jump to navigation

Kisah Si Monyet Kecil September 14, 2009

Posted by tantikris in story.
trackback

Dora-boots-monkey[1]

Ini adalah gambar Boots, seekor monyet kecil berwarna  biru sahabat Dora The Explorer. Monyet adalah primata yang memang akrab dengan manusia, mungkin karena kata Darwin punya garis kekerabatan? 😀  Cerita yang akan kutulis ini sebenarnya sudah lama terjadi, lebih setahun yang lalu, bukan tentang Boots, ini tentang seekor monyet kecil disuatu tempat.

Tempat itu adalah salah satu tempat cuci mobil, lokasinya open air ditepi jalan, di ujung sebuah belokan. Tempatnya lumayan bersih, sumber airnya berupa beberapa kran air yang berjejer dan sebuah bak panjang, airnya terlihat  jernih, mengalir deras dan lancar. Entah siapa yang mengelola tempat ini, meskipun usaha sederhana kelihatannya cukup dikelola dengan baik, mendayagunakan penduduk sekitar sebagai pekerjanya, boleh juga, daripada mereka nongkrong di terminal yang ada disekitar daerah itu. 

Tempat ini menyatu dengan sebuah taman kota yang meskipun kecil tapi cukup rimbun, disitu ada bangku tempat duduk bersantai, yang sekaligus juga dimanfaatkan sebagai tempat tunggu oleh orang yang sedang mencucikan mobilnya. Diseberang jalan ada deretan warung, boleh juga kalau mau menunggu disitu sambil minum atau makan. Tempat ini buka sampai larut malam, tak heran kalau cukup banyak yang jadi langganannya. 

Sesekali suamiku mencucikan mobil kami ditempat ini, seperti sore itu sepulang kerja, saat kebetulan kami berdua pulang bersama. Enak juga duduk di taman sore-sore, menikmati semilir angin dibawah rindangnya pohon, menyaksikan matahari senja saat beranjak ke peraduannya. Ditengah taman, dibelakang tempat kami duduk tampak sekelompok anak-anak bermain dengan riangnya. Aku membalikkan badan memperhatikan kelompok anak-anak tadi. Oh, ternyata mereka sedang bermain dengan seekor monyet.

Haha… lucunya si monyet, wajahnya inosen, tingkahnya lincah, sama lucunya dengan anak-anak kecil teman bermainnya. Rupanya monyet itu punya sebuah rumah kecil di bawah sebuah pohon, dia sendiri meskipun lincah bergerak kesana-kemari ternyata terikat dengan sebuah rantai yang panjangnya sekitar 2 meter sehingga tidak bisa bergerak jauh-jauh dari kandangnya… oh kasihan. 

Entah kenapa setiap melihat monyet seperti itu aku jadi jatuh iba. Sejak kecil aku tidak terlalu suka melihat topeng monyet, bukan karena tidak suka dengan monyetnya atau atraksinya  tapi karena kasihan melihat dia dirantai dan dikaryakan untuk bekerja.

Hanya sebentar aku memperhatikan si monyet dan anak-anak itu, kembali membalikkan badan, duduk santai di bangku taman ngobrol sambil memperhatikan aktivitas mencuci mobil di depan. Tidak begitu lama tiba-tiba terdengar gaduh teriakan-teriakan. Anak-anak yang tadi bermain di tengah taman tampak berlarian di sisi kanan kiri tempat kami duduk. Belum sempat aku menoleh ke belakang para bapak yang mencuci mobil ikut-ikut berteriak menyuruhku pergi dari tempat dudukku. Hah? Kenapa?

Mbak.. mbak… jangan duduk disitu, pindah segera…” kata mereka, kami hanya bingung dan segera berdiri, kenapa? Melihat aku masih ragu-ragu mereka bertambah keras berteriak “Mbak… cepat pindah kesini, itu monyetnya lepas, dia suka menjambak rambut dan menggigit” Hah? Aku nggak mau digigit monyet…selain terlihat konyol, bisa jadi kan dia bawa penyakit?.. hiiii… Uuuh, kalau begini si monyet kecil jadinya nggak lucu lagi deh, aku jadi lupa akan rasa ibaku pada kandangnya tadi. 

Sampai diseberang jalan aku baru bisa melihat ternyata si monyet kecil memang sudah terlepas dari ikatan rantainya, dia berlarian di sekitar kursi tempat kami duduk tadi mengejar anak-anak yang tadi bersamanya. Whaaaa… kalau aku terlambat sedikit saja tadi, mungkin dia sudah menjambak rambutku.

Semua perhatian sekarang tertuju padanya, kami sempat bercakap-cakap dengan pemilik warung dimana akhirnya kami duduk disitu, monyet itu memang sudah lama jadi penghuni taman itu. Entah siapa pemiliknya, para penduduk disekitar sudah akrab dengannya, mereka menyayanginya, tapi rupanya monyet ini memang bandel, entah kenapa dia ini suka usil terutama sama cewek. Ooo.. itu tadi makanya mereka memperingatkanku… Hihihi…

Beberapa orang dewasa akhirnya ikut turun tangan mencoba menangkap si monyet untuk dikembalikan ke kandangnya. Seru juga melihatnya, dia susah sekali ditangkap, loncat sana, lari sini. Sampai mobil kami selesai dicuci aku belum tahu apa akhirnya dia berhasil ditangkap. 

Beberapa bulan kemudian, saat kami pulang bersama lagi dan melewati daerah itu suamiku kembali mengajak kami mencucikan mobil disitu. Awalnya aku tidak mau, karena ingat insiden itu, tapi dia berhasil meyakinkanku tidak akan terjadi apa-apa, kan ada kandangnya, lagian para penduduk disekitar kan pasti kasih tahu kalau terjadi apa-apa, sudah terbukti kan. Akhirnya aku setuju.

Saat duduk di bangku taman aku menengok sana-sini, kelihatannya aman, ada sih sekelompok anak sekolah tapi tidak ada yang bermain ditengah taman. Dari kejauhan kandang si monyet tampak sepi. Aku sempat berpikir, kok si monyet nggak tampak ada ya? Mungkin dia ada di dalam kandang begitu pikirku tanpa berniat untuk membuktikannya dengan mendekat. Selain karena akan jatuh iba melihat keadaannya di kandang yang sempit dan rantai, aku juga takut kalau tiba-tiba dia lepas dan usil padaku.

Beberapa saat suasana aman dan tenang, tiba-tiba.. seperti déjà vu aku mendengar lagi teriakan-teriakan orang yang mengatakan kalau si monyet lepas. Hah? Lepas lagi?.. Oh..no…. Kali ini kami tetap diam ditempat tidak berlari menyeberang. Abis gimana, kali ini si monyet bukan berlari kearah bangku taman, justru dialah yang menyeberang jalan ke arah warung-warung.

Si monyet meloncat kesana-kemari dengan lincah, entah show off, entah menghindar dari orang yang berusaha menangkapnya. Setelah meloncat-loncat di warung dia menyeberang ke sisi kanan jalan bertengger dan meloncat di pagar sebuah rumah. Duh, nakal sekali sih dia…apa dia senang menjadi perhatian banyak orang?

Kuamati ada 2 orang lelaki yang serius berusaha menangkapnya, kelihatannya itu penduduk setempat, mungkin termasuk orang yang selama ini merawatnya. Semakin banyak orang yang ikut berkerumun maksudnya mungkin mau membantu, beberapa pengendara yang kebetulan melintas di jalan itu bahkan ikut berhenti dan menyaksikannya.

Semakin banyak orang yang mencoba menangkapnya semakin lincah si monyet meloncat kesana kemari. Aku jadi berpikir apa mungkin dia panik ya? Aduh.. monyet kecil.. ayo dong jangan nakal, nurut aja ya… mereka tidak ingin menyakitimu, mereka ingin mengembalikanmu ke rumahmu.

Sebenarnya aku ingin menyuruh orang-orang itu untuk bubar supaya si monyet tidak panik, tapi gimana caranya ya? Baru saja aku berpikir, si monyet meloncat lagi lebih tinggi, kali ini ke plafon teras sebuah rumah. Sebentar kemudian dia meloncat ke tiang telepon, aduh.. aku jadi menahan nafas karena sebelahnya ada tiang listrik.

Belum sempat aku mengatakannya tiba-tiba benarlah, dia meloncat ke tiang listrik yang tinggi dan… sebentar kemudian terdengar bunyi seperti ledakan, korsleting listrik, rupanya dia menyentuh kabel listrik tegangan tinggi !! Bagaikan horor, aku melihat tubuh kecilnya terpental dan melayang, hanya sepersekian detik, refleks aku menutup mata dan memalingkan wajahku tak sanggup melihatnya jatuh dari ketinggian.

Serentak orang-orang berteriak, kemudian berkerumun menghampirinya. Kami tetap duduk ditempat tidak ikut melihatnya, aku tetap memalingkan wajahku tidak tega melihatnya, kasihan, betapa tragisnya akhir hidup si monyet kecil…hikss.. Setelah beberapa saat, dari jauh kulihat kerumunan orang mulai berpencar, sebagian kembali melanjutkan aktivitas atau perjalanannya tapi sebagian mengikuti dua orang laki-laki yang membawa jasad si monyet kecil kearah perkampungan. 

Saat kami beranjak ke mobil yang sudah selesai dicuci kulihat dua orang anak yang digandeng ibunya keluar dari salah satu gang di jalan itu, kudengar mereka menangis terisak-isak… ”huuu…huuu… Sarip.. Sarip”  Oh? Jadi monyet itu namanya Sarip? Rupanya dia benar-benar disayangi oleh orang-orang disekitarnya. Persahabatan yang tulus bisa terjalin dimana saja, oleh siapa saja.

Itu kejadian lebih setahun yang lalu, sejak saat itu, meskipun tidak ada lagi ancaman ada monyet lepas kami hanya satu dua kali pergi kesitu. Kemarin, aku singgah kesana karena memanfaatkan waktu saat menunggu waktu untuk suatu appointment di dekat tempat itu, makanya aku jadi ingat kisah ini.  Sarip,… rest in peace ya..

Comments»

1. zipoer7 - September 14, 2009

Salam Takzim
Cerita yang memilukan dari kesaksian matinya seekor monyet yang semula lucu jadi pemarah, dan mengakhiri hidupnya dengan tragis, semoga tidak terulang sahabat..
Salam Takzim Batavusqu

2. zipoer7 - September 19, 2009

الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر
..
Allahuakbar 3x
Lailahaillallohhu wallohu akbar
Allahuakbar walillahilhamd
..
Gemuruh takbir berkumandang di penjuru negeri, tanda hari raya akan tiba
Bila ada salah kata mohon dilepaskan bila ada tutur yang ngawur mohon dilebur.
Seluruh umat islam bermuhasabah dengan tetap berharap rindu akan RamadhonMu Ya Robb yang maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan
..
Salam Takzim 1430H

الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر

3. vizon - September 28, 2009

Halo mbak Tanti, apa kabar? Lama juga saya tak berkunjung ke sini ya… maafin ya… 😀

Duh, tragis amat sih nasib si boots eh si monyet itu… Monyet adalah salah satu hewan yang paling cepat beradaptasi dengan manusia. Keakrabannya dengan sang empunya, bisa sangat luar biasa. Saya juga pernah melihat seorang anak yang dengan penuh sayang menggendong monyet peliharaannya. Tapi, karena hewan selalu menggunakan insting, maka bila keadaannya terancam, maka seringkali dia kalap dan bisa menyakiti orang yang ada di sekitarnya. Cuma, dengan kejadian yang itu, bukan berarti Mbak Tanti trauma ketemu monyet bukan? hehe… 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: