…. hehe…

8. edratna - March 11, 2009

Senang membaca tulisanmu ini Tanti….yahh itulah dunia maya, yang ternyata bisa juga akrab di dunia nyata.
Tapi kebetulan, teman2 ini juga menulis blognya seperti apa adanya (ada juga beberapa blog yang pemiliknya tak ingin diketahui)….sehingga begitu ketemu di dunia nyata langsung bisa akrab.

Dunia maya dan dunia nyata kadang jadi terasa tidak berbeda ya Bu.. hehehe…

9. goenoeng - March 11, 2009

waktu kumpul2 itu, rasanya sudah lama kita saling mengenal ya, Mbak.
mungkin ya itu tadi, sudah ‘membaca’ orangnya sebelum lihat bleger-nya. 😀

Iya bener tuh, rasanya udah kenal…
O ya, biar kuterjemahkan kata ‘bleger’ dalam bahasa Indonesia itu artinya ‘sosok’ kan? hehehe… penjelasan buat yang nggak paham bahasa Jawa 😀

10. vizon - March 11, 2009

persahabatan, bagaimanapun caranya memang indah…
saya bahagia sekali, bisa hidup dalam dua dunia; dunia nyata dan dunia maya (halah!)… 🙂
dunia maya semakin mewarnai hidup saya…

saya sudah berkenalan dg mbak tanti sebelum berkunjung ke blognya, jadi saya kenal covernya dulu, baru kenal isinya… dari covernya sudah ok banget, dan setelah melihat isi blognya, ternyata jauh lebih ok.. hehe… 🙂

Eh, Uda ini bisa aja.. terima kasih pujiannya, nggak segitunya kaleee…jadi tersipu-sipu lho saya… hehe

11. cenya95 - March 11, 2009

Tidak terbayang ramainya… suasana…
*irimodeon*

Hehehe…. rame abis.. 😉
*bangga mode on*

12. Hejis - March 12, 2009

Kalau aku menilai buku setelah membacanya
Menilai blogger setelah membaca postnya
Menilai koki setelah mencicipi masakannya
Menilai komposer setelah mendengarkan lagunya
Menilai orang? Tak bisa sepenuhnya
Menilai blog ini? Ciamik! Hehehe… 😀

Tambah satu lagi Mas…
MEnilai mahasiswa setelah memeriksa hasil ujiannya… hihihi…
Blog ini ciamik? waduh… terima kasih…
*ge er mode on*

13. japspress - March 12, 2009

Kalo aku kadang suka merhatiin cover juga mba, hehe, tapi tetep yg nentuin penilaian akhir ya isi bukunya.

Betul kata mba imelda, aku juga ndak nyangka trnyata ini tulisan laporan kopdar di jogja. Hehe.

Lagi-lagi saya setuju, kali ini sama Mba Tuti, selama kita jujur melalui blog rasanya kita sudah mengenal sang empunya blog.

Kalo orang, saya ndak berani menjudge mba, karena selalu ada sisi yang saya tak ketahui.

Sperti kakak kelas cantik tapi berperangai kurang baik itu, mgkn ternyata ada penilaian ketiga suatu saat nantinya. Karena setiap kita adalah misteri…

Salam, Mba
-japs-

Ya, aku juga punya pemikiran bahwa setiap orang adalah unik. Aku juga percaya bahwa orang dapat berubah karena dia akan belajar terus sepanjang hidupnya, jadi belum tentu yang sekarang kelihatan begini akan tetap begini, mungkin saja bisa berubah setiap saat dan kita tak akan pernah tahu.

Salam, Japs 🙂

14. Kika - March 13, 2009

Aku idem sama semua yang sudha kasih komentar deh, baik-baik semua dan bagus-bagus. Aku menjalankan saja semua komentar itu hehehe…

Salam.

Idem ya? hehehe… ok deh
Salam !

15. Fuad - March 13, 2009

smua koment dh pada bagus, oe binggung komment apaan lagi ya

Jangan bingung dunk…hehehe

16. p u a k - March 14, 2009

Dimana-mana kopdar report!.. hidup kopdar..! :mrgreen:
Aku aja nih, yang belum ketemuan sama mbak Tanti.
YM yo, mbak.. 🙂

Iya nih… moga-moga ada kesempatan ketemu ya, sementara itu YM ok juga… 🙂

17. prameswari - March 15, 2009

Met Ultah ya mbak……..

Thanks Nung…. 🙂

18. Met ultah mbak Tan - March 15, 2009

Semoga pertemanan kita tak lekang oleh waktu….

Amin. Semoga !!!

19. Daniel Mahendra - March 15, 2009

Hei, selamat ulang tahun, Mbak… 🙂

Makasih Dan !! 🙂

20. edratna - March 15, 2009

Met Ultah Tanti….
Semoga sukses dan sehat selalu

TErima kasih Ibu…

21. mascayo - March 15, 2009

Selamat Ulang Tahun Mbak
*aku nggak mau ketinggalan. dezig!! 🙂

Nggak ketinggalan kok mas… hehe.. terima kasih 🙂

22. abindut - March 15, 2009

Wah… mbak tan ultah ya…
Met Ultah juga ya… jangan lupa traktiranya, tahu campur yang suka lewar didepan rumah mbak tanti juga enggak masalah deh… 😀
Btw jangan pernah nilai aku dari coklatnya ya…. 😛

Thanks Bi…. Tentu aku tidak menilai dari coklatnya karena nilainya jauh lebih maniiis dari coklatnya…. 🙂

23. nh18 - March 16, 2009

How do I judge the book ?

Dari pengarangnya …
Lalu ke daftar isinya …

How do I judge people ?
I dont judge people … (hehehe)

Ok kalo dipaksa juga …
Mmmm … Aku melihat isi tulisannya … “Cyber Mannersnya” … juga komentarnya …
(content and manners that the only thing yang aku bisa lihat di jenis komunikasi maya seperti ini )

Salam saya

Content dan cyber manners ya… setuju, betul itu !

24. nh18 - March 16, 2009

Lho Ultah to ini …

Untuk Tanti (#)
Selamat Ulang Tahun
Semoga Sehat dan bahagia selalu

NH18

Iya nih…
*sok malu-malu*
Terima kasih 🙂

25. joe - March 17, 2009

jangan membeli kucing dalam karung… jangan tertipu dengan chasingnya tetapi ternyata signal nya gak oke…

Jangan membeli hp dalam karung?.. hehehe…

26. Ria - March 22, 2009

Mbak met ultah ya..wish u all the best 😉

Don’t judge a book from its cover…I’m totally agree mbak
bahkan penampilan bisa merubah pandangan kita terhadap sesuatu, terkadang apa yang bagus di depan mata ternyata jelek banget dan apa yg jelek banget di depan mata ternyata sungguh cantik sekali…gak hanya di dunia nyata mbak..kalo buatku itu juga berlaku di dunia maya 😉

Jadi, jangan buru-buru menilai ya? musti mengenali dulu.. 🙂

27. kajo - January 4, 2010

🙂
Agak beda ya kalau memilih kaset lagu atau CD lagu. Sering kali dalam album yang baru ku kenal aku hanya suka satu lagu saja. Dan kadang menyesal, mengapa aku mesti ambil satu album ?

Tetapi setelah mau tidak mau ‘terpaksa’ mendengarkan seluruh lagu dalam album itu, rasanya kok perbandingan itu mulai bisa bergeser. Mula-mula hanya senang satu lagu, tapi tak jarang akhirnya hanya tidak cocok pada satu atau dua lagu saja. Aku mulai bisa menerima, bahkan menikmati lagu-lagu lainnya.

Di sinilah kadang aku bingung. Memang banyak orang bilang: “Jangan menilai buku dari sampulnya saja.” Cuma, sampai berapa kali aku harus membuka buku itu dan membaca ulang isinya, sampai bisa menentukan apakah buku itu bagus atau tidak ?

Seberapa kali pun itu, rasanya tak adil bila buku itu aku tentukan baik buruknya hanya dengan satu kali membacanya. Apalagi membacanya sambil lalu dan tidak tuntasss 🙂

p.e.a.c.e


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: