jump to navigation

Pencuri !!! August 25, 2009

Posted by tantikris in reflection.
trackback

Berawal dari membaca status seorang teman di FB beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa Malaysia telah menodai bulan puasa dengan mengklaim tari pendet dari Bali sebagai budaya miliknya, diakhiri dengan ajakan ‘ganyang Malaysia’ reaksi spontanku adalah membelalakkan mata dan segera menulis komen yang merupakan komen pertama : “Hah? Tari Bali? Plissss deeh !!!’ . 

Betapa tidak geram, ini bukan untuk kali pertama mereka mengklaim sesuatu dari budaya Indonesia sebagai budaya mereka. Baik, memang kita ini sesama rumpun Melayu, beberapa budaya dari Sumatra dan semenanjung Melayu mungkin ada beberapa kemiripannya, tapi ini tari Bali lho !! Dari segi geografis saja letaknya tidak dekat, dan semua orang tahu budaya Bali punya karakteristik khusus   yang menjadi ciri khasnya dan itu sama sekali bukan budaya Melayu.

Beberapa hari kemudian mulailah ramai pemberitaan tentang hal itu. Setelah melihat iklannya di Discovery Channel dan selintas beberapa bahasan di berita televisi, aku mulai paham darimana polemik ini berasal. Masih sebel sih, apalagi saat mendengar pernyataan dari pihak mereka yang menyatakan bawa itu bukan pernyataan resmi pemerintahnya, bahwa iklan itu dibuat oleh pihak swasta. Udah gitu doang?  So what?

Baiklah, mungkin memang pihak swasta yang membuatnya (artinya mereka telah memilih biro iklan yang tidak kompeten) tapi siapa yang mempekerjakannya? Siapa yang bertanggungjawab atasnya? Siapa yang mendapat keuntungan darinya? bukankan pemerintahnya? Dan lagi, produk itu, yang kemudian disadari sebagai sesuatu yang berpotensi memicu suatu permasalahan – kalau tidak mau dikatakan sebagai suatu kebohongan untuk mengambil suatu keuntungan- apa tidak ada upaya untuk memperbaikinya? Minta maaf atau ungkapan keprihatinan dan penyesalan misalnya? Nggak ada tuh. 

Bagiku kesan yang tampak jadinya adalah sekumpulan orang arogan yang tak berbudi yang sama sekali tidak tampak jiwa besarnya.  Aku memang marah tapi tak segeram reaksi pertama, memangnya dengan marah dan geram saja apa bisa menyelesaikan masalah? Kalau terpancing emosi dengan tidak terkendali berarti sama rendahnya dong dengan pihak yang mengklaim sesuatu yang jelas-jelas bukan miliknya itu.

Status dan komen beberapa teman-teman di FB yang menulis tentang hal ini tambah banyak, heboh juga ternyata. Banyak yang memaki dan menghujat tapi ada pula yang bersikap arif atau mencoba membangkitkan semangat nasionalisme. Ada satu status pendek  berupa suatu plesetan kata yang membuatku tertawa kecil saat membacanya yaitu “MALINGsia”. Status pendek itu rupanya memancing berbagai komen yang lucu-lucu yang sebagian besar berupa makian terhadap sang maling.

thief[1]

Maling = pencuri !

Aku mengartikan pencuri sebagai orang yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Firman Tuhan mengatakan jangan mencuri. Sejak kecil kita diajarkan untuk tidak mencuri. Kalau mau sesuatu dari milik orang lain mintalah dengan baik-baik, kalau dia mengijinkan ambillah dan ucapkan terima kasih, begitu kan? Mengambil sesuatu yang bukan hak atau milik kita dalam berbagai segi bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan. Ada hukuman untuk orang yang mencuri, ada kitab dan undang-undang yang mengaturnya. Orang yang terbukti mencuri terancam dihukum dan dipidanakan sebagai ganjaran atas perbuatannya.

Mengambil suatu barang yang bukan milik kita akan tampak jelas sebagai suatu pencurian, tapi ada hal-hal lain yang sebenarnya masuk dalam kategori pencurian tapi tidak tampak jelas dan kongkrit. Masalahnya adalah hati nurani kadang tidak terasah untuk merasakannya.

Dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu aku mendengar suatu dialog interaktif di radio tentang hukuman untuk oknum yang telah mencuri uang rakyat alias para koruptor. Seorang bapak dengan emosional  menyarankan mengganti istilah koruptor dengan istilah maling. Waktu penyiar menanyakan apa alasannya, toh artinya sama koruptor = pencuri = maling, bapak itu kembali menjelaskan dengan berapi-api. 

Koruptor itu kesannya ‘keren’ menunjukkan kelas yang lebih tinggi, kalau kata ‘maling’ lebih banyak digunakan untuk pencuri ayam dan pencuri-pencuri klas rendah lainnya. Maling ayam itu kan nggak terhormat, sudah dihukum penjara, sebelumnya babak belur dihajar massa, padahal koruptor sebenarnya sama tidak terhormatnya dengan mereka itu. Sekali mencuri tetap mencuri.

Hah? Aku jadi tersentak dan mulai memeriksa diriku sendiri. Dalam beberapa sisi, jangan-jangan tanpa disadari aku pernah atau sedang mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak atau milikku? Meskipun bukan seperti para maling ayam atau koruptor itu, skala besar atau kecil, apapun alasannya, bukankan yang namanya mencuri tetap mencuri? Oh, ini waktunya untuk introspeksi.

Memang pencuri layak untuk mendapatkan hukuman yang sepadan. Bukan bermaksud kompromi tapi cuma mikir-mikir aja, apa ada ya mencuri yang nggak perlu dihukum? Misalnya… mencuri waktu untuk menulis posting ini.. hehe.. Dan, ada lagi… kalau biasanya pencuri itu bikin geram dan marah tapi tidak untuk pencuri yang satu ini, pencuri hati ! Perlu dihukum nggak ya? Kalau iya, apa hukuman yang cocok untuknya? Ada ide? Hehehe…

* gambar diambil dari sini

Comments»

1. Asti - August 25, 2009

Setuju Tan..ulasan yang luar biasa yang dikemas sangat cantik. Gbu.

Thank you. Eh, siapa yang cantik? Asti ya?.. hehehe.. GBU 2 🙂

2. DV - August 25, 2009

Haih, lama nggak nongol tiba-tiba ngomel soal maling sia.
Sudahlah, Mbak percuma.. aku punya sodara yang maling, sekaya apapun ya tetap ada bakat malingnya.. jadi biarkanlah sodara kita yang satu itu… biarlah mereka curi apapun dari kita toh kita adalah bangsa yang rendah hati, suka menolong dan menghormati *lohhh*

Apakabar, Mbakyu?

Hai Don, iya nih lama aku menghilang dari peredaran.. hehe..kabarku baik, terima kasih 🙂
*siap-siap blogwalking ke Sydney*

3. Ikkyu_san - August 25, 2009

kalau mencuri waktu mesti dihukum wahhh nanti penjara di Indonesia bisa penuh deh hihihi

kadang, saya mencuri cium si Riku, yang sudah mulai malu kalo dicium mamanya di depan umum 😀

EM

Cium anak sendiri kaya’nya nggak masuk kategori mencuri deh Mel, apalagi kalau karena gemes… hihihi.. *cari cara membela diri*

4. Nunung H - August 25, 2009

Pencuri hati ya tentu saja perlu dihukum, mbak. Hukumannya … emmmm … apa ya? Ya dia harus menjaga, memelihara dan tetap setia kepada hati yang dia curi itu. Eh tapi kalo hati itu udah ada yang punya? Ya dia harus minta ijin dulu. Eh .. mana dikasih kalo minta ijin? He he he …. kenapa jadi ribet begini ya? Lagian emang hati siapa dicuri oleh siapa sih? Bukan Malingsia kan?

By the way, I miss u so much sist. YM-ku entah kenapa ga bisa dipake, untung masih tetep bisa kontak ya. GBU.

Eh, siapa yang harus ngasih hukuman ke pencuri hati Nung? orang yang hatinya dicuri itukah?.. hehehe..
Miss you too… YM barumu udah tak add kok… GBU2. 🙂

5. diah - August 27, 2009

Tanti…kalau pencuri hati……….so sweet Tanti….

6. rental mobil di surabaya - August 29, 2009

mobilku jangan di curi ya tapi kalau curi perhatian ya gpp. 😀 salam kenal.

7. nh18 - September 1, 2009

Mbak Tanti (#)
I share the same feeling Mbak …

mengenai Pencuri Hati ???
Yaaaa … enaknya di penjara saja di hati kita …
dalam sel khusus …
berlapis emas …
hahaha

Salam saya …

8. zipoer7 - September 3, 2009

padahal di waktu aku smp guruku pernah menyampaikan ke aku bahwa Malaysia itu negara Islam dan hukumnya berlaku seperti negara islam lainnya, tapi kenapa sifat mengaku-aku hasil ciptaan orang lain itu identik dengan pembajak…

9. Andri - September 7, 2009

haha sabarr.. kayaknya ni berhubungan ma post baru saya.. ^^
meski kita geram tapi tetap dingin aja… 😀

10. ciwir - September 8, 2009

menurutku sih kok nggak masalah ya
karena orang indonesia aja meremehkan budayanya sendiri kok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: