jump to navigation

Sampai Masa Tuamu……… October 26, 2010

Posted by tantikris in reflection.
trackback

Belakangan ini ada sesuatu yang selalu mengusik pikiranku. Tiga hari dalam seminggu, pada tiap perjalananku ke kampus di pagi hari, mataku selalu terpaku pada sosok yang ada di traffic light di suatu pertigaan jalan. Seorang nenek yang berperawakan kecil dan kurus agak bungkuk, rambutnya putih disanggul kecil sekadarnya, memakai kain batik dan kebaya katun kusam berdiri menjajakan koran, menghampiri tiap mobil yang berhenti pada waktu lampu merah.

 

Satu saat kulihat dia sedang terbungkuk-bungkuk berlari kecil menawarkan korannya pada mobil-mobil yang sedang berhenti saat lampu merah. Kali lain kulihat dia duduk di pembatas jalan, mengusap keningnya yang berpeluh dengan ujung kebayanya yg lusuh, Tubuhnya tampak renta, wajahnya lelah, kulitnya keriput kecoklatan terpanggang matahari. Dari kejauhan tak bisa kupalingkan pandanganku darinya tanpa membuat mataku menjadi merah, panas, bahkan menitikkan airmata. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, posisiku yang berbelok ke kanan dari pertigaan itu, pada jalur yang berlawanan tidak memungkinkanku untuk mendekatinya, membeli korannya, bahkan untuk sekedar melihat sosoknya dari dekat.

 

Biasanya anak-anak mudalah yang berjualan koran di jalanan, kalau nenek itu memutuskan mengambil pekerjaan ini tentu dia punya alasan tersendiri. Seharusnya ini bukan pekerjaan yang tepat untuknya. Mungkin kalau dia berjualan sesuatu di pasar, atau ditempat yang menetap tidak harus berlari-larian ditengah jalan dibawah terik matahari  Surabaya yang panas seperti ini akan lebih baik untuk fisiknya yang renta. Aku tidak tahu alasannya tapi  aku sangat respek karena dia mencari nafkah dengan cara yang halal. Meskipun, tak bisa kupungkiri hal itu juga yang membuat hatiku seolah  terasa tersayat, mengapa nenek serenta itu masih harus bekerja sekeras itu?

 

Setiap melihatnya berbagai pikiran selalu berkecamuk di benakku : jalanan bukan tempat yang aman untuknya, panas matahari, asap kendaraan bermotor akan mengganggu kesehatannya. Capekkah dia? Apa dia pusing karena kepanasan? Dimana dia berteduh kalau hari hujan? Apa dia sudah makan pagi ini? Berapa banyak rejeki yang didapatnya hari ini? Cukupkah untuk hidupnya? Dimana dia tinggal? Siapa yang merawatnya? Sehatkah dia hari ini? Bahkan menuliskannya lagipun membuat tenggorokanku terasa panas dan tercekat, tak sepantasnya seorang nenek bekerja di jalanan seperti itu.

 

Aku mencoba berpikir positif tentangnya, untuk mengusir kegundahan hatiku. Hanya karena dia renta dan harus bekerja keras bukan berarti dia tidak berbahagia kan? Hati orang siapa yang tahu? Mungkin dia memang miskin harta tapi bisa jadi dia kaya akan kasih sayang dan semangat hidup, itulah yang membuatnya tetap aktif bekerja? Dia pantang untuk meminta-minta, dia tidak minta dikasihani, dia hanya bekerja mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Aku belajar darinya tentang arti giat bekerja dan semangat hidup.

 

Apapun alasannya, kisah nenek ini adalah realita yang ada disekitar kita, dia bukan satu-satunya. Keadaan membuat mereka harus menjalani  masa tuanya dengan bekerja keras mencari nafkah. Dibeberapa negara yang kukunjungi aku memang melihat banyak pula para lansia yang masih bekerja, tetapi pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sesuai dengan kondisi fisiknya, biasanya juga merupakan pekerjaan paruh waktu.

 

Di negara-negara maju para lansia itu  disebut sebagai senior citizen kata itu terasa mengandung suatu penghormatan, dan untuk itulah mereka mendapat perlakuan yang khusus di beberapa sektor publik. Salah satu contoh adalah di kendaraan umum, di luar negeri, deretan kursi yang paling dekat pintu masuk selain diperuntukkan bagi  orang yang punya cacat fisik  juga diutamakan untuk para lansia, hal ini yang belum kutemukan di negara kita tercinta ini. Mereka diberi tempat khusus bukan karena kasihan tetapi merupakan suatu penghargaan,  bentuk ungkapan  memperhatikan kebutuhan mereka sesuai kondisi fisiknya.

Tapi benarkah bangsa kita belum memberikan perhatian pada para lansia?

Dalam hal contoh yang kusebutkan diatas mungkin memang iya, tapi  aku jadi malu sendiri karena baru tahu ada Komnas Lansia setelah menulis posting ini. Tadinya, kritis saja aku berpikir, kalau ada Komnas Anak kenapa tidak ada Komnas Lansia? setelah browsing aku baru tahu ternyata sudah ada, web-nya bisa di klik  disini. Bahkan  setelah kubaca dan kuingat-ingat lagi, ternyata sudah ada dicanangkan Hari Lansia yang diperingati setiap tanggal 29 Mei.  Mungkin memang aku saja yang kurang  memperhatikan.

 

Mengapa para lansia perlu mendapat perhatian?

Karena berdasarkan data di situs itu diketahui bahwa rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia menunjukkan transisi demografi yang cukup signifikan. Pada tahun 2005 rata-rata usia harapan hidup sekitar 67,8 tahun meningkat menjadi 70 tahun antara tahun 2005-2010. Persentase penduduk lanjut usia, yaitu seseorang yang berusia di atas 60 tahun, sekitar 9,5% pada tahun 2005 akan menjadi 11% atau sekitar 28 juta pada tahun 2020 (Bappenas, BPS, dan UNFPA, 2005).

 

Tapi adanya peningkatan rata-rata usia harapan hidup ini juga diikuti dengan berbagai problema kesehatan. Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2002 menunjukkan bahwa penyakit hipertensi berada pada urutan pertama diderita lansia (42,9%), diikuti oleh penyakit sendi (39,6%), anemia (46,3%), dan penyakit jantung dan pembuluh darah (10,7%).

 

Sepanjang pengetahuanku beberapa Rumah Sakit mulai concern terhadap kesehatan lansia dengan adanya unit-unit geriatri yang berfokus pada menjaga kesehatan lansia dengan  pemeriksaan rutin dan bahkan pelayanan home care. Aku sangat menaruh respek pada beberapa dokter kenalanku di Jogjakarta yang mencurahkan perhatiannya pada perawatan kesehatan para lansia ini dengan kunjungan rutin ke rumah. Bagi orang tua, perhatian, tindakan kecil sebagai ungkapan hormat dan rasa kasih sayang sering sudah lebih dari cukup untuk membahagiakannya daripada limpahan materi.

 

Sudah selayaknyalah kita concern dengan lansia ini. Sebagai wujud kepedulian, sama seperti mengasihi dan menghormati orang tua kita. Saat kita kecil, orang tualah yang membesarkan, mendidik dan merawat anaknya dan meskipun tak pernah meminta balasannya, diusia tua layaklah mereka mendapat perhatian dan penghormatan. Saat mereka tak lagi produktif berkarya bukan berarti habis manis sepah dibuang tapi keberadaannya tetap memberi arti bagi dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitarnya dalam berbagai sisi kehidupan,

 

O ya, tentang nenek penjual koran diatas………  pagi tadi aku berhasil menemuinya !!

Aku berangkat lebih pagi dan mengambil rute memutar supaya bisa berada di sisi jalan tempat dia berjualan. Hatiku berdebar-debar saat melihat dia tertatih-tatih bergegas menuju kearahku. Kulihat dengan jelas wajahnya yang keriput, itu ternyata selalu tersenyum saat menjajakan korannya. Saat kuulurkan bungkusan tas plastik padanya ekspresinya tampak kaget sesaat tapi kemudian diterimanya dengan berseri-seri. Bungkusan itu isinya hanya sekotak susu bubuk khusus lansia serta Sari Roti tapi ada sesuatu yang lebih didalamnya yang ingin aku sampaikan padanya. Aku berkata dalam bahasa Jawa kromo : “Ini buat sarapan  mbah, susunya diminum ya biar badannya kuat”, dia mengangguk dan berkali-kali mengucap terima kasih dalam bahasa Jawa kromo pula. Tak sempat kami berbicara lebih lama karena lampu keburu hijau, Kulihat ekspresi wajah dan senyumnya tampak tulus penuh rasa syukur, semoga dia bisa menangkap maksud hatiku menyatakan kasihku padanya .

Nenek ini mungkin tidak tahu bahwa dia telah menjadi inspirasiku tentang arti semangat hidup. Kiranya Tuhan selalu menjaganya dan memberinya damai sejahtera dalam segala kondisi hidupnya. Kuiringkan doa yang sama untuk orang tuaku dan semua lansia disekelilingku. Kalau Tuhan berkenan berikanku umur panjang, ada waktunya nanti aku juga akan menjadi seperti mereka dan aku tahu DIA akan selalu menjagaku. Bila saatnya tiba semoga hidupku tetap berkenan kepadaNYA dan berarti bagi lingkungan sekitarku.

 

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yes 46:4)

Comments»

1. kajo - October 26, 2010

🙂
Berapa ya umur nenek itu kira-kira ? Ups, padahal aku ingin jauh lebih tua lagi. Aku selalu rindu mencapai 120 th ?

Tapi seperti apa aku seumur itu ya ? Siapa yang membawakan susu dan Sari Roti kelak ? Yang pasti bukan Tanti tentunya, karena kita seumur 🙂 . Dan aku juga berdoa supaya tidak perlu ada di pinggir jalan untuk hidup.

Setuju :
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yes 46:4)

tantikris - October 28, 2010

Sampai masa tuamu…..
Hmm…. 120 tahun ya? ok… ok….
Mungkin saat itu cucu atau cicitmu yg akan membawakan susu dan roti, tapi tentu saja tidak di pinggir jalan… hehe

2. DV - October 30, 2010

Ah, feature yang indah, Tanti!
Si Nenek itu telah menjadi saluran berkat bagiMu, ia pasti dipermuliakan dalam kesederhanaannnya…

tantikris - October 30, 2010

Thanks Don.
Kemarin waktu aku lewat lagi di jalan itu aku melihat seorang ibu yang mengemudikan mobil mewah sedang membeli koran nenek itu, dia memberikan selembar uang puluhan ribu dan tidak meminta kembalian. Baik si nenek maupun si ibu pembeli itu tersenyum dengan tulus tampak saling mengormati. Aku senang melihatnya.

Sekarang, kalau lewat jalan itu dan melihatnya aku nggak sedih lagi. Seperti juga aku dan ibu pengemudi mobil itu, nenek itu mungkin juga telah menjadi berkat bagi banyak orang yang lewat dan membeli korannya. Disatu sisi Tuhan juga memberikan berkat padanya melalui orang2 yang membeli korannya.

3. Puak Cullen - November 3, 2010

Wah, sampai juga ‘tangan’mu menyentuhnya.. mbak.
Semoga menjadi inspirasi bagi yang membaca tulisanmu ini..

*well, yang ini -nunjuk diri- masih sibuk dengan diri sendiri*

tantikris - November 3, 2010

Sama kok Puak, aku juga sibuk dengan diriku sendiri, makanya trus ditunjukkan keberadaan nenek ini, biar jadi lebih terbuka mata hatiku.. 🙂

4. christa matita - December 28, 2011

Langkah kecil yang membuat kagum, bukan karena roti dan susu yang adek berikan pada sang nenek tetapi bagaimana memahami perspektif dari sisi yang lain.Hebat sahabat.,,,,,,,,,,,,hebat.GBU

5. gumuxhijack - April 19, 2012

Well, saya sudah melihat beliau berkali2 setiap saya berangkat kekampus. Namun sudah lama saya ngga lihat beliau, karena memang sekarang saya rada malam kalau mau ke jogja.
Setiap kali saya ingin membeli koran beliau, selalu saja lampu hijau menyala terlebih dahulu.
Rasanya jadi pengen nagis tiap melihat metanya yang nemahan getirnya kedaan. Jadi terbayang kalau itu adalah nenek-nenek saya 😦
Ngga cuma itu, saya juga pernah menemui seorang penjual es mambo yang udah lanjut. banyangkan seberapa besar lakunya es mambo, dan saya pikir itu bukan produksi dia.
Kakek2 penjual nasgor depan kontrakan juga ada. Rsaanya menurut saya enak. Tapi sudah lama saya ngga melihat beliau jualan di depan kantor saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: