jump to navigation

Lost in Classification November 9, 2009

Posted by tantikris in story.
trackback

Manusia sering membuat berbagai klasifikasi atau pengelompokan untuk beberapa hal dengan berbagai tujuan. Biasanya sih sesuatu dikelompokkan berdasarkan beberapa karakteristik utama  yang menjadi ciri khasnya. Dalam perkembangannya kadang ada beberapa hal yang tidak terakomodasi dalam kriteria suatu klasifikasi jadi ditambahkan adanya beberapa kelompok baru untuk klasifikasi tersebut. Ada beberapa kelompok yang tampak menonjol dan mendapat perhatian, ada beberapa kelompok yang malah luput dari perhatian.

Di Bangkok aku menemukan sesuatu yang berkaitan dengan klasifikasi gender. Kalau selama ini secara universal dikenal pembagian gender adalah laki-laki dan perempuan, tapi disini aku menemukan sosok yang mestinya masuk kelompok gender laki-laki tetapi berpenampilan dan perilaku seperti perempuan. Apalah itu sebutannya, waria, banci, bences, bencong, transgender, transeksual, mereka kulihat tampak cantik dan gemulai, kadang bahkan lebih cantik dari perempuan asli.

Beberapa tahun lalu, aku sempat berfoto bersama salah seorang dari mereka setelah nonton cabaret show di Bangkok. Wah, aku kalah cantik, banget !!..hihihi… kalau nggak lihat jakun yang ada di lehernya, siapa mengira dia bukan perempuan tulen? Orang bilang Bangkok memang ‘surga’nya kaum transeksual untuk operasi atau mempercantik penampilannya. Kalau dulu mereka hanya kujumpai di tempat show kabaret, entah kenapa pada kunjungan kali ini rasanya makin banyak kujumpai mereka diberbagai tempat dan berbagai profesi, memunculkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa kusimpan dalam hati. 

Pertanyaanku bermula dari apa status mereka yang tertulis di kartu identitasnya ya? Male? Female? Atau ada klasifikasi baru : shemale? Apakah mereka menderita dalam keadaannya yang tidak sesuai kodrat? Apakah mereka lebih berbahagia dengan operasi transeksual dan penampilan barunya, apa tidak ada masalah baru yang timbul karenanya baik fisik maupun psikis? Berapa banyak sih sebenarnya mereka itu, apakah benar jumlahnya bertambah banyak dari waktu ke waktu atau sebenarnya tetap saja tetapi mereka mulai eksis dalam berbagai sisi kehidupan? Seberapa jauh masyarakat sekitar menerima keberadaan mereka?

Suatu kolom dalam Bangkok Post yang kubaca dalam penerbangan dari Bangkok ke Beijing seolah nyambung dengan beberapa pertanyaan yang kupikirkan tadi. “Gender diversity isn’t disorder” begitu judul artikelnya, hmm… is that so?. Ada empat orang yang memberikan opininya, terdiri dari seorang tokoh advokasi masalah gay dan lesbian, tokoh dari Departemen Pertahanan, seorang psikiater dan seorang transeksual itu sendiri.

Gb 1

Isi artikel tersebut adalah suatu upaya untuk meninjau kembali suatu suatu regulasi di Thailand mengenai kaum transeksual yang diberi cap “menderita kelainan identitas gender” atau “suatu kelainan mental permanen” yang membuat mereka ditolak dari tugas militer. Kesaksian seorang transeksual menyebutkan bahwa saat cap itu diberikan pada dokumen Sor Dor 43 (sertifikat utama, penting untuk melamar pekerjaan di Thailand) miliknya, tertutuplah kemungkinan baginya untuk diterima bekerja di berbagai instansi karena tidak ada instansi yang mau mempekerjakan orang yang punya kelainan mental.

Intinya, hal ini berkaitan dengan isu hak asasi manusia, hal ini ditegaskan dua opini lainnya. Hal yang menarik adalah pendapat dari pihak Departemen Pertahanan yang menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada maksud untuk mendiskreditkan kaum transeksual, tetapi masih ada kesulitan karena  belum didapatkan padanan kata yang tepat untuk menggantikan kata ‘kelainan identitas gender’ atau ‘kelainan mental permanen’. Masih perlu dipahami dan dikaji lagi lebih dalam adanya keberagaman gender yang ada dalam masyarakat. Ah, memang susah, sampai saat inipun masih belum ada jalan keluarnya.  Aku jadi berpikir, apa perlu ada klasifikasi gender ketiga?

Saat aku melipat koran tersebut dan meletakkannya dipangkuanku tiba-tiba mataku terbelalak saat mendapati pemandangan yang ada di dua baris depan deretan kanan tempat dudukku. Kulihat dua orang lelaki muda yang berpenampilan menarik sedang berciuman, hah? Kalau tadi aku berpikir tentang kaum transeksual, kali ini didepanku ada kaum yang punya kecenderungan untuk tertarik sesama jenis, mereka laki-laki tulen, penampilannyapun tidak kemayu dan lemah lembut, meskipun juga tidak macho dan maskulin. Duh, yang ini masuk klasifikasi yang mana lagi?

Kalau dulu, setahuku hal ini disebut sebagai suatu kelainan atau penyimpangan seksual, tapi belakangan aku membaca, komunitas ini menolak disebut mengalami suatu kelainan, mereka menyebutnya sebagai orientasi seksual. Pertanyaan-pertanyaan yang sama kembali muncul dalam pikiranku, tapi yang paling menonjol adalah apakah hal ini memang suatu ‘kelainan bawaan’ atau suatu gaya hidup? Seorang yang sebenarnya straight kemudian bisa saja punya perilaku seperti ini karena pengaruh gaya hidup dan apapun alasannya, mereka ini ada, eksis dalam kehidupan sehari-hari.

Sekilas aku bergidik, teringat kisah Sodom dan Gomora, tapi entahlah, aku tak berhak menghakimi mereka. Aku berpikir, setiap orang punya hak untuk menentukan cara hidupnya dan mempertanggungjawabkan pilihan tersebut diakhir hidupnya. Sampai pada wilayah tertentu, aku menghormati mereka sebagai individu karena bukankah itu yang harus dilakukan dalam hidup bersama di masyarakat?

Sampai di Beijing, ada dua kelompok lagi yang menarik perhatianku, kali ini klasifikasinya adalah usia. Kabarnya karena tingginya jumlah penduduk di Cina, ada regulasi yang membatasi bahwa setiap keluarga di Cina hanya boleh punya satu anak saja. Mungkin ini benar juga, dalam perjalanan singkatku, rasanya tak banyak kulihat adanya anak-anak diberbagai tempat umum.

100_2683

Justru yang banyak kulihat adalah anak-anak Cina yang diadopsi oleh pasangan suami istri bule, ini banyak kujumpai di bandara, taman kota atau tempat-tempat wisata. Semua anak adopsi pada keluarga bule yang kulihat itu adalah anak-anak perempuan, rupanya mereka ‘dibuang karena dianggap ‘kurang berharga’. Oh, ironis sekali… seorang bayi tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini. Mereka ada sebagai buah cinta kasih, mereka ada sebagai anugerah yang agung dari Sang  Pencipta, suatu kehormatan besar untuk menjadi orang tua, diberikan titipan untuk dibesarkan dan dididik menjadi seorang manusia yang berguna, bagaimana mungkin semua itu akan diabaikan begitu saja.

Aku bersyukur sebagian dari anak-anak terbuang itu mendapatkan orang tua baru, dilimpahi kasih sayang dan segala yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Siapapun dia, bangsa apapun dia, kasih sayang yang dipancarkannya bersifat universal, seorang anak adalah permata hati bagi orang tuanya.

Kelompok anak yang lain kutemui saat melihat Acrobat Show di Beijing. Kami diberitahu bahwa para anggota grup itu biasanya adalah anak-anak terlantar atau yatim piatu yang kemudian dibesarkan di kelompok itu, dilatih keras sejak kecil menjadi pemain akrobat yang handal. Aku jadi termangu-mangu disela kekagumanku pada atraksi show.

Gb 3

 Aku berpikir, berbahagiakah anak-anak itu dengan kehidupannya? Kalau melihat dengan ukuranku, seharusnya mereka menikmati masa anak-anak dengan bermain dan belajar, bukan bekerja keras seperti ini. Tapi mungkin ukuran mereka tidak sama denganku. Mungkin merekapun berbahagia dengan keadaannya, dengan ukurannya. Yang jelas, mereka memberi orang lain kegembiraan dan kesukaan dengan menonton atraksinya. Ah, diberkatilah anak-anak ini, diberkatilah seluruh anak-anak didunia.

Kalau anak-anak jarang kulihat di tempat-tempat umum, sebaliknya yang banyak kulihat adalah kaum lanjut usia. Di berbagai tempat wisata mereka banyak kujumpai, baik dalam kelompok atau hanya berdua-dua. Meskipun sudah terlihat renta terlihat mereka begitu bersemangat, tetap sehat dan ceria, aku kagum pada stamina mereka, mungkin itu pengaruh dari gaya hidup mereka selama ini. Gb 4

Aku tidak tahu statistik pastinya, tapi kelihatannya angka harapan hidup di Cina cukup tinggi. Adanya jumlah penduduk lanjut usia yang tinggi mungkin punya permasalahan tersendiri. Menilik usianya mereka tidak lagi digolongkan dalam kelompok produktif tetapi dengan kualitas hidup yang tetap prima, keberadaan mereka mestinya bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan masyarakat.  

Gb 6

Mereka ini mungkin adalah kelompok yang tidak terlalu mendapat perhatian, tapi memberiku berbagai inspirasi. Aku jadi berpikir, kalau punya orang tua seperti mereka, aku jadi punya kesempatan lebih panjang untuk menyatakan kasih, berbakti dan membahagiakan mereka. Aku jadi berangan-angan, kalau bisa seperti mereka nanti aku akan sempat mencurahkan cinta kasihku pada anak cucuku lebih lama lagi, melihat mereka hidup berbahagia. Saat melihat mereka saling berpasangan hingga usia tua, terlintas kembali harapan dan doa saat kami menikah, semoga kekal sampai kaken-ninen. Kalau Tuhan berkenan, kiranya semua itu boleh terjadi pada kami.

Amin.

Comments»

1. edratna - November 10, 2009

Tulisan yang penuh perenungan dan pemikiran, yang indah sekali. Ayah ibuku dipanggil Allah saat saya belum bisa memberi perhatian dan belum cukup membalas budi. Ayah meninggal unmur 56 tahun dan ibu 60 tahun, bahkan saya menikah didepan jenazah ayah.

Mungkin nanti Indonesia juga mengarah kesana, semakin banyak orangtua karena semakin baiknya kesehatan, disatu sisi anak2 makin sibuk. Mungkin perlu dipikirkan semacam panti untuk orangtua, yang menarik, yang penghuninya masih bisa berkarya, namun anak-anaknya sibuk. Tanti berminat membuat program ini? Saya sempat mengobrol dengan teman, anaknya dua, satu dokter lulusan UI dan bungsunya tingkat akhir ITB. Anakku pun dua2nya jauh, satu di Bali dan satunya lagi reserach program di Jepang. Hmm…dan rasanya saya pengin tetap aktif ….dan tak membebani anak-anakku, yang nantinya akan punya rumah tangga sendiri yang perlu dipikirkan.

Soal jender ketiga, mungkin kita emang perlu memikirkan kembali…dari sisi kedokteran dan mungkin dari agama, mereka memang ada….Masalah tak bisa masuk militer, kemungkinan karena tak memenuhi kriteria nya, karena masuk militer perlu kesehatan dan kekuatan fisik prima disamping kriteria lain yang berat.

Saya jadi ingat salah satu program reality show (AnTV kalau tidak salah) yang judulnya Be a Man, tentang para waria yang dilatih dalam kamp militer. Para pesertanya rata2 berpostur tubuh laki-laki, terbalut kostum militer yang macho dan latihan fisik yang keras tapi tingkahnya kemayu dan lemah gemulai. Secara tidak sengaja beberapa kali acara itu saya tonton sekilas, kadang sayapun ikut tertawa seperti banyak pemirsa lainnya, tapi buat saya sebenarnya itu satir sekali sehingga saya tidak mau secara khusus menontonnya. Kenapa harus dieksploitasi dengan cara demikian, entah apa tujuannya ya, kalau mau mengembalikan mereka ke kodratnya apa ya begitu caranya?

2. DV - November 10, 2009

Wah, habis jalan-jalan ya, Mbakyu?
Ngomong soal orientasi seks, di sini buanyak bener pemandangan para gay yang saling berciuman…

Gimana ya, dalam sisi iman aku tetap tak bisa terima dan merasa bahwa mereka sebenarnya bisa disembuhkan kalau mereka mau tapi dari sisi manusiawi, aku tetap harus menghormati mereka semua karena tetap bagian dari umat manusia itu sendiri…

Agree, pendapatku juga sama ! 🙂

3. kajo - November 11, 2009

Wuihhhh …. kayak diajak jalan-jalan ke sono rasanya.
tq. oleh-olehnya Tant 🙂

Selama kita masih menganut pendapat bahwa hidup adalah pilihan, maka tanpa sadar kita mengakui bahwa di antara pilihan-pilihan itu pasti ada yang salah dan ada yang benar. Walaupun status salah dan benar ini pun masih dapat menjadi satu bagian tulisan sendiri karena pasti banyak pendapat di sana.

Hanya ada terselip satu pertanyaan :
Mengapa ya banyak manusia yang menganggap mereka salah pilih atau keliru, tapi suka dan menikmati kekeliruan mereka ?
Bahkan mungkin kalau suruh milih, lebih memilih mereka itu tetap ada pada kesalahannya. Pernahkah kita bayangkan Thailand tanpa mereka ?

Jadi inget pesan seorang teman saat saya ke Phuket.: “Hati-hati di sana, kalau cantik itu bukan perempuan. Perempuan aslinya malah gak cantik-cantik amat kok ….” Whuahhh ??

Wahh. Jangan-jangan saya juga termasuk di antara banyak manusia yang ‘menikmati’ kesalahan mereka ? ( Bila tetap boleh mengatakan mereka salah ya …. ).

Jadi, waktu ke Phuket sempat salah nggak? …hihihi… 😉
Lessons learned-nya.. jangan hanya terpesona oleh kecantikan fisik ya? bisa salah nantinya… hehehe..

4. nh18 - November 11, 2009

Mbak Tanti #
Ini tulisan yang Paten sangat Mbak …
Saya suka sekali

Sebuah perenungan …
(dan terus terang saya tidak tau jawabannya …)

Salam saya

Saya juga belum tahu jawabannya, mudah2an nanti suatu saat bisa mengerti juga. Terima kasih.

5. Arifin - November 16, 2009

menurut yang saya baca (karena saya juga jarang ke sana, bahkan tidak pernah hehehehe).
Mereka banyak jadi waria ternyata karena tuntutan hidup, menjadi laki-laki disana ternyata lebih susah untuk mencari nafkah. Dan menjadi waria disana tidak sesusah di Indonesia yang harus berpikir jutaan kali untuk keluar dengan dandanan dan baju perempuan, karena sudah umum dan diterima sekali oleh masyarakat. Saya juga pernah baca, mungkin yang jadi penyebab banyaknya waria di sana adalah karena faktor air yang banyak mengandung suatu zat (saya lupa nama zat nya..) yang bisa mempengaruhi kecenderungan seksual

O ya? Wah, ada info tambahan, saya baru tahu nih. Thanks ya…

6. abindut - November 22, 2009

Akhirnya..
Baca juga oleh-oleh dari perjalanannya mbak tanti…
Kalau aku disuruh jawab, mungkin pilih abstein aja deh..
tapi yang pasti setiap penyakit atau kelainan itu ada obatnya, yang terpenting kemauan pada diri mereka, susah memang, tapi tepat harus berusaha, karena tak ada yang istan, dan terpenting peran dari keluarga dan lingkungan sangat mendukung. Mereka semua harus memotivasi bukan malah menghakimi…

Iya, jangan menghakimi karena untuk jadi hakim harus sekolah dulu… hehehe…
Eh Bi, masih ada satu lagi oleh-olehnya lho, baca posting berikutnya, ok?

7. eko magelang - February 25, 2010

tulisan yg bagus
salam kenal

8. agie - June 20, 2011

slam knal mba;;;, panggil aja aku agie..; aku adalah seorang gay dan bukan kemauanku untuk menjadi seorang gay..; aku mencoba untuk keluar dari dunia ini namun sangat sulit” mba yang aku tau walaupun saya adalah kaum gay namun kami juga ingin mendapatkan pengakuan dari semua orang. kaum gay bukan penjahat, bukan koruptor tapi kenapa kami selalu didiskriminasi.. ; seandainya smua tahu bahwa seorang gay banyak mempunyai kelebihan diatas orang orang yang normal.., jujur cita-cita saya adalah ingin mempunyai sebuah usaha dimana didalamnya ingin memperkerjakan para kaum gay.. namun rasanya semua itu hanyalah mimpi karna keterbatasanku. jujur sebenarnya aku ingin sekali lebih banyak mengutarakan lbh detail lagi krn tidak bisa memposting d sini.. aku beharap ada seseorang yang mau membantu kami..,


Leave a Reply to agie Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: