jump to navigation

Lost in Your Eyes November 23, 2009

Posted by tantikris in poem.
4 comments
I could see the stars glowing in your eyes,
in the way you look at me that made me feel so nice.
I could feel the peace when I see your smile,
the serene it brings stay longer in my heart more than  just a while.
 
I could see so much love shining in your eyes,
when you look at me even just a glance.
It said the words “I love you” that never came out,
but clearly understood as a silent shout.
 
We were so young and innocent when we fell in love,
blind and clueless  but I had my faith.
From the first time I knew you are the one that I love,
someone I would share all my life with.
 
Then we pledge our faithfulness each other,
wish that it will be last forever.
My tears were rolling when I heard you said your promise,
your eyes were hazy when you heard me said my promise.
 
“I take you as my wife – I take you as my man,
to have and to hold from this day forward,
for better-for worse, for richer-for poorer, in sickness or in health,
to love and to cherish, ‘till death do us part”.
 
Day by day, time goes by, we live our life,
our love stay still and safely keep alive.
Learning each other in many kinds of ways,
experiencing love in such a various ways.
 
It sometimes took us to a stormy weather,
it sometimes took us to a quiet stream.
It’s not like in the fairy tale love happily ever after,
but the happiness it brings is real more than I have dream.
 
I then realize how you translate your love to me,
by your caring rather than by words  that flattered me.
Often it expressed by simple acts but bring so many meaning,
or sometimes by funny things that made me laughing.
After so many years, still I can see so much love shining in your eyes,
sparkling when you look at me even just a glance.
How grateful we have each other, wish it never be apart,
let this feeling stay forever ‘till death do us part.
* The candid pictures were taken at Temple of Heaven, Beijing, October 23, 2009

Lost in Classification November 9, 2009

Posted by tantikris in story.
8 comments

Manusia sering membuat berbagai klasifikasi atau pengelompokan untuk beberapa hal dengan berbagai tujuan. Biasanya sih sesuatu dikelompokkan berdasarkan beberapa karakteristik utama  yang menjadi ciri khasnya. Dalam perkembangannya kadang ada beberapa hal yang tidak terakomodasi dalam kriteria suatu klasifikasi jadi ditambahkan adanya beberapa kelompok baru untuk klasifikasi tersebut. Ada beberapa kelompok yang tampak menonjol dan mendapat perhatian, ada beberapa kelompok yang malah luput dari perhatian.

Di Bangkok aku menemukan sesuatu yang berkaitan dengan klasifikasi gender. Kalau selama ini secara universal dikenal pembagian gender adalah laki-laki dan perempuan, tapi disini aku menemukan sosok yang mestinya masuk kelompok gender laki-laki tetapi berpenampilan dan perilaku seperti perempuan. Apalah itu sebutannya, waria, banci, bences, bencong, transgender, transeksual, mereka kulihat tampak cantik dan gemulai, kadang bahkan lebih cantik dari perempuan asli.

Beberapa tahun lalu, aku sempat berfoto bersama salah seorang dari mereka setelah nonton cabaret show di Bangkok. Wah, aku kalah cantik, banget !!..hihihi… kalau nggak lihat jakun yang ada di lehernya, siapa mengira dia bukan perempuan tulen? Orang bilang Bangkok memang ‘surga’nya kaum transeksual untuk operasi atau mempercantik penampilannya. Kalau dulu mereka hanya kujumpai di tempat show kabaret, entah kenapa pada kunjungan kali ini rasanya makin banyak kujumpai mereka diberbagai tempat dan berbagai profesi, memunculkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa kusimpan dalam hati. 

Pertanyaanku bermula dari apa status mereka yang tertulis di kartu identitasnya ya? Male? Female? Atau ada klasifikasi baru : shemale? Apakah mereka menderita dalam keadaannya yang tidak sesuai kodrat? Apakah mereka lebih berbahagia dengan operasi transeksual dan penampilan barunya, apa tidak ada masalah baru yang timbul karenanya baik fisik maupun psikis? Berapa banyak sih sebenarnya mereka itu, apakah benar jumlahnya bertambah banyak dari waktu ke waktu atau sebenarnya tetap saja tetapi mereka mulai eksis dalam berbagai sisi kehidupan? Seberapa jauh masyarakat sekitar menerima keberadaan mereka?

(more…)

Lost in Translation November 3, 2009

Posted by tantikris in story.
8 comments

Berbicara dan berkomunikasi  dalam bahasa asing yang bukan bahasa ibu bukanlah hal yang mudah untuk sebagian besar orang. Salah menterjemahkan, bisa salah artinya, yang kadang-kadang bisa berakibat fatal. Tidak jarang pula, ada kata-kata yang sama tapi ternyata artinya bisa berbeda jauh.

Urusan dengan bahasa ini kualami dalam perjalanan kami ke Bangkok dan Beijing beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, dua negara tadi punya alfabet khusus dalam bahasa tulisnya, yang dua-duanya tidak kupahami. Belum lagi bahasa verbalnya yang buatku tidak saja asing dalam kata-katanya tapi juga nada pengucapannya (tentunya begitu pulalah mereka memandang kami bila sedang bicara bahasa Indonesia atau bahasa Jawa). Nah, tentu saja yang diandalkan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Saat berada di Bangkok, tidak terlalu masalah karena di sektor publik, relatif banyak orang yang menguasai bahasa Inggris, meskipun dengan aksen Thai yang kental, tidak heran karena kota ini adalah salah satu kota wisata dan bisnis yang terkenal di kawasan Asia. Tapi kami mengalami masalah waktu berada di Beijing yang dimulai sejak kedatangan pada waktu cek in di hotel.  

Tidak ada masalah pada waktu kami menyodorkan print out reservasi via internet, paspor dan lain-lain, sang resepsionis hanya sedikit berkata-kata dan memeriksa reservasi kami di komputer. Masalah tiba waktu dia dengan terbata-bata berbicara -dalam bahasa Inggris beraksen Cina yang susah dipahami- bahwa kamar yang kami pesan tidak tersedia malam itu, baru bisa besok malam. Lho kok?

(more…)