jump to navigation

More Than Words June 25, 2009

Posted by tantikris in reflection.
12 comments

Pernah ngitung nggak berapa jumlah kata yang kau ucapkan setiap harinya? Lima ribu? Seratus ribu? atau lebih? (..ah, siapa juga yang mau ngitung, kok keisengan amat…) Tiap kata yang kita ucapkan punya arti, kata-kata tersusun membentuk kalimat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Bayi mengucapkan kata-kata yang tanpa makna..eh, mungkin itu bukan kata-kata, cuma suara-suara aja sih ya, semakin dewasa semakin bertambah pulalah perbendaharaan kata-kata kita.

Meskipun perbendaharaan kata-kata sudah berambah banyak, tapi kadang apa yang ada dipikiran nggak mudah diungkapkan dalam kata-kata yang tepat. Maksudnya begini, eh orang lain menangkapnya begitu, maunya ngomong begini, eh karena salah milih kata jadinya artinya lain.

Beberapa waktu terakhir ini aku harus mengikuti beberapa rapat (aduh, berasa kaya’ anggota DPR aja deh). Tahu kan apa yang orang lakukan dalam suatu rapat? Membahas suatu permasalahan, menyampaikan laporan, memberikan masukan, mencari rumusan, adu argumentasi, mencari kata sepakat, pokoknya ngomong, ngomong dan ngomooong…

(more…)

Dari Mata Turun ke Perut June 15, 2009

Posted by tantikris in lens story.
17 comments

Selama kurang lebih 8 tahun terakhir ini, setiap perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah, aku selalu melihat bapak ini menunggui dagangannya. Seolah sudah punya kapling disitu, rasanya tidak ada yang berubah pada penampilannya sejak awal aku melihatnya. Tempatnya berjualan sama selalu disekitar daerah itu, juga sepeda dan muatannya, hanya bedanya pada awal-awal dulu tertulis “Sate Kul 100”, sekarang “Sate Kul 500”.  Angka itu menunjukkan harga sate per tusuknya.

1

Sate Kul? apa sih itu? Pastinya kul yang dimaksud disini bukan kol atau kubis, masa’ bisa dibikin sate? Setelah bertahun-tahun hanya memandang dan bertanya dalam hati saja, akhirnya sore tadi aku memenuhi rasa penasaranku dengan berhenti dan melihatnya secara langsung. Ooh.. jadi ini to yg namanya sate kul?

(more…)

Lost and Found June 9, 2009

Posted by tantikris in story.
12 comments

Dua tahun lalu aku pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan salah satu maskapai penerbangan swasta nasional, saat itu entah bagaimana bagasiku bisa terbang terbawa ke kota lain, bukan kota tujuanku, padahal itu bukan penerbangan transit lho. Terpaksa aku harus berurusan dengan konter Lost & Found untuk mengurus bagasiku yang nyasar itu yang baru bisa kuterima keesokan harinya. Sejak saat itu aku jarang sekali menggunakan jasa maskapai ini, kutempatkan pada pilihan terakhir kalau aku masih bisa memilih yang lain. Tapi akhir minggu lalu, sikonnya tidak memungkinkan, jadilah kami ke Jakarta dengan menumpang pesawat maskapai tersebut.

lost-found

Pada waktu menunggu pengambilan bagasi mataku tertuju pada petunjuk konter  Lost & Found, ini adalah konter dimana penumpang dapat melaporkan segala hal tentang kehilangan barang yang dibawanya atau tentang penemuannya akan sesuatu barang selama penerbangannya. Simbolnya adalah tanda tanya, payung dan sarung tangan, oh..mungkin barang-barang itu yang sering hilang, tertinggal atau ditemukan orang. Wah, kalau ‘hanya’  kehilangan barang-barang ‘kecil’ seperti itu mungkin tidak terlalu terasa ya, tapi kalau kehilangan bagasi seperti yang kualami saat itu pasti sangat tidak menyenangkan.

Kecil atau besar, memangnya enak kehilangan sesuatu?

Kehilangan adalah hal yang tidak menyenangkan, apalagi kalau yang hilang adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak ingin dilepaskan. Apa yang akan dilakukan kalau kehilangan sesuatu? Ada sih yang pasrah aja dan menerimanya, tapi umumnya sih akan mencari dan ingin menemukannya kembali. Proses mencari tidak selalu mudah, kadang butuh waktu dan tidak selalu ketemu apa yang dicari.

(more…)

Jejak Langkah June 1, 2009

Posted by tantikris in reflection.
10 comments

Siang hari yang terik itu dari jendela ruang kerjaku aku melihat beberapa taruna sedang berjalan berkelompok, aku tahu mereka itu sebenarnya tidak sedang latihan baris berbaris, kelihatannya sih baru selesai kuliah. Awalnya aku senyum sendiri melihat mereka, sebagai orang sipil aku heran kenapa jalan bersama saja harus berbaris seperti itu, tapi selanjutnya aku kagum melihat gaya mereka berjalan yang tegap, teratur, berirama, serentak bersama dalam barisan yang rapi.

Kata orang, sifat dan sikap seseorang kadang bisa dilihat dari caranya berjalan atau melangkah, Kalau kuamati, temanku yang gaya berjalannya pelan dan thimik-thimik (bhs Jawa = berjalan dengan langkah-langkah kecil dan pelan) dalam kehidupan sehari-harinya tampak lebih kalem, kadang cenderung agak lamban atau peragu dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya mereka yang berjalan dengan cepat kuamati kok biasanya lebih cekatan, tangkas dan efisien, meskipun ada juga yang kesannya jadi tampak nggak sabaran atau grusa grusu dalam kehidupan sehari-harinya. Eh, tapi ini entah benar, entah tidak tidak lho ya, belum terbukti korelasinya. Tapi satu hal yang pasti, derap langkah dan jejak yang ditinggalkan, apapun itu cara dan bentuknya adalah sesuatu yang sangat punya arti dalam kehidupan ini.

 Di Jawa ada ritual yang disebut upacara “tedhak siten” (tedhak = idak = injak, siten = siti = tanah)

(more…)