jump to navigation

Sampai Masa Tuamu……… October 26, 2010

Posted by tantikris in reflection.
8 comments

Belakangan ini ada sesuatu yang selalu mengusik pikiranku. Tiga hari dalam seminggu, pada tiap perjalananku ke kampus di pagi hari, mataku selalu terpaku pada sosok yang ada di traffic light di suatu pertigaan jalan. Seorang nenek yang berperawakan kecil dan kurus agak bungkuk, rambutnya putih disanggul kecil sekadarnya, memakai kain batik dan kebaya katun kusam berdiri menjajakan koran, menghampiri tiap mobil yang berhenti pada waktu lampu merah.

 

Satu saat kulihat dia sedang terbungkuk-bungkuk berlari kecil menawarkan korannya pada mobil-mobil yang sedang berhenti saat lampu merah. Kali lain kulihat dia duduk di pembatas jalan, mengusap keningnya yang berpeluh dengan ujung kebayanya yg lusuh, Tubuhnya tampak renta, wajahnya lelah, kulitnya keriput kecoklatan terpanggang matahari. Dari kejauhan tak bisa kupalingkan pandanganku darinya tanpa membuat mataku menjadi merah, panas, bahkan menitikkan airmata. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, posisiku yang berbelok ke kanan dari pertigaan itu, pada jalur yang berlawanan tidak memungkinkanku untuk mendekatinya, membeli korannya, bahkan untuk sekedar melihat sosoknya dari dekat.

 

Biasanya anak-anak mudalah yang berjualan koran di jalanan, kalau nenek itu memutuskan mengambil pekerjaan ini tentu dia punya alasan tersendiri. Seharusnya ini bukan pekerjaan yang tepat untuknya. Mungkin kalau dia berjualan sesuatu di pasar, atau ditempat yang menetap tidak harus berlari-larian ditengah jalan dibawah terik matahari  Surabaya yang panas seperti ini akan lebih baik untuk fisiknya yang renta. Aku tidak tahu alasannya tapi  aku sangat respek karena dia mencari nafkah dengan cara yang halal. Meskipun, tak bisa kupungkiri hal itu juga yang membuat hatiku seolah  terasa tersayat, mengapa nenek serenta itu masih harus bekerja sekeras itu?

 

Setiap melihatnya berbagai pikiran selalu berkecamuk di benakku : jalanan bukan tempat yang aman untuknya, panas matahari, asap kendaraan bermotor akan mengganggu kesehatannya. Capekkah dia? Apa dia pusing karena kepanasan? Dimana dia berteduh kalau hari hujan? Apa dia sudah makan pagi ini? Berapa banyak rejeki yang didapatnya hari ini? Cukupkah untuk hidupnya? Dimana dia tinggal? Siapa yang merawatnya? Sehatkah dia hari ini? Bahkan menuliskannya lagipun membuat tenggorokanku terasa panas dan tercekat, tak sepantasnya seorang nenek bekerja di jalanan seperti itu.

 

Aku mencoba berpikir positif tentangnya, untuk mengusir kegundahan hatiku. Hanya karena dia renta dan harus bekerja keras bukan berarti dia tidak berbahagia kan? Hati orang siapa yang tahu? Mungkin dia memang miskin harta tapi bisa jadi dia kaya akan kasih sayang dan semangat hidup, itulah yang membuatnya tetap aktif bekerja? Dia pantang untuk meminta-minta, dia tidak minta dikasihani, dia hanya bekerja mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Aku belajar darinya tentang arti giat bekerja dan semangat hidup.

 

Apapun alasannya, kisah nenek ini adalah realita yang ada disekitar kita, dia bukan satu-satunya. Keadaan membuat mereka harus menjalani  masa tuanya dengan bekerja keras mencari nafkah. Dibeberapa negara yang kukunjungi aku memang melihat banyak pula para lansia yang masih bekerja, tetapi pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sesuai dengan kondisi fisiknya, biasanya juga merupakan pekerjaan paruh waktu.

 

Di negara-negara maju para lansia itu  disebut sebagai senior citizen kata itu terasa mengandung suatu penghormatan, dan untuk itulah mereka mendapat perlakuan yang khusus di beberapa sektor publik. Salah satu contoh adalah di kendaraan umum, di luar negeri, deretan kursi yang paling dekat pintu masuk selain diperuntukkan bagi  orang yang punya cacat fisik  juga diutamakan untuk para lansia, hal ini yang belum kutemukan di negara kita tercinta ini. Mereka diberi tempat khusus bukan karena kasihan tetapi merupakan suatu penghargaan,  bentuk ungkapan  memperhatikan kebutuhan mereka sesuai kondisi fisiknya.

Tapi benarkah bangsa kita belum memberikan perhatian pada para lansia?

(more…)

Advertisements

I Love Mondays October 12, 2010

Posted by tantikris in I love Mondays.
3 comments

Garfield si kucing gendut pemalas terkenal dengan pernyataannya : “I hate Mondays”. Tak hanya Garfield, sebagian orang rupanya sependapat dengannya. Akhir pekan  yang identik dengan istirahat dan santai telah berakhir lalu datanglah hari pertama di minggu baru, wuaah… kebayang deh pekerjaan dan tugas-tugas yang menanti…. Oh tidaaaaakkk…. 😀

Aku sering heran, kenapa  kalau hari Senin pagi lalu lintas relatif lebih padat, ramai, bahkan cenderung macet dibanding hari-hari kerja lainnya? Padahal kan, hari-hari selanjutnya mereka tetap menggunakan jalan yang sama? Baik yang sedang menuju ke sekolah, atau ke tempat kerja?

 

Apa sih istimewanya hari Senin dibanding hari-hari lainnya?

Apa karena Senin itu hari pertama, awal minggu?

Apa karena yang pertama biasanya jadi istimewa?

Apa karena yang di awal, yang terdepan itu biasanya dipandang spesial?

Tapi anehnya, buat Garfield dan sebagian (besar) orang, hari pertama yang istimewa tadi kok sekaligus tidak diharapkan kedatangannya ya?

 

Meskipun aku tidak membenci hari Senin tapi kadang sebel juga rasanya kalau akhir pekan sudah berlalu dan kesibukan menghadang di Senin awal minggu yang baru. Tapi, rasanya Seninku di waktu-waktu mendatang ini bakalan jadi hari-hari Senin yang “tidak biasa” kalau tidak bisa dikatakan spesial. Tidak biasa, karena sejak bulan lalu, aku mendapat kesempatan kembali jadi mahasiswi dengan jadwal kuliah di hari Senin yang dimulai pada pukul 7 pagi…. (uuh…plisss deh), tapi jadi spesial karena ada beberapa hal yang kudapatkan didalamnya, aku belajar tentang banyak hal !

Aku bersyukur dan senang punya kesempatan untuk terus belajar, apalagi dalam pendidikan formal. Kalau tidak di-recharge dan belajar terus, wawasanku tak akan berkembang, merasa sudah tahu semuanya, lalu pengetahuan yang kubagikan pada sesamapun mungkin dangkal dan tak bermakna. Lihat perkembangan ilmu pengetahuan, semakin belajar lebih banyak, semakin aku sadar kalau masih banyak lagi yang belum kuketahui.

Tidak hanya dari aspek materi bidang ilmu, sesuatu yang kudapat sejak senin pagi awal semester ini membuka cara pandangku terhadap logika sains dan berbagai filosofinya. Ini waktunya untuk belajar banyak hal tak ‘sekedar’ ilmu, rasanya cocok deh kalau meminjam slogannya sebuah toko buku : “Enlarging mind, expanding horizon” .

Segala sesuatu tentang belajar sebenarnya adalah sesuatu yang memberi arti dalam kehidupan. Orang bijak mengatakan tentang belajar sepanjang hayat, long life education. Proses belajar tidak hanya terjadi saat seseorang menempuh pendidikan formal, proses belajar dalam setiap aspek kehidupan adalah sesuatu yang dilakukan setiap orang dalam tiap fase kehidupannya, entah disadari atau tidak. Hal yang membedakan adalah masing-masing pribadi punya kemampuan yang berbeda dalam proses belajar tersebut.

Nah, hari Senin buatku saat ini adalah hari yang menyenangkan jadi aku tidak setuju dengan Garfield dan memberi  judul posting ini   I LOVE MONDAYS. Aku sedang belajar beberapa hal dan ingin membagikannya, jadi aku memutuskan untuk menulis lagi dan memberi tag baru I love Mondays.  😉

Nah, kalian sedang belajar tentang apa sekarang ini?

Mau belajar bersamaku?

Yuuukkk….

 

 

Gambar diambil dari sini